Museum Nasional Australia Suguhkan Pameran Bernuansa Budaya Islam

546
Dala'il al-Khayrat karya Abu Abdullah Muhammad ibn Sulayman-al-Jazuli. (Sharjah Museum of Islamic Civilization, Sharjah Museum Authority, 2006_2181)

Jakarta, Muslim Obsession – Kain sulam dari Uzbekistan, alat musik dari Maroko dan pelana kuda dari Afrika Utara merupakan sebagian dari karya budaya Islam yang kini dipamerkan di National Museum of Australia (NMA) di Canberra.

Pameran bertajuk ‘So That You Might Know Each Other: Faith and Culture in Islam’ menampilkan benda-benda budaya dari dua museum, yaitu Vatican Anima Mundi Museum of World Arts and Cultures serta Sharjah Museum of Islamic Civilisation.

Pameran ini menampilkan lebih dari 100 artefak berharga dari abad ke-18 hingga abad ke-20 dari lebih dari 20 negara. Pameran akan berlangsung hingga 22 Juli 2018.

Kain Suzani yang disulam dari Bukhara, Uzbekistan. (Vatican Anima Mundi Museum Inv 112536)

Direktur NMA Mathew Trinca menjelaskan ini pertama kalinya banyak objek akan dipamerkan di luar museumnya sendiri.

“Banyak benda-benda indah dalam pameran ini dari seluruh dunia Islam. Mereka semuanya merupakan benda-benda yang cukup mempesona,” kata Trinca, sebagaimana dikutip dari National Geographic, Kamis (26/4/2018).

Dr Trinca berharap pameran ini akan menginspirasi para penonton untuk “terbuka dan menerima perbedaan”.

“Karena, ini menyangkut keinginan untuk mensponsori dan membangun dialog mengenai hal-hal yang penting dalam masyarakat,” ujarnya.

Pelana yang diperkirakan dari Tunisia, Afrika Utara. (Vatican Anima Mundi Museum inv. 112384.2)

Menurutnya, setiap kali kita melihat sesuatu yang berasal dari budaya atau masyarakat lain, kita dibawa ke dalam kehidupan orang lain. Sebagian hal yang perlu kita lakukan sebagai manusia yaitu memahami orang lain dan pengalaman mereka. Koleksi artefak yang dipamerkan melukiskan gambaran berbagai ekspresi Islam di seluruh dunia.

“Ada benda dari Afrika, Timur Tengah, Persia, India, Pakistan, di seluruh Asia Tenggara dan tentu saja dari Indonesia ke Filipina,” kata Dr Trinca.

Dia menilai hal ini merupakan pengenalan mengenai luasnya budaya Islam di seluruh dunia. Kisah ini juga mencakup Australia.

Kurator menyertakan benda-benda dari koleksi NMA sendiri, termasuk lukisan kulit yang menggambarkan kontak awal antara orang-orang Aborigin dan pelaut Muslim dari Makassar.

“Kita juga mampu memasukkan beberapa objek tentang umat Islam di Australia,” tandas Dr Trinca. (Vina)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here