M Natsir dan Dakwah Tanpa Sumpah Serapah

184
Buku “Fiqhud Da’wah” karya Mohammad Natsir.
Buku “Fiqhud Da’wah” karya Mohammad Natsir.

Oleh: Wildan Hasan (Aktivis Dakwah)

Syaikh Mohammad Natsir salah seorang tokoh dakwah dunia. Dalam kitabnya Fiqhud Da’wah menuliskan pada bab Kaifiat dan Adab Dakwah adanya keharusan bagi setiap da’i/muballigh untuk memilih dan menyusun kata yang tepat dalam dakwah dan ceramah yang disampaikannya.

Beliau mengutip satu ayat dalam surat Al Akhzab ayat 70, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah dengan kata-kata yang tepat ( qoulan sadiedan ).”

Menurutnya, dakwah dengan qoulan sadiedan adalah kata yang lurus (tidak berbelit-belit), kata yang benar, keluar dari hati yang suci bersih, dan diucapkan dengan cara sedemikian rupa, sehingga tepat mengenai sasaran yang dituju, yakni; sehingga panggilan dakwah sampai mengetuk pintu akal dan kalbu mereka yang dihadapi. (Hal.213)

Di sisi lain beliau menyatakan dakwah harus pula dilakukan dengan qoulan layyinan. Beliau kutip firman Allah Ta’ala dalam surat Thaha:43-44, “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun: sesungguhnya dia telah membuat kedzaliman yang melewati batas; maka katakanlah kepadanya “qoulan layyinan”; mudah mudahan ia akan ingat (akan kebenaran) atau merasa takut (akan azab Allah).”

Qoulan layyinan kata beliau lazim diterjemahkan “kata yang lembut atau kata yang manis”.

Syaikh Mohammad Natsir mengajak kita menelaah dakwah Nabi Musa dan Harun dalam menerapkan dakwah dengan menggunakan pendekatan qoulan sadiedan dan qoulan Layyinan terhadap Fir’aun. (219-227).

Di bagian akhir subbab terkait memilih dan menyusun kata yang tepat, beliau mengungkapkan dakwah Nabi Musa dan Harun kepada Fir’aun dilakukan secara tepat dan tajam tetapi halus dan bersih, keluar dari dari kalbu yang bersih. Bersih dari nafsu kasar yang hanya bisa menyalakan nafsu yang kasar pula pada pihak yang dihadapi.

Beliau mengingatkan kepada kita bahwa bila dakwah terhadap Fir’aun saja dilakukan dengan cara demikian tepat, halus dan bersih, apatah lagi dakwah yang ditujukan kepada sesama muslim. Jelas harus lebih tepat, santun, bersih, lembut dan lebih bersih. Tanpa caci maki, laknat dan sumpah serapah. Selain hal itu tidak beradab juga menyelisihi kaifiat dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Memang, tegas beliau, maki-makian dan main cap-capan bukanlah alat yang wajar bagi seorang pembawa dakwah. (Hal.226)

Bukan tanfier, menghalau orang, sehingga lari!

Gembirakan, jangan timbulkan kebencian hingga orang lari! (Hal.227)

Qoulan layyinan, kata beliau, adalah suara dakwah yang terkendali, oleh jiwa yang beriman. Oleh karena itu terpelihara dari meradang memburangsang. Terpelihara dari tajammul dan tazalluf, menjilat-jilat mengambil muka. Cara dan gayanya tidak terlepas dari adab. Adab orang berpribadi, yang bercelupkan shibghatullah. (Hal.227)

Syaikh Natsir mengatakan, qoulan layyinan memang tidak mengguntur menggemuruh. Ia layyin,  halus dan lembut.

Tetapi seperti halus dan lembutnya ujung urat pohon beringin, ia sanggup membelah batu karang.

M Natsir, dai yang tegas penuh prinsip tapi santun halus dan bersih.

Sungguh kita mendapati salah seorang  dai ilallah yang mampu berdakwah secara qoulan sadiedan dan qoulan layyinan, sekaligus adalah beliau sendiri; Syaikh Dr. Mohammad Natsir. Maka pelajarilah riwayat dakwah beliau, kita akan mendapati teladan indah dalam mengarungi samudera dakwah ilal khair.

Insya Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here