Masjid Aya Sofia: Simbol Dominasi Islam Atas Dunia [Pro & Kontra Erdogan Ubah Museum Menjadi Masjid]

234

Oleh: Rachmad Abdullah (Penulis Buku Sulaiman Al-Qanuni & Yavuz Salim)

Pada 10 Juli 2020, Erdogan, Presiden Republik Turki menandatangani dekrit bahwa status Museum Hagia Sophia berubah fungsi dari Museum menjadi masjid. Muncul pro dan kontra. Umat Islam dunia secara umum menyambut gembira. Umat selain Muslim –khususnya Nashara- marah dan mengecam. Namun dalam pandangan umat Islam sendiri, bahkan juga ulama, ada yang tidak sependapat.

Pengubahan Hagia Sophia dari gereja menjadi masjid tidak lepas dari pembebasan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih (1453 M). Bahkan itulah realita dari makna terkuat hadits Nabawi, bahwa, ”Sungguh Konstantinopel benar-benar akan dibuka. Pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan.”

Lalu bagaimana menanggapi hal ini?

Hagia Sophia: Dari Katredal ke Masjid

Sejarah Awal Hagia Sophia (532-1204 M)

Pada tahun 532 Kaisar Romawi Timur Yustinianus I memerintahkan pembangunan Katedral Hagia Sophia (532-537 M). Setelah itu Hagia Sophia menjadi gereja di bawah Katolik Roma, di bawah Kekaisaran Latin (1204-1261 M). Lalu Hagia Sophia kembali menjadi Katedral Ortodoks di bawah Byzantium (1261-1453 M) hingga jatuh ke tangan Sultan Muhammad Al-Fatih pada 1453 M.

Sultan Muhammad Al-Fatih: Perjuangan 54 Hari Membuka Gerbang Konstatinopel

Sultan Muhammad Al-Fatih lahir pada 1432 M. Ia belajar tentang Islam di bawah bimbingan Syaikh Aq Syamsuddin dan Syaikh Maulana Qurani. Sejak kecil sudah ditanamkan hadits tentang pembebasan Konstantinopel. Sejak saat itu, ia bertekad bulat untuk membebaskannya.

Menjadi Sultan (1444-1446 M & 1451-1481 M)

Pada tahun 1444 M Sultan Murad II menyerahkan tahta Daulah Utsmani kepada Muhammad II selama 2 tahun (1444-1446 M). Setelah itu Sultan Murad mengambil alih kepemimpinan Utsmani (1446-1451 M) karena ancaman besar datang dari pasukan Salibis Eropa.

Perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih (1451-1481 M) membebaskan Konstantinopel membutuhkan waktu 54 hari, hampir 2 bulan lamanya. Serangan umum dimulai Jumat, 6 April 1453 M dan meraih kemenangan pada Selasa, 29 Mei 1453 M.

MASJID HAGIA SOPHIA: SIMBOL DOMINASI ISLAM ATAS DUNIA

Agar Islam menang atas seluruh din. “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi,” (QS. Al-Fath: 28).

Masjid Hagia Sophia

Pada 29 Mei 1453 M Sultan Muhammad Al-Fatih mengubah Hagia Sophia dari Katedral menjadi masjid. Ini sebagai simbol kemenangan Islam yang mendominasi dunia saat itu. Allah berkehendak menjadi Islam ini dzuhur atas kaum kafir Nashara melalui tangan Sultan Muhammad Al-Fatih. Meskipun orang-orang kafir dan kaum musyrikin membencinya. Namun, cukuplah Allah menjadi saksi.

Sultan Muhamad Al-Fatih segera menuju gereja Aya Shopia yang telah dipenuhi para pendeta Nashrani, kaum wanita, lelaki, anak-anak, orang tua dan selainnya. Awalnya, mereka merasa sangat takut jika Sultan Muhammad Al-Fatih menghukum mereka. Akan tetapi setelah Sultan masuk Hagia Sophia dengan tenang, Sultan menunjukkan sikapnya yang mulia dan penuh keadilan.

Para pendeta Nashrani (Kristen Ortodoks) diminta agar menenangkan pengikutnya, para pemeluk Ortodoks itu dan meminta mereka agar pulang ke rumah masing-masing dengan tenang.

Sultan tidak akan membunuh mereka sebagaimana yang mereka sangka. Tidak pula memaksa mereka untuk masuk Islam. Oleh karena tidak ada paksaan dalam memasuki Islam. Telah jelas antara kebenaran dan kebatilan.

Justru sebaliknya, Sultan memutus kebijakan yang sangat membuat mereka senang, yaitu membiarkan mereka yang ingin tetap berkeyakinan Kristen Ortodoks, bahkan memberikan mereka kebebasan untuk beribadah di dalam gereja-geraja lain yang masih tetap berdiri di dalam kota Konstantinopel, tanpa merusak gereja mereka sedikitpun.

Melihat ketinggian akhlak Sultan Muhammad Al-Fatih, keluarlah orang-orang yang bersembunyi, termasuk para pendeta Nashrani yang bersembunyi di lorong-lorong. Oleh karena menyaksikan betapa tingginya sikap toleransi Sultan Muhammad Al-Fatih ini, sebagian mereka pun menyatakan diri masuk Islam.

Sedangkan yang tidak masuk Islam, dibiarkan melakukan peribadatan, bahkan dilindungi jiwa dan harta mereka dengan membayar jizyah dengan status kaum dzimmy sebagaimana hukum dalam Syariat Islam.

30 Mei-2 Juni 1453 proses Gereja Aya Sophia menjadi Masjid

Sultan Muhammad Al-Fatih memasuki gerbang kota Konstantinopel dan melanjutkan ke gereja mewah yang terkenal dengan nama Hagia Sophia. Sultan Muhammad Al-Fatih mengubahnya menjadi Masjid Aya Sofya lalu shalat di dalamnya.

