Perjuangan Matori, Sang Pelayan Tamu Allah dari Ujung Timur Indonesia

359

Jakarta, Muslim Obsession — Menunaikan ibadah haji ke Makkah merupakan impian setiap Muslim, apalagi menjadi pelayan tamu Allah. Hal ini juga yang dirasakan oleh Matori.

Kala itu, Matori tengah berada di kantornya ketika telepon genggamnya berdering. Kawannya di Kabupaten Waropen, Papua, menghubungi, memberi info seleksi petugas haji oleh Kementerian Agama.

Tanpa pikir panjang, Matori mengiyakan dan bergegas mengumpulkan berkas.
Mimpi jadi petugas haji telah digenggam pria 43 tahun ini sejak lama. Ini kesempatan emas yang tidak datang dua kali.

Berbagai perjuangan Matori berikutnya yang akhirnya mengantarkannya jadi petugas haji 2019.

“Saya banyak bersyukur. Padahal saya jauh dari kota, harapannya tipis, ini suatu anugrah yang luar biasa,” kata Matori di Asrama Haji, Pondok Gede, Ahad (28/4).

Matori adalah satu-satunya penghulu di Kantor Urusan Agama di Kabupaten Waropen, Papua. Dengan luas 10 ribu km persegi, wilayah Waropen hanya berpopulasi 30 ribu orang. Tugasnya adalah menikahkan warga atau memberi bimbingan Islam.

Dalam menjalankan tugasnya, tidak jarang dia harus menempuh perjalanan berjam-jam menuju pelosok Waropen yang tidak punya akses darat.

“Hanya tiga distrik di Waropen yang tersambung dengan jalur darat, sisanya hutan,” kata ayah dua anak ini.

Sudah tinggal selama 17 tahun di Waropen, pria kelahiran Boyolali ini mencurahkan segenap tenaganya untuk bisa lolos tes petugas haji. Bukan soal tes haji yang berat baginya, karena soal manasik dan regulasi haji sudah dihafal, tapi perjalanan menuju lokasi tes.

Satu Pelayaran, Dua Penerbangan

Tes dilakukan pertengahan Maret lalu hanya di Jayapura. Untuk menuju ibu kota Papua itu, Matori harus menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari tempatnya tinggal, ratusan kilometer jauhnya. Pulang-pergi bisa 12 jam.

Dia harus menggunakan mobil pick-up dari rumahnya, disambung lagi dengan kapal, lalu dua kali penerbangan. Ongkos perjalanan lebih dari Rp 2 juta.

“Kalau pakai kapal kayu biasa, sekitar 4 jam. Kapal cepat 1 jam, tergantung jadwal yang ada. Naik pesawat dari Serui ke Biak, dari Biak ke Jayapura. Sebenarnya ada kapal 18 jam perjalanan dari Pelabuhan Serui ke Jayapura,” ujar Matori seperti dilansir Ditjen PHU.

Alhamdulillah, upaya kerasnya berbuah manis. Matori menjadi satu dari 5 orang dari Kemenag Papua yang lolos tes dan jadi bagian dari seksi bimbingan dan ibadah (Bimbad) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Total ada 50 orang yang ikut tes tersebut di Jayapura.

“Begitu lulus, pertama kali yang saya beritahu adalah istri saya. Setelah itu orangtua saya di Boyolali,” kata Matori.

Perjalanan panjang ke Jayapura diulangi lagi ketika dia harus buat paspor. Pekan ini, dia juga harus menempuh penerbangan panjang ke Jakarta untuk pembekalan petugas haji di Asrama Haji.

Tapi lelah itu sirna ketika dia membayangkan berada di tanah suci Makkah dan Madinah. Niat ibadah haji itu pasti, namun yang terutama baginya adalah menjalankan tugas sebagai petugas bagi 231.000 jamaah Indonesia.

“Saya sebagai pegawai negeri ingin menyukseskan penyelenggaraan ibadah haji 2019,” kata Matori.

Matori adalah bagian dari 1.108 petugas haji PPIH Arab Saudi yang terpilih dari seluruh Indonesia. Para petugas haji ini telah melalui seleksi ketat dari berbagai instansi Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan militer.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here