Muhammadiyah Serukan Ta’awun

612
Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir (Foto: Suara Muhammadiyah)

Solo, Muslim Obsession – Menggelorakan ta’awun untuk negeri berarti menyuarakan pesan keruhanian Islam dalam mengembangkan sikap saling tolong-menolong atau bekerjasama untuk terwujudnya kebaikan serta kemaslahatan bangsa dan negara Indonesia. Sebaliknya mencegah segala bentuk “kerja sama” (konspirasi) dalam hal dosa dan keburukan.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir ketika memberikan sambutan pada acara milad ke 106 Muhammadiyah yang bertema “Ta’awun untuk Negeri” di Puro Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Ahad (18/11/2018).

Haedar Nashir menjelaskan, dari sisi kebangsaan, tema tersebut merupakan respons dan komitmen Muhammadiyah atas dua situasi yang dihadapi bangsa saat ini. Yakni bencana dan musibah yang melanda di sejumlah wilayah Tanah Air serta situasi nasional di tahun politik yang sedikit atau banyak menunjukkan ananiyah-hizbiyah (egoisme kelompok) dan gesekan sosial-politik satu sama lain.

“Terkait bencana yang melanda, pesan utamanya adalah mengajak semua tergerak untuk peduli dan berbagi meringankan beban saudara sebangsa atas musibah yang terjadi, seraya bergerak bersama agar saudara-saudara kita bangkit dan kembali menjalani kehidupan dengan baik dan lebih maju,” katanya.

Terkait kontestasi politik, pihaknya menilai wajar jika muncul dinamika persaingan dan perebutan kepentingan. Namun jika tidak dikelola dengan baik maka akan memicu konflik yang mengarah pada perpecahan bangsa.

“Karenanya penting dilandasi nilai “ta’awun” untuk “saling peduli dan berbagi” layaknya satu tubuh di keluarga bangsa. Perbedaan politik tetap diikat oleh rasa bersaudara dan tidak menyuburkan suasana permusuhan yang merugikan kehidupan berbangsa,” kata dia.

Mewujudkan ta’awun secara nyata, lanjut Haedar, maka ketika terdapat perbedaan pandangan dan kepentingan, satu sama lain mau saling berkorban dan berbagi, bukan saling mengutamakan kepentingan dan mau menang sendiri.

“Wujudkan ta’awun sesama warga dan komponen bangsa dengan sikap, tindakan, dan usaha bekerjasama secara nyata. Semua pihak mau saling peduli dan berbagi, serta saling hidup maju dan makmur bersama-sama. Dalam kehidupan kebangsaan jangan sampai perebutan kekuasaan menyuburkan egoisme kelompok secara ekslusif dan berlebihan, yang menggerus kebersamaan,” paparnya.

“Jangan sampai terjadi paradoks, di ruang publik menyuarakan ukhuwah dan gotong royong, tetapi dalam praktik menampilkan sikap aji mumpung, mau menang sendiri, dan kebiasaan menyisihkan pihak lain yang berbeda pandangan atau golongan demi kejayaan diri atau golongan sendiri dalam hasrat kuasa berlebih,” tambahnya. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here