Kurangi Stres, Psikolog Minta Agar Guru Jangan Beri Tugas Berat

635
Ilustrasi: Tugas belajar.

Bogor, Muslim Obsession – Semakin hari jumlah korban terinfeksi dan meninggal dunia semakin terus bertambah. Situasi ini sungguh menakutkan dan menimbulkan tekanan psikologis bagi masyarakat.

Sejak berkembangnya pandemi Covid-19, masyarakat diminta di rumah. Semua diminta berdiam diri di rumah, siswa belajar di rumah, dan orang tua bekerja di rumah. Dan stres itu bermula ketika rumah yang didiami tidak sehat, baik dari segi kebersihan, ventilasi, kelayakan dan tata ruang sehingga berada di rumah bagi sebagian orang adalah sumber tekanan baru.

Belum lagi pemberitaan di sosial media yang berseliweran, tidak valid, hoax dan pembatasan gerak membuat situasi mencekam dan menimbulkan kecemasan dan panik semua lapisan. Alhasil, banyak yang bertindak di luar alam sadar seperti memborong barang makanan dan mengurung diri takut tertular, bolak-balik mencuci tangan secara berlebihan dan memutuskan hubungan sosial.

Demikian juga orang tua dan siswa yang belajar di rumah karena banyaknya tugas dan tidak terbiasa dengan pembelajaran melalui daring (online), banyak siswa dan orang tua yang stres karena mereka memiliki pengetahuan yang terbatas, fasilitas yang terbatas karena tidak semua punya handphone dan laptop) dan waktu yang terbatas (bila anaknya banyak bagaimana mengerjakan secara bersama).

“Dan itu semua dilakukan secara bersama dengan tugas rumah tangga seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah atau mengerjakan tugas kantor (WFH),” tutur Dekan Psikologi Universitas Mercu Buana, Muhammad Iqbal, Sabtu (4/4/2020).

Iqbal menambahkan, saat ini juga banyak guru yang stres karena menjalankan tugasnya mengoreksi dan memberi kelas online, padahal mereka kebanyakan baru belajar dan tidak terbiasa. “Ini juga menjadi sumber stres baru,” terangnya.

Di sisi lain, penurunan pendapatan ekonomi keluarga juga membuat semua orang mengalami stres, cemas dengan tekanan hidup, mereka memikirkan bagaimana kehidupan mereka ke depan.

Iqbal yang juga CEO Rumah Konseling ini mengatakan, stres dan cemas itu sangat berbahaya, karena berdampak langsung dan tidak langsung kepada kesehatan fisik dan kesehatan mental. Bahkan di beberapa negara pada fase ini korban semakin banyak karena kondisi psikis yang menurun sehingga daya tahan tubuh lemah dan mudah tertular penyakit termasuk Covid-19.

“Cemas dan stres menyebabkan daya tahan tubuh menurun, gangguan konsentrasi dan emosi, gangguan fisik dan psikosomatis dan bisa menyebabkan depresi,” ungkapnya.

Maka solusi terbaik menurutnya, yaitu dengan mengurangi tekanan dan kecemasan. Salah satu caranya dengan meningkatkan hormon endorfin atau dikenal dengan “hormon kebahagiaan”.

“Lakukan banyak aktifitas yang positif, berolah raga, berkarya, berdoa dan bersyukur, tersenyum, hiburan, hobi dan minat, optimis dan banyak menerima informasi positif,” tandasnya.

Iqbal juga mengimbau pemerintah melalui Kemendikbud untuk membuat kebijakan, dimana guru dan dosen tidak terlalu memberikan beban tugas yang berat kepada siswa karena bisa menyebabkan stres kepada siswa dan orang tuanya. Terlebih lagi bagi siswa yang tidak punya fasilitas yang baik, dimana mereka juga harus diberi kesempatan untuk sama-sama belajar.

Oleh karenanya ia berharap pemerintah memberikan kepastian, baik dari data, kepastian  subsidi ekonomi bagi keluarga yang berdampak langsung serta memberikan informasi yang jelas sehingga dapat menurunkan tekanan dan kecemasan.

“Terpenting, orangtua juga harus bisa memberikan ketenangan di rumah, karena kecemasan pada orangtua akan berdampak kepada anak yang juga akan cemas,” pungkasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here