Penyintas COVID-19 Bagikan Pengalaman Menarik di Webinar ARM HAIPB

40

Bogor, Muslim Obsession – Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (ARM HAIPB) menggelar webinar bertajuk “Perilaku Hidup Aman dan Sehat Saat Pandemi, Belajar dari Para Penyintas COVID-19” pada Sabtu (10/10/2020).

Narasumber acara tersebut Ir. Imam Teguh Saptono, MM (Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia) dan Lely Pelitasari SP, ME (Wakil Ketua Ombudsman RI) selaku penyintas, serta Juhaeri Muchtar Ph.D (Vice Presiden Sanofi) selaku pakar epidemiologi.

Sekitar 250 peserta mengikuti webinar yang dipandu CEO Kubik Leadership Jamil Azzaini. Ada peserta mengaku sedang isolasi mandiri, selain juga survivor Covid-19.

Ketua HA IPB Fathan Kamil dalam sambutannya mengatakan, webinar ini  bagian dari komitmen Himpunan Alumni IPB dalam berkhidmad kepada bangsa.

“Di saat kondisi bangsa yang cukup memprihatinkan sementara negara dalam keterbatasan, harus ada inisiatif dari komponen bangsa untuk berkontribusi, jadi kita ingin menyebarkan energi positif melalui acara ini,” ujarnya membuka diskusi.

Diskusi diawali dengan kisah Lely Pelitasari yang positif Covid-19 di awal pandemi. Mulanya, Lely mengaku tidak percaya karena kondisi badannya tanpa gejala.

“Saya di swab bukan karena sakit tetapi karena prokoler, namun ketika rumah sakit mengabarkan positif saya sempat kaget, khawatir orang-orang di rumah dan lingkungan kantor juga kena,” katanya. Meski demikian, Lely berusaha tidak panik. “Kalau saya panik keluarga akan lebih panik lagi,” tuturnya.

Dalam masa isolasi di rumah sakit selama 14 hari, Lely merasa badan hangat dan sakit tenggorokan. Karenanya, ia selalu menyediakan air panas dan madu serta air garam untuk meredakan sakit tenggorokan.

“Selama isolasi yang membuat drop itu pikiran, dan itu berdampak ke fisik. Jadi, kita harus berusaha jangan panik,” tuturnya.

Lely mengaku banyak hikmah yang didapat setelah sembuh. Ia lebih peduli kepada sesama dan peduli tentang kesehatan dengan mengubah gaya hidup.

“Selama bekerja di Ombudsman saya jarang olahraga, sekarang saya harus terus berolahraga. Jadi jaga raga jaga jiwa, setiap malam sebelum tidur saya selalu membaca Qur’an, kondisi lebih tenang dan bangun pagi badan juga lebih enak,” ungkapnya.

Lain cerita, pengalaman Imam Teguh Saptono saat terkena virus Corona kondisinya cukup parah. Padahal Imam termasuk orang yang peduli dengan kesehatan, ia rutin dua kali seminggu berolahraga dan selalu cek kesehatan setiap tahun.

“Saya percaya Covid ini ringan karena merasa badan kuat, bahkan sebelum viral obat-obat yang bisa mengatasi Covid seperti probiotik itu saya sudah minum, termasuk vitamin, madu, habat juga saya minum. Apalagi saya termasuk percaya teori konspirasi walaupun tetap percaya bahwa Covid itu ada. Jadi dengan keyakinan itu saya punya perasaan menyangkal bisa terkena Covid,” tuturnya.

Saat terkena virus, Imam merasakan sesak nafas, badan menggigil dan sulit tidur, selera makannya pun hilang. Ketika itu, dokter memasang ventilator untuk membantu pernafasannya.

“Dan saya sempat diare di malam hari, jadi tidak bisa tidur, badan pun lemas dan ‘kunang-kunang’. Di saat kondisi kritis saya sudah tidak bisa mengangkat tangan, namun masih bisa menanyakan hari. Saya ingat ketika itu Kamis dan kalaupun harus meninggal saya berharap besoknya (Jumat). Kemudian saya pun minta video call ke istri dan keluarga untuk minta maaf dan minta terus didoakan,” kata Imam.

“Dan bagi seorang Muslim saat itu posisi saya merasa sedang di tengah-tengah antara yakin akan rahmat Allah namun ada ketakutan karena merasa kurang taat,” tambahnya.

Kondisi makin parah, kaki tangan sempat diikat dan badan sudah banyak kabel.

