Polemik Lagu “Yaa Lal Wathan”, Agus Maftuh Angkat Bicara

863
Jamaah Umrah dari Indonesia Melantunkan "Yaa Lal Wathan" Saat Saí

Jakarta, Muslim Obsession – Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel akhirnya berkomentar terkait video viral yang menayangkan lantunan “Yaa Lal Wathan” oleh sejumlah jamaah umrah Indonesia yang tengah menjalankan ibadah sa’i.

Lewat status di laman Facebook miliknya, ia menyampaikan lika-liku diplomasi antar negara. Tidak hanya itu, dubes juga menulis 7 butir pesan untuk masyarakat Indonesia.

“Diplomasi itu seperti pacaran sampai pernikahan. Ada suka, ceria penuh canda, cemburu dan bahkan jengkel. Komunikasi pun terkadang izhar (keras), ikhfa’( samar-samar campur ngeles), iqlab (menemukan titik temu meski masih banyak perbedaan) dan Izgham (ketika semua sudah menyatu dan melebur serta menyatunya visi),” tulisnya, Rabu (28/2/2018).

Dalam diplomasi, menurut Agus ada cipika cipiki, ada cemberut dan ada tukar menukar nota protes.

“KBRI juga sering menebar nota protes untuk menagih gaji saudara-saudara kita para expat yang tahun 2017 kemarin cair 40 Milyar (1 Rupiah pun KBRI tidak ambil sebagai jasa Debt Collector),” kata Agus.

Ia menambahkan, ada juga kejengkelan diplomatik, sampai Dubes harus dipanggil (protes super keras) untuk dimintai klarifikasi.

“Untuk yang terakhir ini, kebanyakan bukan disebabkan oleh ulah Dubes dan jajarannya. Tapi karena ulah saudara-saudara kita yang dinilai oleh Negara akreditasi (Saudi) sebagai sesuatu yang menyakitkan,” ujar Agus.

Menurutnya, ini tidak hanya terbatas WNI di Saudi saja. Tetapi justru juga karena aksi WNI yang ada di Indonesia.

“Ini pernah saya alami beberapa bulan lalu, dipanggil mendadak oleh Kerajaan Arab Saudi. Karena ada sebuah seminar yang diadakan di Jakarta yang hasil rekomendasinya mendiskreditkan dan mengganggu kedaulatan Saudi. Alhamdulillah dengan sedikit pakai ilmu “balaghah” saya jelaskan dan selesai alias beres,” tandasnya.

Terkait video viral tentang aksi “tak lazim” di pelataran tempat sai (mas’a), Dubes Agus mengatakan belum dipanggil pihak Saudi. Namun, Agus mengaku diserang dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.

“Saya belum digempur dengan “Nota Protes” tetapi baru pada fase via telpon dan alhamdulillah setelah saya jelaskan kepada KSA mereka mulai bisa memahami. Meski mereka luncurkan seabreg pertanyaan yang harus dijawab,” tutur Agus.

Mereka meminta kepastian kepada Agus, agar kejadian tersebut tidak terulang dan menekan Agus sebagai pelayan WNI di Saudi untuk menyampaikan dan mengajarkan rambu-rambu diplomatik yang harus dijunjung bersama.

Agus juga mengunggah sebuah gambar dengan teks bahasa Arab, terkait koridor etika diplomasi.

Sebagai Dubes RI di Arab Saudi, Agus merasa harus menyampaikan pesan sekaligus teguran kepada seluruh masyarakat Indonesia. Berikut 7 butir pesan Agus yang ia tulis:

1. Sebagai Pelayan Ekspatriat Indonesia (Indonesiyyin Mughtaribin) di Arab Saudi, saya Dubes LBBP RI, Agus Maftuh Abegebriel menyayangkan terjadinya aksi yang “tidak biasa” di Mas’a (tempat melakukan ibadah Sa’i) yang dilakukan oleh segelintir jamaah umrah Indonesia;

2. Semua WNI yang berada di Arab Saudi baik yang tinggal (muqimin), umrah, haji atau yang sedang berkunjung secara otomatis akan menjadi tanggung jawab KBRI untuk memberikan perlindungan dan pengayoman kepada mereka.

3. Dan jika ada WNI di Arab Saudi ini melakukan tindakan yang keluar dari kepatutan dan menabrak rambu-rambu diplomatik, maka secara diplomatik yang akan diprotes pertama kali oleh Kerajaan Arab Saudi adalah Dubes RI sebagai Pelayan Ekspatriat Indonesia di Arab Saudi;

4. Aksi di Mas’a tersebut berpotensi -sekali lagi- berpotensi mengganggu hubungan diplomatik Indonesia – Arab Saudi (SAUNESIA) yang saat ini sedang berada di masa keemasan (Al-Ashr Al-Zahabiy Al-Muzahhab). 

5. Kepada seluruh Ekspatriat Indonesia yang sedang atau akan berkunjung ke Arab Saudi, dihimbau untuk mematuhi hukum, peraturan dan kepatutan yang berlaku di Arab Saudi. 

6. Kerajaan Arab Saudi melarang keras segala bentuk politisasi Umrah ataupun Haji. 

7. Jika WNI ingin berkreasi, maka KBRI siap memfasilitasi dengan catatan kreasi dan aksi tersebut dilakukan di dalam tembok KBRI yang merupakan wilayah penuh Republik Indonesia serta memiliki kekebalan diplomatik.

Satu CM (centimeter) di luar tembok KBRI itu sudah masuk wilayah kedaulatan Saudi Arabia yang harus tunduk pada hukum, aturan dan norma Saudi (pernah saya pesankan kepada rombongan jamaah umrah). 

Yang terakhir, kami semua yang di KBRI menit dan detik ini pikiran dan usaha keras sedang kami fokuskan untuk menyelamatkan nyawa beberapa WNI yang terkena hukuman mati. Kami sedang ikhtiar melakukan PK (Peninjauan Kembali, I’adatun Nazar) dan PK ini adalah yang pertama kali dalam sejarah KBRI Riyadh.

Mohon kami didoakan kepada Alloh agar semua ikhtiar ini dimudahkan sebagai Khidmah kemanusiaan KBRI Riyadh dan jangan bebani kami dengan hal2 yg seharusnya tidak perlu terjadi.

Suwun

Saya tulis di Pattani, Thailand dalam tugas bersama Dubes-dubes OKI untuk menyapa saudara-saudara muslim kita di Southern Border Provinces. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here