Setelah itu, Sultan Muhammad Al-Fatih memerintahkan agar Gereja Aya Shopia diubah menjadi masjid. Tujuannya agar dalam 3 hari berikutnya (Rabu, Kamis, Jumat) sudah dapat digunakan untuk Shalat Jumat.

Renovasi pun dilakukan dengan menurunkan salib-salib, patung-patung berhala dan menghapus semua gambar yang ada di dalamnya, dengan menutupnya. Mimbar untuk khatib pun dibuatkan.

Ali Muhammad Shallaby menyatakan, “Mengubah Gereja menjadi masjid diperbolehkan, karena pembebasan negeri itu dengan jalan peperangan. Sedangkan dalam masa perang, ada hukum syariat Islam yang mengatur tersendiri tentang itu.”

Mustafa Kamal Ubah Masjid Hagia Sophia menjadi Museum

Pada 1934, Mustafa Kamal At-Taturk mengubah fungsi Masjid Aya Shofia menjadi Museum. Simbol sekulerisasi mendominasi dunia Islam. Bukan hanya terhadap Turki yang sejak 1924 Khilafah Utsmani dihapus. Namun juga menjalar ke berbagai negeri bekas wilayah Utsmani.

Erdogan merubah Museum Hagia Sophia menjadi Masjid

Pada 10 Juli 2020, Erdogan mengubah kembali fungsi Aya Sofya dari museum menjadi masjid. Ini simbol dominasi Islam atas Repblik Turki, yang masih dalam proses pengembalian sekuler akut ke Islam.

Soal reaksi asing mengenai pembukaan Hagia Sophia untuk tempat ibadah, Erdogan mengatakan reaksi dari luar negeri tidak akan mengganggu keputusan Turki yang sudah bulat.

“Beberapa dari mereka (pihak asing) sudah berbicara dengan saya. Saya telah memberikan jawaban yang diperlukan mereka. Biarkan saja, pandangan positif dan negatif (pasti ada), keputusan Hagia Sophia ini adalah masalah kedaulatan kami.”

Dengan kata lain, sebut Erdogan, pengembalian status Hagia Sophia menjadi masjid setelah jeda 86 tahun adalah hak paling alami bangsa Turki.

“Keputusan ini tak hanya penting bagi Turki, tetapi penting bagi dunia Islam,” ujar Erdogan. Bahkan Erdogan memahamkan bahwa kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid ini sebagai langkah awal untuk membebaskan Masjidil Aqsha di Palaestina dari penjajahan Yahudi Israel.

Erdogan berencana bahwa sholat pertama di masjid itu yang akan diadakan pada Jumat, 24 Juli akan disiapkan untuk menampung 1.000-1.500 jamaah di dalam dan di luar masjid pada saat yang bersamaan.

Pro dan Kontra

Pengubahan Museum Hagia Sophia menjadi masjid memunculkan pro dan kontra. Bukan hanya para tokoh bukan Islam dari negara-negara Eropa, bahkan juga ada ulama yang tidak sependapat.

Bahkan bukan pula terhadap apa yang dilakukan oleh Erdogan, namun juga terhadap apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih, mengubah Hagia Sophia menjadi masjid.

Ulama Kontra

Mufti Agung Dar Al-Ifta Mesir, Syekh Syauqi Allam, angkat bicara terkait dengan konversi Hagia Sophia. Dalam wawancara di televisi, Allam mengatakan bahwa langkah konversi yang dilakukan Turki tersebut tidak diizinkan dalam Islam.

“Kami, sebagai Muslim, diperintahkan untuk melestarikan gereja. Nabi Muhammad SAW selalu merekomendasikan dalam perang untuk tidak menghancurkan kuil atau membunuh biksu,” kata Allam seperti dikutip dari Ahval News, Senin (20/7).

Ulama Pro

Syaikh Shallaby, “Mengubah gereja menjadi masjid diperbolehkan, karena pembebasan negeri itu dengan jalan peperangan. Sedangkan dalam masa perang, ada hukum syariat Islam yang mengatur tersendiri tentang itu.”

Bagi penulis, Masjid Hagia Sophia bukan hanya sekadar simbol tempat ibadah bagi umat Islam berupa masjid. Namun, pengubahan gereja menjadi masjid pun merupakan simbol dominasi Islam atas dunia.

Sultan Muhammad Al-Fatih telah merealisasikan hadits nabawi sehingga meraih kemenangan besar dalam membuka Konstantinopel (857 H/1453 M). Ia mengganti namanya dengan Islambul (ibu kota Islam) dan bertekad menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Islam seluruh dunia. Sedangkan masjid adalah simbol teragung di pusat ibu kota Islam, Islambul, ”Hanya boleh ada satu kerajaan di bumi, hanya ada satu Islam dan satu kedaulatan di dunia.”

Erdogan yang mengubah Hagia Sophia menjadi masjid, telah mengikuti jejak Sultan Muhammad Al-Fatih. Perlu pulakah mengubah nama Istanbul menjadi Islambul lagi?

Sedangkan cita-cita Erdogan yang akan membebaskan Masjidil Aqsha, seakan hendak meniti langkah Yavuz Salim yang meraih kemenangan dalam perang Marj Dabiq (1514).

Akankah Erdogan berhasil? Mungkinkah ia akan bertekad mengembalikan kekhalifahan Utsmani seperti masa Yavuz Salim (1517)? Atau hendak menguasai kembali Afrika, Asia dan Eropa serta menyatukan umat Islam dunia?, bahkan hendak membebaskan Roma di Italia?

Siapapun pemimpinnya, cita-cita membebaskan Roma adalah cita-cita umat Islam di akhir zaman. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here