Mensyukuri Aturan

417

Oleh: Dr. Sri Suyanta (UIN Ar-Raniry)

Saudaraku, untuk maksud memelihara dan meraih keamanan diri sekaligus keselamatan bersama sehingga semuanya sampai pada tujuan yang membahagiakan, hidup di dunia ini perlu aturan. Aturan di dalam menggunakan jalan umum disebut rambu-rambu lalu lintas, dan aturan di dalam perjalanan hidup disebut agama.

Cobalah perhatikan gambaran saat berlalu lintas lengkap dengan sikap pengguna jalan dan aturannya. Idealnya saat sebelum berangkat ke suatu tujuan, kita sudah mempersiapkan bekal, memeriksa kelaikan kendaraan dan segala sesuatunya, kemudian saat di perjalanan harus cerdas mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada.

Ternyata banyak pengguna jalan dalam keseharian rutinitasnya selalu taat, santun saat berlalu lintas dan akhirnya selamat sampai tujuan. Tetapi juga tidak sedikit yang berjalan dengan arogan dan angkuh seperti tidak memakai helm atau sabuk pengaman, kebut kebutan, menerobos rambu-rambu lalu lintas yang jelas-jelas merah menyala, sehingga menyebabkan terjadinya kecelakaan.

Oleh karena itu, ada baiknya kita mengingat kembali tentang akhlak dalam berlalu lintas.

Pertama, menyadari sepenuh hati bahwa Islam disyariatkan, aturan dibuat untuk kemaslahatan umum. Oleh karena itu, rambu-rambu lalu lintas dibuat dan dipatuhi demi keselamatan penggunanya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Begitu juga halnya agama, Islam disyariatkan untuk kebahagiaan umat manusia. Di dalamnya terkandung aturan Allah untuk pedoman yang wajib dibaca dan diindahkan, ada rambu-rambunya seperti mubah halal makruh haram yang harus dipatuhi. Tentu semua ini untuk kebahagiaan manusia.

Kedua, mengucapkan alhamdulillah dan bersyukur kepada Allah telah menurunkan Islam dan berterima kasih kepada pemerintah yang membuat juga memberlakukan beragam aturan termasuk dalam berlalu lintas.

Ketiga, membawa segala dokumen dan atribut yang dipersyaratkan, seperti kartu identitas diri, surat izin mengemudi, surat kendaraan, helm, sabuk pengaman, p3k dan piranti lainnya.

Keempat, meneriksa kelaikan kendaraannya seperti angin ban cukup, ban serap, minyak aman terisi, lampu berfungsi, alat pengaman (helm, sabuk) dan jelayakan kendraan lainnya.

Kelima, berlaku sopan santun sekaligus menjauhi perilaku tercela di jalan seperti kebut-kebutan, saling mendahului, parkir atau berhenti di sembarang tempat (seperti di persimpangan malah ngobrol dengan teman pengguna jalan lainnya saat berpapasan), berjalan salah jalur misalnya jalur searah tetapi digunakan juga untuk menerobos kerarah yang berlawanan, menerobos lampu merah, mendahului padahal ada garis marka jalan tak terputus terutama pada jalan melengkung atau berkelok, meludah sembarangan sehingga percikan ludahnya (yang pasti berbau tidak sedap) mengenai pengguna jalan lainnya yang kebetulan lewat di belakang atau di sampingnya dan perilaku ketidakdisiplinan lainnya.

Bila di antara kita masih ada yang secara tidak sadar melakukan ketidakdisiplinan atau beretika buruk saat berlalu lintas seperti yang digambarkan di atas atau melakukan ketidaketisan lainnya, mari segera berbenah ke arah yang lebih baik, lebih santun, lebih beretika agar dapat memeluk kebahagiaan dan menebar kemaslahatan pada pengguna jalan lainnya.

Keenam, memuliakan sesama pengguna jalan, terlebih kepada yang lebih “sederhana” kendaraannya. Dalam hadis diriwayatkan, Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Rasulullah Muhammad saw bersabda “Hendaklah orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan dan yang berjalan kepada yang duduk dan yang kecil kepada yang besar”. Pada riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda “Hendaklah memberi salam yang kecil kepada yang besar dan yang berjalan kepada yang duduk dan yang sedikit kepada yang banyak”.

Normativitas tuntunan di atas menunjukkan betapa indahnya ajaran dan orang Islam. Orang yang berkendara dianjurkan memberi salam kepada pejalan kaki, orang yang bermobil kepada yang berseda motor, yang bersepeda motor kepada yang bersepeda angin, pejalan kaki kepada yang duduk.

Orang-orang yang berada pada posisi yang lebih mewah dan enak secara kasat mata dituntun agar tidak sombong, tetapi justru harus rendah hati seraya menghormati dan memuliakan orang-orang yang berada pada posisi yang relatif kurang. Demikian juga penghormatan dari yang lebih muda kepada orang yang lebih tua, dari yang sedikit kepada yang banyak adalah merupakan hak orang yang lebih tua dan lebih banyak untuk dihormati dan dimuliakan.

Realitasnya ternyata malah ada banyak di antara kita yang sudah bijak dalam berebut keutamaan. Makanya sering kita jumpai, justru yang lebih tua mendahului memberi salam kepada yang lebih muda, yang besar kepada yang kecil, yang duduk kepada yang berjalan, yang berjalan kepada yang berkendara, dan yang banyak kepada yang sedikit. Juga termasuk perilaku terpuji seperti memberikan kesempatan kepada yang akan menyeberang jalan. Dan semakin jauh dan lama perjalanan yang ditempuh, akan memberikan lebih banyak kesempatan untuk zikrullah dengan lafadh apa saja semampunya. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here