Menag Ucapkan Selamat Hari Raya Naw-Ruz, Apakah Baha’i Sebuah Agama?

745
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

Jakarta, Muslim Obsession – Video Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang mengucapkan Selamat Hari Raya Naw Riz mengundang reaksi masyarakat, terutama umat Islam.

Banyak yang bertanya tentang agama Baha’i, karena memang informasi seputar Baha’i tak diketahui banyak orang. Pertanyaan pun muncul, apakah Baha’i sebuah agama baru atau sebuah sekte dari agama tertentu.

“Kepada saudaraku masyarakat Baha’i di manapun berada saya mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Naw-Ruz 178 EB,” ucap Menag di video berdurasi 2 menit 30 detik itu.

Penelusuran Muslim Obsession, video tersebut diposting pada 26 Maret 2021 oleh channel YouTube Baha’i Indonesia dengan judul “Agama Baha’i Rayakan Naw-Ruz Bersama Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas”.

Tahun 2014, Kementerian Agama RI merilis hasil penelitian yang dilakukan Puslitbang Kehidupan Keagamaan. Hasilnya, Baha’i dinilai sebagai “agama yang independen dan bersifat universal, ia bukan sekte/aliran dari agama lain, termasuk Islam”.

Pernyataan itu disampaikan Nuhrison M. Nuh, Peneliti Utama Puslitbang Kehidupan Keagamaan, dalam acara Seminar Hasil Penelitian yang diselenggarakan oleh Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama pada Senin, 22 September 2014 di Hotel Millenium, Jakarta.

Seminar yang diselenggarakan mengambil tema “Eksistensi Agama Baha’i, Tao, dan Sikh di Indonesia dan Pelayanan Hak-Hak Sipil” ini disajikan hasil penelitian tentang eksistensi ketiga agama tersebut dan pelayanan hak-hak sipil kepada pemeluknya.

Pada kesempatan ini Nuhrison menyampaikan bahwa salah satu temuan dari penelitian adalah tidak ditemukannya fakta tentang keterkaitan antara agama Baha’i dengan agama apapun, termasuk Islam.

“Konsep ajaran agama Baha’i memiliki ciri khas yang berbeda dengan konsep keagamaan di dalam Islam. Begitupula dalam tata cara peribadatan. Meskipun tampaknya memiliki kesamaan dengan peribadatan Islam (seperti sembahyang, puasa, ziarah dan lainnya), tetapi pada praktiknya tata cara peribadatan yang mereka lakukan sama sekali berbeda,” ungkapnya, mengutip situs resmi Balitbangdiklat, Kemenag.

Nuhrison mencontohkan, dalam pelaksanaan sembahyang misalnya, para penganut Baha’i mengerjakan sembahyang sebanyak tiga kali dalam sehari. Kiblat yang dijadikan sebagai arah sembahyangpun juga berbeda.

Jika Umat Islam menghadap ke arah Mekah, maka umat Baha’i sembahyang menghadap Barat Laut (kota Akka-Haifa). Hari raya yang mereka peringatipun berbeda dengan Islam.

Oleh karena itu berdasarkan temuan penelitian tersebut, Nuhrison menyatakan bahwa Fatwa Sesat yang dikeluarkan MUI Jawa Barat dan beberapa Ormas Islam terhadap ajaran Baha’i merupakan fatwa yang kurang tepat.

Menurutnya jika fatwa sesat dilandasi oleh 10 kriteria yang dikeluarkan oleh MUI, maka hal itu ttidak dapat disematkan kepada penganut Baha’i, karena mereka sendiri pun juga tidak menganggap diri mereka sebagai penganut Agama Islam.

Menanggapi paparan tersebut, Sheila Soraya dari Majelis Rohani Nasional Baha’i, membenarkan apa yang disampaikan oleh Nuhrison. Ia menambahkan bahwa para penganut Baha’i selama ini tidak menyatakan diri sebagai bagian/penganut agama lain, termasuk Islam. Mereka mengidentifikasi diri sebagai penganut ajaran Baha’i yang mereka anggap sebagai agama.

Baha’i, Agama Produk Manusia

Merespons penemuan Balitbang Kemenag, perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Yusuf Asyri pada pertemuan tersebut menyatakan bahwa meskipun tidak ada kaitannya antara Baha’i dengan Islam, namun pada faktanya sejarah lahirnya ajaran Baha’i tidak dapat dipisahkan dari agama Islam.

Pendiri ajaran Baha’i, yaitu Baha’ullah merupakan penganut agama Islam sebelum ia menisbatkan diri sebagai utusan Tuhan. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa simbol-simbol keagamaan maupun peribadatan penganut Baha’i juga banyak kemiripan dengan Islam. Kedua aspek inilah yang menjadi salah satu landasan munculnya fatwa sesat bagi penganut ajaran Baha’i.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat KH Muhyidin Djunaidi, saat itu menyatakan, Baha’i adalah agama produk manusia. Pendiri Baha’i, Bahaullah mengaku sebagai manifestasi Tuhan di dunia.

“Misi utama agama Baha’i adalah menyampaikan perdamaian dan keadilan universal. Semua agama dianggapnya sama baik,” tutur Muhyidin, seperti diberitakan Republika, Senin (4/8/2014).

Menurutnya, Baha’i didirikan oleh orang Iran yang bernama Babullah atau “pintu Allah” pada 1884. Menurut Kiai Muhyidin, Babullah mengakui Bahaullah sebagai Tuhan Maha Esa yang mereka sembah. Oleh karena itu, ujarnya, Baha’i sebenarnya punya kemiripan dengan agama dunia lainnya, seperti Hindu, Buddha dan, Shinto. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here