Mencermati Fenomena Agnostic Style

75

Oleh: Thobib Al-Asyhar (Penulis Buku)

I am agnostic now. Sorry, I am not into about religion”. Kalimat di atas sudah mulai sering didengar dari obrolan generasi milenial. Bagi mereka, agama cukup sebagai identitas untuk kepentingan kependudukan. Just for identity. Mereka lebih menyukai menjadi orang yang meyakini Tuhan tanpa amalan agama. Ya, hanya percaya sama Tuhan, an sich.

Di era yang serba teknologis ini, berkeyakinan bukan semata pilihan privasi individu, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup (lifestyle). Berbeda dengan dulu, orang memeluk suatu agama sebagai pilihan sosial yang membanggakan. Apalagi memeluk suatu agama selalu dikaitkan dengan struktur sosial, khususnya relasi ekonomi-politik.

Kini, zaman telah berubah seiring dengan perkembangan pola pikir dan kecenderungan hidup masyarakat. Beragama secara formal dengan rangkaian ritualnya “dianggap” telah usang (jadul). Seorang tokoh antagonis seperti Osama bin Laden (pemimpin Al-Qaedah), Abdurrahman Al-Baghdadi (pentolan ISIS) dan George W. Bush (mantan presiden AS) memiliki jasa besar menjadikan agama tampak jauh lebih usang bagi masyarakat modern.

Ya. Ada kecenderungan masyarakat modern memandang orang beragama sudah usang. Kurang menarik. Menurut mereka, orang beragama sering menampakkan perilaku yang kurang bersahabat dengan sesama. Saling mencaci, menghina, menyakiti, bahkan saling serang dan baku hantam muncul karena alasan agama.

Coba deh gaes kamu tengok sejarah, ada kritik keras dari filosof asal Jerman, Friedrich Nietzsche terhadap orang beragama. Satu kalimat menohok yang menghebohkan seluruh penghuni bumi adalah “God is dead”, Tuhan telah mati.

Nietzsche mengkritik nilai-nilai keberagamaan (Kristen saat itu) yang dipengaruhi oleh ajaran Plato. Nietzsche menganggap kekristenan mengajarkan orang untuk menolak, membenci, dan melarikan diri dari kehidupan di dunia ini demi suatu mitos “dunia nyata” yang imajiner.

Nietzsche menuduh para tokoh agama sebagai pengajar-pengajar maut, karena membuat orang berpindah fokus dari hidup ke kematian. Kematian dipahami sebagai syarat manusia menuju ke “alam sempurna”.

Kritik Nietzsche tersebut bisa dimaklum karena memang dia penganut atheisme. Penganut paham yang tidak percaya terhadap adanya Tuhan. Cara pandangnya bisa jadi disebabkan oleh pandangan filsafat yang dikonfirmasi atas penglihatannya terhadap orang-orang beragama yang tidak menunjukkan idealitas nilai.

Seiring perkembangan zaman, di mana arus modernisme telah melanda di semua lini kehidupan  justru terjadi kekeringan spiritual. Muncul banyak persoalan-persoalan psikologis, seperti stres dan depresi karena tekanan hidup materialisme dan hedonisme. Akibat dari itu lalu masyarakat modern kehilangan arah hidup dan mencoba mencari (searching) The Other (Tuhan) sebagai sandaran hidup melalui jalan-jalan spiritualisme.

Namun, “kembalinya” kesadaran mereka bukan kepada agama-agama dengan segala perangkatnya, tetapi pada sistem keyakinan kepada Tuhan. Hanya meyakini bahwa Tuhan itu ada, bukan pada agama (religion). Itulah yang kemudian disebut “agnostisisme”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here