Pemilihan Rais Aam dan Ketum PBNU Digelar Hari Ini

89

Jakarta, Muslim Obsession – Agenda Muktamar NU ke-34 di Lampung pada hari ini, Kamis (23/12) dijadwalkan bakal memilih Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026.

Berdasarkan urutan acara Muktamar ke-34 NU yang diterima dari panitia, sekitar pukul 15.30 WIB akan digelar Sidang Pleno IV untuk menghitung dan menetapkan 9 ulama sepuh NU yang akan bergabung dalam formatur Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) atau tim pemilih Rais Aam PBNU.

Diketahui, jabatan Rais Aam PBNU dipilih melalui musyawarah mufakat dengan sistem Ahwa.

“Pemilihan usulan 9 kiai calon formatur yang akan tergabung dalam Ahwa sudah dilakukan sejak kemarin. Yang punya hak memilih 9 nama ini PWNU, PCNU dan PCINU,” kata Sekretaris Panitia Muktamar Syahrizal Syarief, semalam (22/12).

Setelah diketahui 9 nama ulama yang tergabung dalam Ahwa, mereka akan menggelar musyawarah untuk menunjuk Rais Aam PBNU. Agenda ini direncanakan digelar pada pukul 20.30 WIB. Setelah itu, hasil siapa Rais Aam PBNU terpilih akan diketahui.

Setelahnya, sekitar pukul 21.30 WIB akan digelar Sidang Pleno V. Sidang pleno ini memiliki agenda untuk memilih Ketum PBNU. Setelah dipilih peserta muktamirin, Rapat Pleno V akan mengesahkan Ketua Umum PBNU terpilih.

Lokasi pemilihan Ketum PBNU disepakati untuk dipindahkan ke Bandar Lampung. Awalnya, direncanakan proses pemilihan Ketum akan digelar di Pondok Pesantren Darussa’adah, Lampung Tengah, Lampung.

Selain membahas pelbagai persoalan kebangsaan dan keumatan, salah satu agenda yang paling dinanti dalam Muktamar NU adalah suksesi Ketua Umum PBNU masa bakti 2021-2026.

Terdapat dua nama yang telah mengumumkan akan maju dalam bursa calon Ketum PBNU. Mereka adalah Ketum petahana Said Aqil Siraj dan Katib Aam Yahya Cholil Staquf.

Dalam sambutannya saat membuka muktamar kemarin, Rais Aam PBNU saat ini, Miftahul Akhyar berkali-kali bicara soal tongkat komando.

Kala itu dalam sambutannya usai pidato Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, Miftahul berpendapat NU didirikan bukan hanya untuk menjaga ajaran ahlussunnah wal jamaah, memperbanyak organisasi di tengah masyarakat, namun juga menegakkan tongkat komando kepemimpinan.

“Itulah yang diharapkan oleh para pendiri NU. Agar kelahiran NU buka memperbanyak jumlah organisasi di masyarakat, di samping menjaga nilai ahlussunah waljamaah, kita juga diharapkan menjadi tongkat sakti Nabi Musa,” ujar Miftahul.

Dia mengatakan semua kader harus memegang prinsip tongkat komando. Menurutnya, siapapun kader NU berhak berkiprah dalam segala bidang mulai anggota legislatif, atau menduduki posisi jabatan publik apapun bukanlah tujuan. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here