Mengenang Zakiah Daradjat, Sang Pelopor Psikologi Islam di Indonesia

1850

Menurut Zakiah Daradjat, kebahagiaan hidup dalam rumah tangga merupakan modal utama untuk dapat merasakan dan menikmati kebahagiaan pada umumnya. Dalam buku Ketenangan dan Kebahagiaan Dalam Keluarga (1974), ia menuturkan, “Dari sekian banyak kasus keluarga, yang pernah datang kepada penulis untuk minta bantuan, agar keluarganya dapat diselamatkan, atau untuk minta pertimbangan terakhir sebelum mengambil keputusan drastis, dapat dikumpulkan beberapa kesimpulan dan pokok-pokok usaha, yang perlu dilakukan oleh suami-istri guna menyelamatkan keluarganya dari kekacauan. Menurutnya, beberapa persyaratan yang perlu diketahui dan dilakukan oleh setiap pasangan suami istri agar dapat tercapai kebahagiaan dan ketenteraman dalam keluarga, ialah saling mengerti, saling menerima, saling menghargai, saling mempercayai, dan saling mencintai.

Sebuah buku yang diberi judul “Kebahagiaan” diterbitkan 1988, memaparkan tinjauan Zakiah Daradjat tentang beberapa penyakit kejiwaan yang menjadi penyebab hilangnya kebahagiaan, yaitu iri, dendam, cemas, dan stress. Pengendalian diri adalah kunci kebahagiaan. Berapa banyak rumah tangga yang dulu hidup rukun, tenang dan bahagia, berubah menjadi pecah berantakan, tegang dan bermusuhan, akibat tidak mampunya suami istri mengendalikan diri, tegasnya.

Sejak terbitnya edisi pertama majalah Nasehat Perkawinan (kini “Perkawinan dan Keluarga”) tahun 1972 yang dipimpin oleh HSM Nasaruddin Latif, Zakiah Daradjat menjadi Staf Ahli majalah BP4 tersebut. Secara rutin tulisannya hadir mengisi rubrik Psikologi Agama. Zakiah Daradjat merupakan salah satu tokoh yang berjasa menegakkan dan mengembangkan misi BP4 (Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan).

Dengan pengembangan ilmu jiwa agama yang dilandasi ajaran agama Islam, Zakiah Daradjat berupaya membangun kesadaran dan kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap ilmu jiwa agama sebagai cabang ilmu pengetahuan yang baru di Indonesia. Kursus pendidikan kesehatan jiwa menurutnya perlu dikembangkan di tengah masyarakat dan negara kita yang sedang mengalami era pancaroba. Zakiah mengingatkan dalam buku-buku dan artikel serta ceramahnya bahwa ketenangan dan kebahagiaan jiwa dalam kehidupan pribadi dan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sosial. Kesehatan jiwa adalah salah satu modal utama untuk meraih sukses di tengah masyarakat.

Zakiah Daradjat yang wafat pada usia 83 tahun tidak meninggalkan harta kekayaan yang banyak, tetapi meninggalkan legacy kekayaan kultural dan intelektual, yaitu buku-buku hasil karyanya berjumlah sekitar 33 judul, di antaranya; Ilmu Jiwa Agama, Problema Remaja di Indonesia, Pendidikan Orang Dewasa, Kepribadian Guru, Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia, Menghadapi Masa Menopause, Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, Islam dan Kesehatan Mental, Shalat Menjadikan Hidup Bermakna, Zakat Pembersih Harta dan Jiwa, Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental, Haji Ibadah Yang Unik, Doa Menunjang Semangat Hidup, Kesehatan Mental Dalam Keluarga, Remaja Harapan dan Tantangan dan lain-lain.

Puluhan buku terjemahan dari bahasa Arab dan Inggris telah lahir dari tangannya seperti, Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa/Mental (Prof. Dr. Abdul Azis El-Quussy), Anda dan Kemampuan Anda (Virgina Bailard), Dendam Anak-Anak (Prof. Dr. Mustafa Fahmi), Anak-Anak Yang Cemerlang (Prof. Dr. Paul Wetty), Bimbingan Pendidikan dan Pekerjaan (Prof. Dr. Attia Mahmoud Hana).

Peninggalan lainnya dari Zakiah Daradjat sebagai amal jariyah yang memberi manfaat bagi umat dan pembangunan bangsa ialah Yayasan Pendidikan Islam RUHAMA di daerah Ciputat.

Menarik direnungkan surat Zakiah Daradjat tertanggal Cairo 18 September 1960 kepada sahabatnya Dra. Hj. Isnaniah Saleh (Pimpinan Diniyah Puteri Padang Panjang, wafat 1990) sebagai berikut: “Ada masa bertemu dan ada masa berpisah, dan selamanya ada perobahan, karena itu adalah sunnah-Nya hidup. Dalam perobahan dan pertukaran itu ada hal yang tetap, ialah hubungan baik antara sesama, hal yang tak lekang dipanas dan tak lapuk dihujan. Di samping itu, ada hal yang selalu tak boleh dilupakan, yang selalu dinamakan orang dengan bahagia. Orang yang berbahagia ialah orang dapat menghadapi segala keadaan dan suasana. Dan selalu merasa bahwa kita dibutuhkan dan berguna bagi perbaikan nusa, bangsa dan agama.”

Tulisan Hj. Aisyah Amini dalam buku 70 Tahun Prof. Dr. Zakiah Daradjat (1999) mengungkapkan, “Apa yang dilakukan Zakiah ini sangat besar artinya bagi kehidupan keluarga-keluarga di tanah air. Meskipun keluarga merupakan komponen kecil dalam struktur kenegaraan, tetapi memiliki peran yang signifikan dalam menciptakan dan mempersiapkan generasi penerus yang akan menentukan masa depan bangsa. Andaikata jumlah orang yang mempunyai ilmu seperti Zakiah mampu mengamalkannya banyak, saya kira masalah-masalah seperti munculnya anak-anak yang menyimpang tingkah lakunya atau semacamnya tidak akan banyak terjadi seperti yang sering kita saksikan di masa sekarang. Ilmu yang dimiliki Zakiah itu adalah obat yang sangat mujarab. Namun sayang apa yang dimiliki Zakiah tidak cukup luas dikuasai oleh anggota-anggota masyarakat.”

Sekian banyak buku karyanya, ribuan anak didik dan mahasiswa yang mendapatkan ilmu dari mata kuliah yang diasuhnya, bimbingan yang diberikannya kepada warga masyarakat yang menghadapi masalah di ruang konsultasi, insya allah semua itu menjadi amal jariyah yang akan terus mengalirkan pahala kepadanya.

Jika seorang psikolog meninggal mungkin tidak sulit mencari penggantinya. Tetapi kalau yang meninggal itu psikolog sekaligus ulama dan ahli ilmu jiwa agama sungguh sebuah kehilangan yang sulit tergantikan. Selain tanda kehormatan dari negara, menurut hemat saya sangat pantas bila UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atau Pusat Layanan Psikologi UIN mengabadikan nama Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat sebagai kenang-kenangan dan penghargaan atas jasa dan pengabdian beliau kepada agama,bangsa, negara serta dunia pendidikan.

1
2
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here