Mitos atau Fakta: Tahun Baru Masehi untuk Hormati Dewa Janus?

1524
Ilustrasi: Perayaan Tahun baru 2020.

Muslim Obsession – Publik dunia menyambut pergantian tahun Masehi dengan bermacam cara. Begitupun dengan awal tahun 2020 yang akan berganti esok lusa dini hari. Tidak cuma yang senang dengan datangnya tahun baru, sebagian enggan merayakannya karena dianggap perbuatan ingkar, mengakui kebiasaan untuk mengagungkan dewa-dewa.

Lalu, benarkah perayaan tahun baru Masehi identik dengan kebiasaan mengagungkan atau menghormati dewa-dewa?

Arthur M. Eckstein dalam buku Senate and General: Individual Decision-making and Roman Foreign Relations 264-194 B.C. (1987) menyebutkan, perayaan tahun baru berawal sejak zaman Kekaisaran Romawi atau tepatnya saat Julius Caesar memerintah.

Tahun 45 Sebelum Masehi (SM), tidak lama setelah dinobatkan sebagai kaisar, Julius Caesar memberlakukan penanggalan baru untuk menggantikan kalender tradisional yang sudah digunakan sejak abad ke-7 SM.

Atas dukungan Senat Romawi, Julius Caesar memutuskan tanggal 1 Januari sebagai hari pertama dalam kalender baru itu. Istilah Januari diambil dari nama salah satu dewa dalam mitologi bangsa Romawi, yakni Dewa Janus.

Katie Kubesh, Niki McNeil, dan Kimm Bellotto dalam New Year’s Celebrations (2007) menuliskan bahwa nama Dewa Janus dipilih karena memiliki dua wajah yang menghadap ke depan dan belakang. Dalam kepercayaan orang Romawi, Janus diyakini sebagai dewa permulaan sekaligus dewa penjaga pintu masuk. Dua wajah Dewa Janus dimaknai sebagai cara melihat tahun lama dan menatap hari-hari ke depan di tahun baru.

Sejak diberlakukan kalender anyar itu, setiap tengah malam jelang pergantian tahun, yakni 31 Desember, orang-orang Romawi menggelar perayaan untuk menghormati Dewa Janus. Orang-orang Romawi pun memulai tradisi dengan saling memberikan hadiah pada malam tahun baru. Menurut keyakinan mereka, akhir tahun lama dan awal tahun baru adalah saat yang tepat untuk memberikan hadiah bermakna, biasanya berupa ranting dari pohon-pohon keramat, atau perak dan emas, yang melambangkan keberuntungan.

Beberapa jenis makanan disajikan, terutama madu dan permen yang dianggap sebagai simbol kedamaian. Rumah dan lingkungan sekitar dihias dengan lampu berwarna-warni dengan harapan satu tahun ke depan akan dilalui dengan penuh dengan cahaya atau kecemerlangan dalam hidup. Tidak lupa, sebagai wujud penghormatan kepada Dewa Janus, orang-orang Romawi mempersembahkan koin-koin emas dengan gambar dewa mereka itu.

Harapannya, Dewa Janus akan selalu memberkati mereka dalam kehidupan setahun ke depan. Penetapan tanggal 1 Januari sebagai awal tahun dalam kalender baru itu punya rumusan sendiri. Dalam menyusun penanggalan anyar itu, seperti tertulis dalam Astronomical Observations (2009) suntingan Erik Gregersen, Julius Caesar meminta bantuan seorang ahli astronomi dan matematika dari Alexandria (Iskandariyah) bernama Sosigenes.

Sosigenes menyarankan agar kalender baru dibuat dengan mengikuti perputaran matahari seperti yang sudah diterapkan oleh orang-orang Mesir Kuno, satu tahun dihitung 365 seperempat hari. Julius Caesar setuju dan menambahkan 67 hari pada 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Untuk menghindari kejanggalan dalam rumusan kalender baru itu, Julius Caesar menyarankan supaya ditambahkan satu hari pada bulan kedua (Februari) setiap empat tahun. Inilah asal-muasal tahun kabisat.

Tidak lama sebelum Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Penanggalan anyar ini kemudian dikenal dengan nama Kalender Julian, diambil dari nama Julius (Juli) Caesar. Saat Kalender Julian diterapkan memang belum memasuki tahun Masehi. Tahun Masehi dihitung sejak kelahiran Yesus (Isa Al-Masih) dari Nazaret yang mulai diadopsi di Eropa Barat pada abad ke-8 untuk menghitung tanggal Paskah berdasarkan tahun pendirian Roma.

Kalender Julian kemudian dimodifikasi menjadi Kalender Gregorian dan disetujui oleh pemimpin tertinggi umat Katolik di Vatikan, Paus Gregory XIII, pada 1582. Di tahun yang sama, Paus menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru pertama. Sejak saat itu, setiap malam pergantian tahun kian dirayakan dengan meriah di seluruh belahan dunia.

Selain tahun baru Masehi, masyarakat dunia sebenarnya memiliki beragam tahun baru lainnya. Umat Islam memiliki tahun baru Hijriyah dalam kalender Hijriyah yang awal tahunnya dimulai di bulan Muharram.

Umat Yahudi memiliki tradisi perayaan tahun baru yang dikenal dengan Rosh Hasanah. Hari tersebut jatuh sebelum tanggal 5 September pada kalender Gregorian. Sementara dalam kalender Baha’i, tahun baru jatuh pada tanggal 21 Maret atau disebut sebagai Naw Ruz.

Masyarakat Tiongkok memiliki tahun baru sendiri yang disebut dengan Imlek yang jatuh pada malam bulan baru pada musim dingin (antara akhir Januari hingga awal Februari). Tahun baru Vietnam yang disebut Tết Nguyên Đán juga dirayakan pada hari yang sama dengan Imlek. Adapun masyarakat Tahiland juga memiliki tradisi tahun baru, dimana perayaannya dimulai tanggal 13 April hingga 15 April dengan upacara penyiraman air.

Dan di Tanah Air, masyarakat Jawa dalam kalender Jawa memiliki tahun baru sendiri. Tahun baru dirayakan setiap tanggal 1 Sura disebut dengan ‘tanggap warsa enggal siji sura’ dengan menampilkan pementasan wayang kulit purwa dan festival budaya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here