Membangun Rumah Surga yang Damai Tanpa Teriakan

64

Oleh: Buya H. Masoed Abidin (Ulama dan Penulis)

Semua orang menginginkan rumah tangga layaknya surga, agar penghuni rumah betah di dalamnya. Ciri utama penduduk surga, di antaranya bicara yang lembut, dan tidak suka teriak atau tidak suka membentak.

“Kebiasaan berteriak justru merupakan ciri penduduk neraka,” (QS. 35:37).

Jika ada suara teriakan di dalam rumah, itu artinya suasana surga sudah berganti suasana neraka. Kebiasaan teriak atau bicara melebihi desibel suara normal akibatnya akan mengeringkan cinta.

Sejatinya, cinta adalah kelembutan. Sesuai bimbingan Rasulullah. “Dan tidaklah sesuatu disertai kelembutan kecuali akan memperhiasnya…” (Al-Hadits).

BACA JUGA: Setiap Saat Kita Berjalan Menuju Kematian

Sebagai bukti cinta kepada Allah, kita diminta untuk berdzikir dengan suara yang lembut, tidak berteriak di hadapan-Nya. (QS. 7:205)

Kebiasaan berteriak di dalam rumah tangga sejatinya akan mengurangi rasa cinta.

Penting bagi setiap keluarga yang merindukan suasana surga, agar mengurangi teriakan di dalam rumah, terlebih untuk anak-anak kita.

Kebiasaan berteriak atau membentak di depan anak diakui oleh para ahli akan mengaktifkan batang otak anak. Batang otak itu yang disebut otak reptil atau otak refleks sehingga seorang cenderung merespon masalah tanpa berpikir.

BACA JUGA: Membangun Jiwa Tenang dan Tenteram

Diledek teman refleks memukul. Ini tersebab batang otaknya lebih dominan daripada korteksnya, yang mengajak dia untuk tidak berpikir. Anak yang batang otaknya menebal cenderung merespon sesuatu dengan prinsip ‘flight or fight’.

Bahayanya, solusi jarang keluar dari anak dengan model begini, karena yang ada hanyalah memuaskan emosi egonya semata.

Maka, anak-anak yang gampang marah, tawuran dan sebagainya, karena batang otaknya cenderung lebih dominan dan penyebab awalnya karena kebiasaan dibentak atau diteriaki dari kecil oleh orang tua atau guru di sekolah.

Dampak berikutnya dari kebiasaan berteriak di hadapan anak adalah: menghancurkan sel-sel otaknya.

BACA JUGA: 10 Cara Agar Hati Tenteram dan Jiwa Tenang

Ingatlah, bahwa satu kali teriakan kepada anak di bawah usia 5 tahun akan menghancurkan 10 ribu sel otaknya dari setiap teriakan.

Hitunglah sudah berapa kali membentak anak? Lalu kalikan 10 ribu, maka itulah kesalahan besar yang membuat anak tidak mau pintar-pintar.

Berteriak itu belum tentu membentak. Bisa jadi sekedar bercanda untuk menyemangati. Sungguhpun begini tetap berbahaya dan terlarang untuk dilakukan.

Kalau mau, teriak di lapangan saja, di mana jarak ke anak kira-kira seratus meter.

Rumah Tangga Surga. Yakni kebiasaan bicara lembut. Bahkan lebih baik berbisik-bisik di telinga anak untuk tumbuhkan cinta.

BACA JUGA: Kemarahan Nabi Yunus ‘Alaihissalam, Pelajaran Sangat Berharga

Kelembutan bukan berarti mengabaikan ketegasan. Sebab ketegasan itu bisa dilakukan tanpa harus berteriak-teriak.

Jika ada yang teriak-teriak di rumah kita, katakan: Ini Rumah Surga. Di surga bicaranya lembut. Hanya penduduk neraka yang suka teriak.

Kesimpulannya, jika ingin memperbaiki pola asuh dan hubungan harmonis dalam rumah tangga, perbaiki cara komunikasi.

Dengan perbaikan komunikasi, maka menjadi baiklah amalan kita yang lainnya.

Mari perbaiki komunikasi dalam keluarga, terutama pada anak-anak, yang pada dasarnya mereka tidak ingin dibentak atau diteriaki. Semoga berhasil menjadi orangtua yang sukses.

Aamiin. Semoga ada manfaatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here