Mahasiswa UIN Malang Raih Indeks Kemampuan Baca Al-Quran Tertinggi 

47
UIN Malang (Foto: uin-malang.ac.id)

Jakarta, Muslim Obsession – Kabid Kajian dan Pengembangan Al-Quran Abdul Aziz Sidqi dalam paparan hasil penelitian mengatakan, dari 14 UIN yang menjadi locus penelitian, hasilnya Indeks kemampuan baca Al-Quran tertinggi diraih UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan skor 3,94 (rentang 1 – 5). Sedang indeks terendah adalah UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru dengan skor 1.86.

Untuk kemampuan tulis Al-Quran, indeks tertinggi adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (3.80). Lagi-lagi UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru menempati indeks terendah (1.90).

Kementerian Agama melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat merilis hasil Penelitian Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) Mahasiswa UIN di Indonesia tahun 2019.

Seminar hasil penelitian BTQ 2019 diikuti puluhan peserta yang berasal dari berbagi lembaga penelitian perguruan tinggi keagamaan negeri dan berlangsung di Hotel Santika, TMII, Jakarta, Rabu (6/11).

Responden penelitian ini adalah mahasiswa semester tiga sampai lima. Mereka adalah mahasiswa yang terdampak langsung dari Keputusan Dirjen Pendis Nomor 102 tahun 2019 tentang Standar Keagamaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Lulusan PTKI, bahwa baca tulis Al-Quran menjadi salah satu kualifikasi yang harus dimiliki.

Setiap UIN, diambil 50 responden dengan komposisi 25 mewakili prodi umum, dan 25 mewakili prodi agama. Pengumpulan data dilakukan pada September 2019, dengan menggunakan empat instrumen yang secara teknis dilakukan secara simultan, yaitu: tes kemampuan, kuosioner, wawancara, dan dokumentasi.

“Secara umum kemampuan membaca dan menulis Al-Quran mahasiswa UIN di 14 kampus rata-rata bagus atau berkisar pada angka 3.19 untuk membaca dan 3.20 untuk menulis. Sebaran profil responden untuk prodi umum 51 persen dan prodi keagamaan 49 persen dengan menggunakan metode penelitian ex post facto,” ujar Abdul Aziz, seperti dikutip dari Kemenag, Kamis (7/11/2019).

Penelitian ex post facto merupakan penelitian yang bertujuan menemukan penyebab yang memungkinkan perubahan perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahan pada variable bebas yang secara keseluruhan sudah terjadi.

Adapun 14 UIN yang menjadi locus penelitian ini, sesuai urutan indeks hasil penelitian, yaitu: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Walisongo Semarang, UIN Syarif Hidatullah Jakarta, UIN Alauddin Makassar, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Sumatera Utara, UIN Imam Bonjol Padang, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Mataram Lombok, UIN Ar Raniry Banda Aceh dan UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru.

“Indeks ini menunjukan bahwa kemampuan membaca dan menulis tidak jauh berbeda meskipun ditemukan mahasiswa yang sama sekali tidak bisa baca Al-Quran berkisar 0.4 persen dan tidak bisa menulis 0.6 persen,” ujarnya.

“Rata-rata mahasiswa UIN sudah mampu mengenal huruf hijaiyah, izhar, ghunnah, qalqalah dan sebagainya,” sambungnya.

Abdul Aziz menjelaskan, penelitian terkait kemampuan BTQ di kalangan mahasiswa kali pertama dilakukan pada 2002. Penelitian kedua ini dilatarbelakangi semakin banyaknya IAIN yang bertransformasi menjadi UIN. Sehingga, jurusan umum atau non keagamaan juga bertambah.

Tujuan penelitian lanjut Abdul Aziz untuk mengetahui tingkat kemampuan baca tulis Al-Quran mahasiswa UIN di Indonesia termasuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kemampuan baca tulis Al-Quran. Selain itu, penelitian juga memotret gambaran program peningkatan kemampuan baca tulis Al-Quran yang diselenggarakan oleh UIN.

Rekomendasi yang diharapkan dari hasil peneltian ini, salah satunya adalah bahwa persoalan BTQ di UIN pada dasarnya berakar dari persoalan pendidikan dasar Al-Quran di jenjang pendidikan sebelumnya yang belum berhasil dan tuntas.

“Kementerian Agama perlu melakukan standarisasi pendidikan Al-Quran di semua jenjang pendidikan agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara lebih efektif. Kemenag melalui Direktorat PD Potren juga diharapkan dapat mensinergikan kelembagaan TPA/TKA dengan penyelenggaraan BTQ di pendididkan formal,” ujar Abdul Aziz.

Direktur Perguruan Tinggi Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Arskal Salim yang menjadi narasumber mengaku terkejut dengan tiga UIN yang berada di level bawah dalam kemampuan mahasiswany membaca dan menulis Al-Quran, yaitu UIN Ar-Raniry Banda Aceh, UIN Mataram dan UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru.

“Saya surprise melihat hasil penelitian di tiga UIN yang berada pada level bawah. Ketiga UIN ini merupakan wilayah yang kuat dengan basis keislamannya,” ujar Arskal.

Menurut Arskal Kemenag memberikan apresiasi kepada Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) yang sudah melakuan penelitian yang dinilai sangat penting ini. Penelitian BTQ menjadi penting untuk mengidentifikasi kebutuhan dan kelemahan yang dialami oleh mahasiswai perguruan tinggi kegamaan negeri.

Arskal mengharapkan ke depan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kemenag juga melakukan penelitian dan perbandingan dengan perguruan tinggi negeri seperti UI, ITB, UGM dan perguruan tinggi lainnya, untuk mengetahui sejauh mana level kemampaun BTQ mahasiswanya.

“Dari penelitian ini terlihat jelas sekali aspek-aspek yang memang diperlukan dalam meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Quran di kalangan mahasiswa UIN. Saya harap penelitian ini bisa dikembangkan lebih jauh lagi kepada mahasiswa prodi umum di perguruan tinggi negeri. Apakah kemampuan baca tulis Al-Quran di perguruan tinggi umum itu seimbang dengan di UIN atau jauh lebih rendah,” tandas Arskal.

Ada tiga model pembinaan dan peningkatan BTQ mahasiswa UIN yang dihasilkan dari hasil penelitian Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran yakni optimalisasi Ma’had Jamiah, kolaborasi dengan lembaga lain dan swakelola dengan mengambil tenaga pengajar dari dosen yang tersertifikasi. (Vin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here