Memaknai Hari Santri

89

Oleh: Dr. Muslich Taman (Pendidik dan Santri)

Kepada semua saudara, terkhusus santri di mana pun berada, yang pakai peci atau tidak, yang tradisional atau modern, yang baca qunut atau tidak, yang baca ushalli atau tidak, yang mau tahlilan atau tidak, yang selalu gerakkan jari telunjuk sepanjang tahiyat shalat atau hanya gerakkan sekali saja ketika baca syahadat, ayo terus kuatkan ukhuwah dan jaga semangat mengabdi untuk agama dan bangsa. Sembari tak henti terus belajar dan mengabdi. Karena itulah hakikat dan ruh utama Santri.

Kaum Santri, nenek moyang kalian adalah para pejuang. Mereka telah biasa menahan lapar, tak tidur nyenyak, saling bergotong royong, dan tak pernah putus asa untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini. Itu mereka lakukan, agar kalian tentram menikmatinya, merasa aman dan damai, serta dapat  khusyu beribadah di dalamnya.

Maka, sampai kapan pun, jangan mau dihasut dan diadu domba, yang dapat meretakkan persatuan, persaudaraan, dan kasih sayang di antara anak bangsa. Jika itu terjadi, sungguh terlalu kerdil jiwa kalian. Mudah curigai pada saudara, dan gampang meremehkan orang.

Di hari Santri ini, mari kita jaga ruh dan spirit Santri. Jangan terninabobokan dengan segala selebrasi dan euforia yang ada. Terpesona dengan gegap gempita simbolik, namun justeru terlena dengan substansinya. Apa ruh dan spirit Santri? Keikhlasan, cinta ilmu, keteguhan, kesederhanaan, kesabaran, dan semangat perjuangan. Satu lagi, cinta NKRI.

Para santri di negeri ini, tidak hanya kaya dengan anugerah kesamaan, tapi juga ujian perbedaan. Semua itu sesungguhnya adalah kekayaan berharga bagi jiwa setiap anak bangsa.

“Karena berbeda, maka kita saling membutuhkan. Dan karena tidak sama, maka kita bisa bekerjasama.” Begitulah hakikinya kita, lebih khusus Santri di seluruh penjuru negeri ini. Bagai grup orkestra, yang terdiri beragam alat musik, namun bersatu memadu rasa dan cinta, menghasilkan suara yang indah dan merdu.

Sekali lagi, santri dan NKRI disatukan bukan hanya oleh kesamaan, tetapi juga oleh perbedaan. Karenanya, dengan kesamaan, jangan melahirkan sikap arogan. Dan karena perbedaan, jangan menyebabkan permusuhan.

Telaga Kahuripan, 22 Oktober 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here