Moderasi Proporsional

113

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

Istilah moderasi, dan lawan katanya ekstremisme dan radikalisme, sejak beberapa tahun terakhir menjadi sangat populer. Saking populernya di hampir semua pidato pemimpin negara, termasuk pidato raja Salman di gedung MPR RI juga mengulangi kata-kata itu berkali-kali. Tidak luput tentunya hampir di semua pidato kampanye maupun debat capres AS ketika itu selalu menyebut-nyebut kata moderasi dan lawan katanya ekstremisme atau radikalisme.

Dari zaman Bush, Obama, hingga eranya presiden Trump sekarang ini, kata ini masih menjadi objek yang menarik dan menyenangkan untuk dibahas oleh banyak pihak. Bagaimana tidak menarik dan menyenangkan. Kata ini bisa mengangkat atau sebaliknya menurunkan dukungan bagi sebagian pemburu kekuasaan.

Tapi apakah moderasi itu?

Sebelum saya menjelaskan makna moderasi, saya ingin menyampaikan dialog tanpa sengaja dengan seorang non Muslim dalam perjalanan dari rumah ke kota. Saat itu kebetulan kereta bawah tanah lagi sepi, dan tiba-tiba orang itu bertanya ke saya: “where are you from?”

Setelah saya jawab: “I am from Indonesia” dia mengubah bahasanya dari Inggris ke Indonesia terbata-bata. “Oh bagus. Saya pernah pergi ke Indonesia”.

Tentu saya senang dan bangga. Karena seringkali orang di Amerika lupa Indonesia di saat berbicara kunjungannya berlibur ke Indonesia. Rata-rata yang diingat adalah Bali. Seolah Bali jauh lebih besar, lebih hebat dari Indonesia. Seolah Indonesia hanya bagian atau samping sebuah daerah terkenal bernama Bali.

“So do you like Indonesia?” tanya saya.

“Iyaaa…saya suka”, jawabnya masih dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here