Pesantren dan Pembangunan Bangsa

307

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam/LKPI PP Parmusi)

Di saat para Santri memperingati hari Santri, dunia pesantren berduka dengan wafatnya Tokoh Pesantren yang juga Salah satu Pimpinan Pondok Moderen Gontor, Syaikh Dr(HC) KH Syukri Zarkasyi, MA رحمه الله رحمة واسعة…

Di sisi lain, sebagai santri kita juga tetap dan terus berbangga. Diantaranya, kemarin saya membaca salahsatu artikel yang menceritakan bahwa, tujuh puluhan tahun lalu, sebuah madrasah sederhana didirikan di daerah Petunduhan, Jakarta Pusat.

Madrasah Islamiyah namanya, berdiri di atas lahan seluas 500 meter. Madrasah yang didirikan KH Abdul Manaf ini merupakan cikal bakal lahirnya Pondok Pesantren Darunnajah yang kini berlokasi di Ulujami,  Pesanggrahan, Jakarta Selatan, yang mengasuh lebih dari delapan ribuan santri.

Ternyata, setelah hijrah dari Petunduhan ke Pesanggarahan, sepetak tanah itu kemudian bertransformasi menjadi sebuah gedung megah pada 1959. Gedung tersebut kita kenal sebagai gedung pura-pura…ups…….gedung kura-kura alias Gedung DPR – MPR dan DPD sekarang di Senayan itu.

Jika demikian, kita semua berharap agar siapapun yang duduk dan berkantor di sana, hendaknya mewarisi spirit dari Madrasah cikal bakal salah satu pesantren besar di Indonesia itu.

Betapa zhalim dan ‘kualatnya’, jika dari tempat ini akan lahir undang-undang yang akan mengkebiri bahkan mematikan warisan para Kiyai, bahkan Syuhada the founding father Bangsa berketuhanan yang Maha Esa ini.

Pesantren seseungguhnya dihadirkan untuk membela bangsa, memperjuangkan kemerdekaan, dan melawan penjajahan. Dan selanjutnya para santri sebagai produk pesantren, memainkan perannya dalam mengisi dan mensyukuri nikmat kemerdekaan dalam semua lini atau sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Banyak santri yang sudah terlihat karya dan perjuangannya dalam membangun negri yang di awal pembukaan undang-undang dasarnya disebut atas berkah rahmat Alláh Yang Maha Kuasa ini.

Di antara yang paling terlihat saat ini adalah Wakil Presiden, semoga beliau dapat berkiprah lebih maksimal dan nyata, sekurang-kurangnya dalam pembangunan sumber daya Insani dari dunia pesantren khususnya juga dunia pendidikan pada umumnya.

*****

Hari ini adalah hari SANTRI, sebagai  orang yang lama nyantri, bahkan sampai saat ini lebih enjoy menyebut diri Santri, tentu agak janggal kalau tdk mengerti asal usul kata SANTRI.

Dari bahasa mana sih…? Berikut beberapa pendapat tentang kata santri.

  1. SANTRI dari bahasa Tamil artinya guru (mentor) ngaji.
  2. SHASTRI, bahasa India artinya orang melek huruf atau tidak buta huruf.
  3. CANTRIK bahasa Sangsekerta artinya orang yang selalu ikut gurunya,mengikuti arahan mentornya.
  4. SAINT (orang suci) dan TRA (suka menolong)
  5. SUN (matahari) THREE (tiga, Iman, Islam dan Ihsan).

Ada fenomena menarik di masyarakat saat ini, dimana banyak orangtua yang tertarik menyekolahkan anaknya di Pesantren, itu esensinya/artinya pesantren telah mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Meskipun tidak semua alumni pesantren itu jadi orang baik, namun at least sebagai orangtua telah menunaikan kewajibannya untuk mengajari anak anak mereka ilmu agama.

Ada juga orangtua yang sebenarnya sangat ingin memasukkan anaknya ke pesantren namun tidak kuat berpisah dengan anaknya, padahal pada waktunya nanti akan berpisah juga atau sebaliknya, anaknya yang tak ingin berpisah.

Nah mudah-mudahan tidak ada orangtua yang memasukkan anaknya ke pesantren hanya karena tidak mau repot ngurus anak-anak di rumah.

Selamat Hari Santri Nasional 2020.

Wallahu a’lam bish shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here