Reni Politisi Perempuan Berkemauan Keras

890
Bersama Wamenag Zainut Tauhid dan Sekda Kab. Sukabumi Iyo Somantri (batik biru)

Akang Kedah Majeng Deui

MENJELANG Pemilu 2019, dua kali Reni menemui saya. Dia meminta saya untuk nyaleg lagi. “Akang kedah majeng deui,” kata Reni yang selalu optimistik itu.

Menurutnya, perolehan suara saya pada Pemilu 2014 masih bagus. Memang, dengan nawaitu “sedekah suara”, pada Pemilu 2014 saya nyaleg.

Karena niatnya “sedekah suara”, kalau sedang ada rezeki saya jalan menemui konstituen. Jika sedang tidak ada rezeki, saya tidur di rumah. Jika dibanding-banding, prosentase tidur ternyata lebih tinggi daripada menemui konstituen.

Meskipun demikian, perolehan suara saya ternyata masih belasan ribu, peringkat ketiga sesudah Reni dan Lutfi.

Dalam nada yang sangat optimistik, Reni berkata bahwa tanpa bermaksud mendahului ketentuan Allah, jika Jokowi terpilih kembali menjadi Presiden, dirinya berpeluang menjadi menteri.

“Saya lebih ikhlas jika Akang yang menggantikan saya di DPR.”

Alasan bahwa saya sudah tua, ditolak oleh Reni. “Mahathir di usia 90 tahunan masih menjadi Perdana Menteri. Akang pasti jauh lebih muda dari Mahathir,” kata Reni tidak memberi kesempatan kepada saya untuk menangkis.

Akhirnya saya mainkan jurus pamungkas: “Saya tidak punya uang.”

Rupanya jurus pamungkas itupun hendak dia patahkan juga. “Jangan khawatir, saya sudah siapkan anggaran untuk Akang,” ujar Reni sembari menyebut angka.

Saya terpojok. Akhirnya saya katakan, jika memang di daftar caleg PPP harus ada nama “Hakiem”, biarlah anak sulung saya jadi caleg untuk DPRD Kabupaten Sukabumi.

Dengan takdir Allah, pada Pemilu 2019 Reni gagal melenggang ke Senayan. Demikian juga anak sulung saya.

Saya Mau Jadi Professor

SETELAH tidak menjadi anggota parlemen, Reni makin intens berkomunikasi dengan saya.

Suatu kali dia bertanya bagaimana caranya menjadi penulis. Pertanyaan pendek yang sulit saya jawab.

Di ketika yang lain dia mengemukakan hasratnya untuk memiliki semua buku yang saya tulis dan atau saya sunting.

Ketika terbit buku saya Biografi Mohammad Natsir Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan, Reni bersemangat untuk mengadakan bedah buku di Plaza Dakwah, Sukabumi.

Dalam acara bedah buku, Reni yang duduk di sebelah saya menunjukkan catatan yang ditulis tangan dari Biografi Mohammad Natsir. “Banyak pelajaran yang bisa saya ambil, karena itu saya catat supaya tidak lupa,” tutur Reni.

Reni tidak hanya membedah buku saya, dia juga memborong buku dan membagikannya kepada seluruh peserta bedah buku yang jumlahnya cukup banyak.

Di tahun pemilihan kepala daerah (pilkada) ini, saya dorong Reni untuk ikut dalam kontestasi. Reni menolak. Alasan penolakannya, dia ingin fokus menjadi dosen, menulis buku, dan menjadi profesor. “Saya ingin menjadi guru besar,” ujar Reni sungguh-sungguh.

Keinginan mulia, yang tentu saja saya dukung penuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here