Natsir adalah Sejarah Besar, Teladan Ideal

70
Mohammad Natsir (Foto: Istimewa)

Oleh: Wildan Hasan (Aktivis Persatuan Islam dan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Sebagai peminat pemikiran Mohammad Natsir, cukup banyak bukunya yang telah saya baca maupun buku-buku tentang dirinya. Di rumah ada satu lemari khusus yang saya namakan NATSIR CORNER yang hanya berisikan buku-buku Natsir dan buku-buku tentang Natsir.

Mendapati buku ini, saya hampir sampai pada kesimpulan yang sama dengan Prof. Bakhtiar Effendy bahwa rasanya sudah tidak diperlukan lagi uraian mengenai Mohammad Natsir meski hanya sehalaman dua halaman. Begitu pula saat saya bincangkan terkait terbitnya buku ini kepada sesama predator buku. Dia bilang, “isinya paling itu-itu saja.”

Tapi saya nyatanya mendapatkan sesuatu yang berbeda dan istimewa. Salah satu faktor pembedanya adalah buku ini ditulis oleh orang yang punya kedekatan pribadi dan intelektual dengan Natsir. Lebihnya lagi beliau ini adalah jurnalis andal yang membuat kita ringan saja menikmati buku ini tanpa harus kerut merut.

Dari perkenalan saya dengan beliau, Bang Lukman Hakiem adalah juga murid dan staf Pak Natsir dalam waktu yang cukup lama, redaktur majalah Media Dakwah di bawah pimpinan Natsir. Beliau juga aktivis Islam yang senafas dengan gurunya itu, pun beliau terlibat langsung dalam dinamika perjuangan politik dan dakwah Islam tanah air. So, inilah yang membuat buku ini bernafas.

Saya kira buku ini adalah buku yang paling komprehensif yang berbicara tentang Natsir. Bicara dari A sampai Z kehidupan, kepribadian, pemikiran dan perjuangannya. Konsekuensinya di sisi lain pemikiran pemikiran Natsir yang begitu kaya tidak dapat dielaborasi dengan sangat mendalam. Bisa dipahami, karena kalau itu dilakukan buku ini akan berjilid-jilid banyaknya. Banyak pertimbangan tentu saja kenapa buku tentang Natsir ini tidak dibuat berjilid-jilid.

Memang masih ada beberapa kesalahan ketik yang semestinya bisa dihindari. Tapi karena waktu yang terbatas, mungkin tidak banyak waktu untuk mengedit tulisan lebih maksimal. Namun seperti yang dikutip Bang Lukman, buku yang sempurna adalah buku yang tidak pernah diterbitkan. Harapannya di cetakan berikutnya bisa diperbaiki agar menikmati buku gurih ini bisa semakin khusyu’ dan tuma’ninah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here