PPP Tidak Akan Berubah Kalau Tidak Dimulai dari Pimpinan Daerahnya 

378
Massa pendukung dalam kampanye PPP. (Foto: antara)

Jakarta, Muslim Obsession – Harapan besar agar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kembali menjadi parpol Islam yang berwibawa, disegani dan didukung oleh ulama dan umat pada Pemilu 2024 membutuhkan persyaratan.

Agar PPP bisa bertengger kembali di tiga besar hasil pemenang pemilu secara nasional, hanya mungkin terjadi bila mana seluruh kader terutama pimpinan PPP di semua tingkatan mau melakukan perubahan mindset dalam memilih pemimpinnya di tingkat nasional.

Bila pertimbangan utamanya hanya bersifat pragmatis, jangan harap PPP lolos parliamentary threshold karena PPP lahir dari akar keumatan yang bersifat ideologis. Apalagi diketahui, ada lembaga penelitian yang merilis hasil survei dan menempatkan PPP tidak akan lolos Pemilu 2024.

“Sesungguhnya PPP itu partai ideologis yang memiliki jati diri perjuangan. Itulah kekuatan PPP. Bila jati diri yang tercermin dalam enam prinsip perjuangan partai ditinggalkan para pemimpinnya, otomatis PPP tercerabut dari akar keumatan,” tandas Ketua Umum Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) Usamah Hisyam menjawab pertanyaan Muslim Obsession usai Shalat Jumat di Masjid Al-Azhar BSD City, Tangerang Selatan, Jumat (20/11/2020).

Usamah mengingatkan, kepemimpinan partai di tingkat nasional yang ideologis hanya dapat dilahirkan dari pilihan Muktamirin yang merupakan pimpinan partai di tingkat daerah sebqgai pemilik hak suara.

Namun jika mindset mayoritas pimpinan partai di daerah pragmatis, tegasnya, jangan harap akan melahirkan pemimpin ideologis di tingkat nasional.

“Kenyataan selama ini, hanya akan melahirkan pemimpin yang berurusan dengan KPK,” ungkap mantan anggota FPP DPR RI (1997-1999) ini, sekaligus menanggapi prospek kepemimpinan PPP menjelang Muktamar IX PPP di Makassar 19 Desember mendatang.

Oleh karenanya, masa depan kepemimpinan PPP lebih bergantung pada sikap para pimpinan daerah, apakah mereka mau mengubah mindset-nya dalam memilih pemimpin atau tidak.

“Saya mendengar, ada kandidat yang sudah membagi-bagi uang dalam pertemuan di zona-zona. Bahkan saya juga mendapat info kandidat lain yang punya akar keumatan dan mindset ideologis seperti Gus Yasin Maimoen Zubair, bakal dijegal melalui Tatib karena belum pernah menjadi pengurus DPP,” ujar Usamah.

Karena itu, Usamah menegaskan, kepemimpinan PPP yang ideologis pasca Muktamar hanya bisa berubah bila para pemimpin daerah juga berani melakukam perlawanan untuk perubahan masa depan partai menjadi lebih baik.

“Pilih mana, model kepemimpinan pragmatis, saat muktamar dapet 25-50 juta, tapi suara merosot tajam, tak satupun pimpinan DPC yang terpilih menjadi anggota DPRD/DPR, atau memilih pemimpin ideologis yang dapat mengembalikan jati diri partai hingga raih kursi DPRD/DPR, tapi dalam Muktamar tak menerima fulus? Allahul musta’an,” tandas Usamah. (Mam)

1 KOMENTAR

  1. Pendekatan pragmatis sepertinya menjadi sebuah kelaziman. Sementara tanggungjawab terhadap PPP yang diletakan dalam AD ART sebagai landasan hukum, serta pemilik keuasaan itu sendiri rakyat. Cukup terbukti mengabaikannya. Padahal tahu hal itu adalah Amanah. Hianat dengan amanah hanya kenistaan yang dirasakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here