Membumikan Al-Quran dalam Kehidupan Sehari-hari

130
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir (Foto: Muhammadiyah)

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir berpesan bahwa hal yang paling utama dalam peringatan Nuzulul Quran adalah merenungi makna setiap ayat dan berusaha mengamalkannya.

“Peringatan nuzulul quran itu sudah tradisi, kebiasaan di lingkungan umat Islam. Bertahun-tahun kita memperingatinya. Sekarang bagaimana kita mencari makna yang mendalam sekaligus bisa kita bumikan dalam kehidupan sehari-hari mengenai Al-Quran ini,” nasehat Haedar.

Al-Quran Sebagai Kitab Petunjuk

Dalam Kajian Daring Ramadan Website Muhammadiyah “Memaknai Peringatan Nuzulul Quran”, Ahad (10/5) Haedar menjelaskan bahwa Al-Quran sebagai kitab petunjuk, memberikan penjelasan yang terang antara yang hak dan yang batil dengan nilai-nilai universal bagi seluruh manusia.

Al-Quran diturunkan sebagai Kitab Petunjuk untuk melengkapi fitrah dalam sisi batin manusia yang sejatinya membutuhkan Tuhan.

“Kita tidak pernah membayangkan seorang ateis di kala hidupnya gundah, ada banyak pertarungan yang akal tidak bisa menjangkau sehingga dia kemudian mencari yang metafisik. Saat itulah naluri bertuhan muncul,” tutur Haedar seperti dilansir situs resmi Muhammadiyah.

“Intinya bahwa manusia diberi ilham untuk bertuhan, beragama. Tapi karena satu dan lain hal dan lingkungan, naluri fitrah beragamanya luruh menjadi minimal, menjadi kecil, bahkan dinegasikan. Lalu munculah yang tidak percaya agama, tidak percaya Tuhan,” imbuhnya.

Karena itu, menurut Haedar orang yang tidak beriman bukan hanya mengingkari fitrah penciptaan dirinya, melainkan juga mengingkari fitrah kitab suci sebagai petunjuk yang melengkapi fitrah ruhani di dalam diri manusia.

“Al-Quran harus disimak, dipahami, dicerna, dibaca dan diimplementasikan. Inilah alquran. Maka ulama menyebut Al-Quran sebagai kitab hidayah yang bersifat keagamaan dan membantu manusia memahami iman kepada Allah, segala ciptaan-Nya dan kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Al-Quran Sebagai Kitab Ilmu Pengetahuan

Selain menjadi kitab petunjuk, Al-Quran menurut Haedar juga berupa kitab ilmu pengetahuan yang mendorong dilakukannya aktivitas ilmiah dari berpikir, merenung, tazakur hingga tadabur.

“Betapa Al-Quran adalah kitab akal pikiran yang mengajari manusia untuk berpikir jernih. Allah itu Maha Rahman Rahim. Dengan akal pikiran kita bisa berimajinasi luar biasa tidak seperti makhluk lainnya sehingga kita diangkat menjadi khalifah. Cintailah Al-Quran sebagai kitab hidayah sekaligus kitab ilmu. Bacalah dengan makna dan tafsirnya lalu dikontekskan dengan kehidupan,” nasihatnya.

Sebagai kitab ilmu pengetahuan, Al-Quran di dalam sejarah menurut Haedar berhasil membimbing umat Islam memimpin peradaban adiluhung selama berabad-abad lamanya sementara dunia Barat di saat yang sama dalam kegelapan.

“Wahyu pertama sendiri (Iqra) ada dimensi akal pikiran dan ilmu pengetahuan yang melampaui. Saya yakin kalau setiap orang Islam cinta ilmu akal pikiran yang jernih lalu mengkaji seluas-luasnya maka akan menjadi generasi khairu umah yang luar biasa,” imbuhnya.

Terakhir, Haedar berpesan agar warga dan kader Muhammadiyah berusaha memaknai dan membumikan Al-Quran selain sebagai kitab petunjuk hidup di dunia dan akhirat sekaligus kitab yang memandu ilmu pengetahuan.

“Hidup memang tidak sempurna tapi kita diajari hidup untuk sedapat mungkin mendekati hidayah yang diberikan Allah, praktek hidup yang disunahkan Rasulullah, juga kebaikan-kebaikan yang kita lakukan dalam hidup sebagai manifestasi iman, ilmu dan amal salih kita. Jika perspektif seperti itu dalam cara kita beragama, maka Alquran sebagai kitab suci akhir zaman kita akan menjadi kitab yang lebih dari mencukupi bahkan sangat sempurna untuk kita praktekkan dan pedomani,” pesan Haedar.

“Tinggal semua tergantung kita. Al-Quran yang Maha Agung sebagai kitab ilmu, kitab hidayah dan di dalamnya segala sesuatu ada, tidak akan berarti banyak jika kita umatnya sendiri berhenti belajar, berhenti berusaha dan tidak mau terus bermujahadah bersungguh-sungguh. Kalau itu yang terjadi maka seperti kata Muhammad Abduh, Islam akan tertutupi oleh orang Islamnya,” tambah Haedar.

“Mari di dalam memaknai Nuzulul Quran kita jadikan momentum ini untuk memperdalam keyakinan dan praktek hidup kita sebagai kitab hidayah yang memberikan arah hidup dan pondasinya kokoh sekaligus kitabul ilmu, alat yang memberi instrumen dalam hidup kita sebagai khairu umah,” pungkas Haedar.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here