Persamaan dan Perbedaan Haji Sebelum dan Sesudah Islam

80

Jakarta, Muslim Obsession – Ngomongin soal ibadah haji yang tahun ini dilaksanakan secara terbatas, sahabat Muslim mungkin pernah dengar bahwa haji adalah salah satu ibadah tertua loh. Ibadah haji sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim AS ketika Ka’bah dibangun olehnya.

Haji sudah menjadi ibadah wajib yang dilakukan masyarakat Arab setiap tahunnya. Namun tentunya, ibadah haji yang dilaksanakan sebelum dan sesudah adanya Islam ada perbedaan dan persamaan.

Merujuk buku Makkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim, setidaknya ada dua perbedaan dalam pelaksanaan ibadah haji pada periode pra-Islam dan periode Islam. Perbedaan itu terlihat pertama dari tempat haji.

Pada periode pra-Islam, orang yang mengerjakan ibadah haji hanya berpusat di Ka’bah. Mereka menganggap bahwa hanya Ka’bah lah yang sakral, sementara tempat lainnya tidak.

Sementara pada periode Islam, ibadah haji tidak hanya berpusat di Ka’bah, tapi juga di tempat-tempat lainnya seperti Arafah. Rasulullah menyebutkan secara eksplisit bahwa haji adalah Arafah.

Maka tidak heran jika puncak dari pelaksanaan haji umat Islam (periode Islam) adalah menetap (wukuf) dan berdoa di Padang Arafah pada sembilan Dzulhijjah. Haji mereka tidak sempurna kalau tidak menetap di Padang Arafah.

Selain itu, haji pada periode Islam juga mengunjungi situs-situs lainnya seperti Mina untuk melempar jumrah, Muzdalifah untuk daerah menginap (mabit), bukit Safa dan Marwah sebagai tempat Sa’i. Kedua, waktu haji.

Sedangkan umat sebelum Islam melaksanakan ibadah haji pada saat musim panen. Alasannya, mereka bisa menunaikan ibadah haji sekaligus menjual hasil panennya di Makkah.

Perlu diketahui bahwa dulu orang datang ke Makkah dengan berbagai macam tujuan; ada yang ingin berhaji, ada yang ingin berhaji dan berdagang, ada yang ingin menyebarkan agamanya, ada ada pula yang datang ke Makkah untuk membaca puisi.

Mereka yang berhaji pada musim panen biasanya datang dari wilayah Yaman dimana sektor pertaniannya cukup berkembang. Adapun haji pada periode Islam dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah. Yakni mulai dari tanggal delapan hingga 13 Dzulhijjah.

Ini adalah waktu yang pakem dan sudah ditentukan oleh Allah. Tidak bisa dirubah-rubah lagi. Selama itu, jamaah haji melaksanakan serangkaian ritual ibadah haji seperti tawaf di Ka`bah, berjalan-jalan kecil (sa`i) di Mas`a (Safa dan Marwa), menetap (wukuf) di Padang Arafah, menginap (mabit) di Muzdalifah, dan melempar jumrah di Mina.

Singkatnya, pada saat Islam datang, ritual ibadah haji mengalami penyempurnaan. Sedangkan persamaannya adalah –haji pra-Islam dan periode Islam sama-sama, mampu membangkitkan gairah perekonomian, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar Makkah.

Selain itu, haji juga menjadi ajang pertemuan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Meski beda bahasa, budaya, ras, etnik, dan warna kulit, namun mereka berkumpul di satu titik untuk menunaikan ibadah haji. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here