“Mesin berkontribusi 80%, paru-paru tertutup, laju endap darah maksimal 300 saya sampai 3.000, saya juga terkena sindrom badai sitokin yang itu bisa membahayakan organ-organ lain. Saya merasa saat itulah titik terendah, namun alhamdulillah dengan banyak berdoa saya bisa melewati itu dan berangsur sembuh,” ujar mantan Dirut BNI Syariah tersebut.

Bahkan, lanjut Imam, ia termasuk pasien yang mampu melewati masa kritis dengan cepat. “Biasanya pasien memakai ventilator selama seminggu sampai dua minggu, tetapi saya hanya empat hari. Kata dokter, rata-rata cuma 3 dari 5 orang yang bangun (selamat) pasca ventilator,” katanya.

Salah satu yang membuatnya sembuh adalah penyemangat dari keluarga dan sahabat. Imam dikirimi video dan pesan suara dari sang istri, keluarga dan para sahabatnya. Mereka memberikan semangat dan mendoakan Imam cepat sembuh.

“Saya menilai virus ini punya ‘surat tugas’ masing-masing, sudah ada yang ditujunya. Keluarga dan teman yang sebelumnya aktivitas bersama semuanya negatif. Jadi jangan panik tapi juga jangan anggap enteng. Menjaga protokol kesehatan adalah wajib karena itu wujud kesyukuran, karena menjaga kesehatan adalah wujud syukur kepada Allah,” tandas Imam.

Berikutnya, informasi seputar virus Covid-19 disampaikan oleh pakar evidomologi Juhaeri Muchtar. Ia alumni IPB yang saat ini menetap di Amerika Serikat dan menjadi Vice Presiden Sanofi, salah satu perusahaan farmasi terbesar di dunia.

Juhaeri membandingkan menurut angka insidensi, di Indonesia dari 10 ribu penduduk 12 orang yang positif dengan di Amerika dari 10 ribu penduduk 230 yang positif. Sementara tingkat kematian di Indonesia 3,6 % lebih tinggi dari Amerika 2,7 %.

“Dengan jumlah penduduk yang sama-sama banyak, apakah itu menunjukkan bahwa deteksi, isolasi atau treatment kita lebih baik atau imunitas warga Indonesia lebih kuat atau mungkin sistem deteksi yang belum lengkap,” kata dia.

Terkait vaksin, Juhaeri mengingatkan agar jangan terlalu cepat meyakini karena harus benar-benar diuji.

“Di Oxford sudah sempat didengung-dengungkan penemuan vaksinnya tapi ternyata masih ada efek negatifnya yang berbahaya, itu sebagai contoh. Produksi harus melalui beberapa tahap dan itu perlu waktu, dan kita berharap mudah-mudahan vaksin segera hadir namun menurut saya pertengahan 2021 baru ada,” ungkapnya.

Ia khawatir jika terburu-buru meyakini vaksin, masyarakat menjadi eforia sehingga mengabaikan protokol kesehatan.

“Saya mengingatkan seandainya sudah ada vaksin kita tetap memakai protokol kesehatan,” pesannya.

Dalam menghadapi pandemi saat ini, Juhaeri menyampaikan tiga pesan sebagai kalimat penutup.

Pertama, adaptasi dengan kehidupan. “Gaya hidup harus diperbaiki, hubungan dengan Tuhan perbaiki, dengan sesama manusia juga diperbaiki,” pesannya.

Yang kedua, kita harus tahan banting, karena menurut Juhaeri masa pandemi ini masih panjang. Dan yang ketiga, jangan berhenti berusaha. Semua pihak harus terus berupaya agar pandemi ini bisa segera berlalu.

Acara diskusi semakin menarik dengan adanya pengalaman dari Prof Roy Sembel saat terkena Covid di Amerika dan cerita Artati Widiarti, Dirjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang saat ini masih menjalani isolasi karena positif COVID-19. Dari pengalaman keduanya disimpulkan bahwa sikap positif sangat diperlukan untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Lebih seratus chat komentar ditulis peserta. Umumnya mereka merasa sangat beruntung bisa mengikuti diskusi online ini. Mereka berharap diskusi semacam ini bisa diadakan kembali oleh ARM HA IPB.

Diskusi ditutup oleh moderator Jamil Azzaini dengan mengajak semua pihak mendekat kepada Tuhan yang Maha Kuasa agar memberikan pertolongannya untuk kita semua. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here