Kopi Sehat UBM: Menyapa, Menata, Membela

149

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam PP PARMUSI – Direktur An Nahl Institute Jakarta)

Di Kota Al-Madinah Al-Munawwaroh, dekat dari Mujamma’ Malik Fahd atau Gedung percetakan Al-Quran Raja Fahd bin Abdul Aziz, ada sebuah baliho besar yang terpampang sejak lama, bahkan sudah beberapa kali diganti atau pasang ulang dengan tampilan lebih gres tapi isi yang sama.

Tulisan di baliho besar itu adalah empat program besar yang dicanangkan Rasúlulláh ﷺ ketika pertama kali tiba di Yatsrib dalam membangun Negri berkeadaban itu. Negri yang sangat heterogen terdiri dari suku, kabilah bahkan Agama dan aliran kepercayaan yang berbeda-beda dan kemudian diganti namanya menjadi Al-Madinah Al-Munawwaroh.

Realitas baru yang dihadapi Rasúlulláh ﷺ pada ketika itu adalah suasana dimana bukan hanya ada orang-orang yang menyambut dakwah beliau, tetapi ada kelompok pembenci bahkan golongan yang selalu menghasut dan menimbulkan perpecahan serta instabilitas yang sangat mengganggu susana sosial pada ketika itu.

Sebagai pendatang baru apalagi membawa misi dan ajaran baru, ajaran yang sangat bertolak belakang dari ajaran yang sudah ada dan berkembang, membuat Rasúlulláh ﷺ harus mencari cara untuk mengatasi kerawanan itu. Hal inilah kemudian membuat beliau mencanangkan empat agenda reformasi itu:

أيها الناس: أَفْشُوا السَّلاَمَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الأَرْحَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ ‏ ‏

“Wahai sekalian Manusia: Sebarkan salam, berikan makan, sambungkan silaturrahim dan shalatlah di tengah malam saat kebanyakan manusia pada tidur agar kalian masuk Surga dengan selamat”.

Empat agenda reformasi yang sangat mengakar dan dicatat dalam kitab Sunan Ibnu Majah nomor 3374 itu dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pertama, sebarkan salam. Maknanya adalah menyapa dengan kelembutan,menghadirkan rasa aman, nyaman, hadirkan keamanan dan kenyamanan. Jangan ada teror dan intimidasi, jangan ada ada narasi kebencian dan kedengkian apalagi yang dapat membuat tirani minoritas dan merorongrong posisi mayoritas.

Kedua, berikan makan. Maknanya adalah menata ekonomi, membangun keadilan yang proporsional, jangan membuat kesenjangan yang semakin menganga antara si kaya dan si papa. Jangan ada hegemoni segelintir orang yang kemudian terkesan memarjinalkan kelompok yang lebih besar. Jangan ada oligarki yang diberi tempat special apalagi sampai pada membuat pesta koruptif dan kolusif.

Ketiga, sambungkan tali silaturrahim. Maknanya membangun jaringan, merawat kebersamaan, meminimalisir bahkan menghilangkan kerawanan dengan pembelaan yang sejati berupa pemerataan yang berkeadilan. Distribusi kekayaan yang seimbang dan proporsional sehingga muncul rasa nyaman. Si kaya yang tak merasa dirongrong dan si papa yang tak merasa ditindas.

Keempat, Membangun kekuatan spirtual. Shalat malam adalah ibadah khas. Ibadah yang sangat spesial dalam menaata ruhani sekaligus jasmani. Dal am kehidupan ini, kita tak hanya butuh IQ dan EQ tapi SQ sehingga terjadi keseimbangan hidup sesuai dengan suara hati dan jiwa sebenarnya.

Membangun jangan seperti membangun Rumah sakit! Kenapa? Karena sehebat apapun bangunannya, secanggih apapun interiornya, sekokoh apapun rancangannya tetaplah sebuah Rumah sakit, di mana isinya pasti orang-orang sakit! Baik yang sakit fisik ataupun sakit mental dan jiwa.

Semoga Negri kita yang kabinetnya dijuluki INDONESIA MAJU ini, benar maju! Majunya dalam segenap dimensi, maju fisiknya, maju psykisnya. Maju negerinya, sejahtera Rakyatnya dan mejadi Negara Sukses dan yang punya Iman kelak masuk Surga Dàrussalám… Aamiin Yá Muhaimin Yá Salàm.

والله اعلم و المستعان وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here