Mengenal Sosok Mahathir Mohamad, PM Malaysia Tertua di Dunia

207
PM Malaysia Mahathir Mohamad (Foto: CNN News)

Muslim Obsession – Usia terbukti tidak menjadi patokan seseorang untuk memimpin. Salah satunya, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang kini menjadi pemimpin tertua di dunia. Pada bulan Mei 2018, dia kembali terjun ke ranah politik di saat usianya sudah mencapai 93 tahun.

Sebelumnya, Mahathir pernah menjadi panglima negara selama 22 tahun dari 1981 hingga 2003, menjadikan dirinya sosok Perdana Menteri Malaysia terlama. Pada masa kekuasaannya, dia kerap dianggap mengubah Malaysia dari masyarakat agraris menjadi negara industri.

Saat ditanya mengapa Mahathir kembali mencalonkan diri untuk duduk di kursi Perdana Menteri, dia menjawab bahwa negaranya harus segera diselamatkan dari praktik korupsi yang parah sebelum semuanya terlambat.

“Ya, ketika saya dulu memilih mundur secara sukarela, saya berpikir bahwa saya akan memiliki waktu yang sangat santai bersama keluarga. Tapi sayangnya, setelah mengundurkan diri, seorang pengganti saya justru memutuskan untuk mengubah arah, mengadopsi kebijakan baru, dan terutama membuang semua yang saya mulai. Karenanya, banyak orang merasa tidak bahagia. Mereka semua datang menemui saya dan meminta, ‘Tolong lakukan sesuatu, tolong lakukan sesuatu,” ungkap Mahathir, dikutip dari wawancara langsung CNN Asia, Jumat (3/8/2018).

Selama ini, Mahathir merasa negaranya menjadi bola yang seenaknya dioper dan ditendang sesuka hati.

“Kami berada di bawah kekuasaan Inggris, kemudian Jepang masuk dan menaklukkan kami. Jepang lalu menyerahkan Malaysia ke tangan Thai lalu dioper lagi kepada orang-orang Siam. Jadi sepertinya kita hanya sepakbola yang bisa ditendang oleh siapa saja. Saya tidak suka itu. Saya merasa bahwa orang-orang tidak menghormati kita. Saya merasa bahwa kita harus diperlakukan sama dengan orang lain,” tambahnya.

Itulah salah satu motivasi terbesar Mahathir. Dia percaya bahwa Malaysia bisa sebagus negara lain. Meski demikian, Mahathir kerap disebut pemimpin yang otoriter dan diktator oleh sejumlah rakyat Malaysia, namun ia menyangkal tuduhan itu.

“Saya bukan seorang diktator, saya dipilih lima kali oleh rakyat. Tidak ada cerita seorang diktator yang pernah mengundurkan diri seperti saya. Bukan uang yang Anda hasilkan, melainkan kepuasan kerja,” tutur Mahathir.

Saat ditanya soal istrinya Tun Siti Hasmah, Mahathir mengaku pertama kali menemuinya saat belajar kedokteran di universitas. Saat itu, kata Mahathir dia adalah satu-satunya gadis Melayu yang mengambil kursus kedokteran.

“Yah, saya kira saya jatuh cinta padanya. Pada masa itu, tidak banyak wanita yang masuk ke universitas, dan dia bertekad untuk mendapatkan pendidikan universitas. Hal itulah yang membuat saya berpikir dirinya memiliki karakter yang kuat,” kenang Mahathir.

Tali cinta di antara keduanya terbukti kuat dengan usia pernikahan mereka yang sudah 62 tahun. Resepnya, kata Mahathir ialah saling menjaga toleransi.

“Awalnya, tentu saja kita sering bertengkar. Saya sangat ketat soal waktu sedangkan dia tidak. Tapi lama kelamaan kita sadar dan menerima bahwa kita memang berbeda, maka solusinya ialah harus menerima perbedaan,” terangnya.

Mahathir juga merasa sosok istri tercintanya memiliki prinsip yang sama, seperti menjunjung kesetiaan dan pengabdian untuk negara. Dia juga selalu menemani Mahathir ke mana pun dirinya pergi.

Di usianya yang sudah tidak muda lagi. Mungkin orang akan khawatir bagaimana Mahathir mampu memimpin sebuah negara. Mahathir mengatakan bahwa usia dan jiwa muda tidak selalu sama. Kadang-kadang jiwa seseorang lebih muda dari usia mereka. Mahathir mengaku selalu menjaga kesehatan dengan tidak makan berlebihan atau melakukan aktivitas lainnya secara ekstra.

“Agar pikiran tetap aktif Anda juga perlu membaca, Anda perlu berpikir, Anda perlu berdebat. Hal ini sangat penting, karena seperti otot, yang bisa menjadi lemah dan kendur, otak pun demikian. Jika Anda berhenti berpikir, tidak belajar, tidak membaca, atau tidak mau memecahkan masalah, maka otak akan kehilangan kapasitasnya untuk berpikir dan berfungsi dengan baik,” beber Mahathir.

Ketika ditanya apa yang akan ia lakukan agar orang-orang mengenang dirinya, Mahathir menjawab, “Saya memiliki keyakinan bahwa begitu diri kita tiada, akan ada banyak orang yang menyanggah segalanya. Mereka akan mengatakan hal-hal buruk tentang kita, dan bagi saya itu tidak penting.” (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here