Kisah Wali Samud Wafat Usai Dapat Salam dari Mbah Hamid Pasuruan

128

Jakarta, Muslim Obsession – Sepintas jika orang melihat dari fisik, mbah Samud adalah seorang yang gila, bagaimana tidak setiap hari dia berpenampilan layaknya orang dekil, tidak terurus, hidupnya hanya mondar mandir dari pasar ke pasar. Persis seperti tidak punya arah tujuan.

Tapi siapa sangka, Mbah Samud ternyata adalah seorang wali besar, paku buminya tanah Jawa. Dalam kesehariannya, Mbah Samud sering terlihat dari pasar Kaliwungu Kendal, pasar Mangkang Semarang, pasar Jerakah Semarang, pasar Karangayu Semarang, pasar Bulu Semarang.

Ia juga sering tidur di pasar Jerakah Semarang. Kadang berjalan kaki, namun terkadang numpang angkot, dan para sopir angkot pasti merasa senang jika ditumpangi Mbah Samud.

Kenapa karena saat dia naik angkot, banyak orang memberikan sedekah kepada Mbah Samud. Namun semua uang sedekah itu tidak ia makan sendiri, bahkan semua diberikan kepada sopir angkot. Begitu terus seterusnya.

Demikian juga orang-orang yang mempunyai warung makanan di pasar, mereka akan berebut menewari Samud agar mau makan di warungnya. Karena uang sedekah yang diberikan ke Samud diberikan lagi ke yang punya warung.

Sebenarnya banyak orang di pasar-pasar tersebut yang sudah menyadari keanehan Samud, mereka bilang kalau Mbah Samud bukan orang biasa, maka tidak boleh diganggu.

Termasuk kebiasaan Samud yang sering tidur beralaskan daun kurma yang masih baru/basah, dan sering membawa buah kurma yang masih muda (hijau) entah dapat dari mana.

Samud ditemukan meninggal di pasar Jerakah Semarang, setelah mendapat salam dari Mbah Hamid Pasuruan yang dititipkan orang Kendal yang sowan Mbah Hamid. Jenazah beliau dirawat oleh Modin Jerakah dan dimakamkan di TPU Bergota Semarang.

Terkuaknya Kewalian Wali Samud Semarang oleh Mbah Hamid Pasuruan

Pada suatu waktu, ada tamu dari Kendal sowan kepada Mbah Hamid. Singkat cerita, Mbah Hamid menitipkan salam untuk Wali Samud yang kesehariannya berada di pasar, menitipkan salam untuk seorang yang dianggap gila oleh masyarakat Kendal dan Semarang.

Wali Samud kesehariannya berada di sekitar pasar dengan pakaian dan tingkah laku persis seperti orang gila. Namun tidak pernah mengganggu orang-orang di sekitarnya. Terkadang beliau membantu bongkar muat barang-barang di pasar dan tidak mau di kasih upah.

Tamu tersebut bingung kenapa Mbah Hamid sampai menitip salam untuk Samud yang dianggap gila oleh dirinya dan orang-orang di daerahnya.

Tamu tersebut bertanya:

“Bukankah Samud tersebut adalah orang gila Kiai…?”

Kemudian Mbah Hamid menjawab:

“Beliau adalah Wali Besar yang menjaga Kendal dan Semarang, Rahmat Allah turun, bencana ditangkis, itu berkat beliau, sampaikan salamku!”

Kemudian, setelah si tamu pulang ke Kendal, menunggu keadaan pasar sepi, dihampirinyalah Wali Samud yang dianggap “orang gila” itu.

“Assalamu’alaikum…” sapa si tamu.

Wali Samud memandang dengan tampang menakutkan layaknya orang gila sungguhan, kemudian keluarlah seuntai kata dari bibirnya dengan nada sangar,

“Wa’alaikumussalam… Ada apa?”

Dengan badan agak gemetar, si tamu memberanikan diri,

Berkatalah ia, “Panjenengan dapat salam dari Mbah Hamid Pasuruan, Assalamu’alaikum…”

Tak beberapa lama, Wali Samud berkata,

“Wa’alaikum salam” dan berteriak dengan nada keras,

“Kurang ajar si Hamid, aku berusaha bersembunyi dari manusia, agar tidak diketahui manusia, kok malah dibocor-bocorkan”

“Ya Allah, aku tidak sanggup, kini telah ada yang tahu siapa aku, aku mau pulang saja, gak sanggup aku hidup di dunia.”

Kemudian Wali Samud membaca sebuah do’a, dan bibirnya mengucap, “Laa Ilaaha Illallah… Muhammadur Rasulullah”

Seketika itu, langsung wafat lah Wali Samud di hadapan orang yang diutus Mbah Hamid agar menyampaikan salam, hanya si tamu lah yang meyakini bahwa orang yang dicap sebagai orang gila oleh masyarakat Kendal dan Semarang itu adalah Wali Besar.

Tak satu pun masyarakat pada saat itu yang meyakini bahwa orang yang meninggal di pasar adalah seorang wali. Kini Wali Samud sudah tiada, makamnya di TPU Bergota Semarang, ramai dikunjungi masyarakat untuk berziarah.


Sumber : Syaikhuna wa Murobbi Arwachina KH. Achmad Sa’idi bin KH. Sa’id (Pengasuh Ponpes Attauhidiyyah Talang, Tegal) dan Dari Cerita Ulama dan Masyarakat Semarang, Kendal dan sekitarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here