Kisah Suami-Istri Yahudi Masuk Islam karena Maulid Nabi

113
gold light rays and stars abstract background

Oleh: Drs. H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Ada kisah menarik dari kitab Syaraful Anam yang disusun oleh Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Qoshim Al-Maliki Al-Bukhori Al-Hariri di Tahun 1354 Masehi, bertepatan dengan kekhalifahan Turki Usmani yang sukses menaklukkan beberapa kota besar di Eropa.

Dalam kitab itu terdapat kisah tentang keluarga Yahudi yang masuk Islam setelah tetangganya yang Muslim mengadakan acara Maulid Nabi Muhammad ﷺ.

Abdul Wahid bin Ismail mengisahkan, di Mesir terdapat seorang yang mengadakan perayaan maulid Nabi Muhammad ﷺ setiap tahunnya. Tetangganya adalah seorang Yahudi yang tinggal bersama istrinya.

Sang istri Yahudi tersebut berkata kepada suaminya, “Apa yang dilakukan tetangga kita yang Muslim itu? Setiap tahun mereka menginfakkan harta yang melimpah saat bulan Maulid.”

“Sungguh, mereka menganggap bahwa Nabinya (Muhammad ﷺ) dilahirkan pada bulan itu, kemudian mereka merayakan hari lahirnya sebagai ungkapan kebahagiaan dan tanda penghormatan bagi Nabi dan hari kelahirannya,” jawab suaminya.

Setelah percakapan itu, sang Istri tidur seperti biasa. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat seorang laki-laki yang tampan, mulia, memiliki wibawa dan martabat. Kemudian istri Yahudi tersebut memasuki rumah tetangganya yang muslim itu.

Dia menyaksikan seseorang yang dikelilingi orang-orang banyak. Puja-puji dengan kalimah-kalimah indah untuk seorang tampan yang duduk di tengah itu.

Istri Yahudi itu bertanya kepada salah seorang di antara mereka yang mengelilingi orang mulia itu:

“Apakah dia akan menjawab, apabila aku memanggilnya?”

“Ya..” jawab saalah seorang di antara mereka.

Lalu Ia pun mendekati sosok yang berwibawa tersebut dan memanggilnya:

“Wahai Muhammad…”

Labbaik (aku penuhi panggilanmu),” jawab Rasulullah dalam mimpi tersebut.

“Mengapa engkau mau menjawab panggilanku dengan penuh perhatian seperti tadi, sedangkan aku bukanlah seorang Muslim, bahkan aku adalah musuhmu,” perempuan tersebut heran.

“Demi Dzat yang telah mengutusku sebagai Nabi, tidaklah aku jawab panggilanmu kecuali aku telah mengetahui bahwa Allah telah memberimu hidayah,” jawab Nabi ﷺ.

“Sesungguhnya akhlakmu begitu mulia, dan sungguh engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung. Lenyaplah orang yang menyelisihi perintahmu dan merugilah orang yang tidak mengetahui derajatmu. Ulurkanlah tanganmu, maka aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah.”

Perempuan Yahudi itu mengucapkan Syahadat sebanyak tiga kali.

Kemudian ia berjanji kepada Allah, bahwa apabila telah datang pagi hari ia akan bersedekah dengan seluruh apa yang dimiliki dan membuat perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ sebagai ungkapan kebahagiaan sebab ke-Islamannya, dan tanda terima kasih atas penglihatan yang dianugerahkan kepadanya di dalam tidurnya.

Menjelang pagi hari, ia melihat suaminya telah sibuk mempersiapkan suatu acara. Sang istri pun kaget, dan berkata kepada suaminya.

“Apa yang membuatku melihatmu melakukan perbuatan terpuji ini?” tanya sang istri kepada suami.

“Karena telah Islamnya engkau oleh Nabi Muhammad ﷺ tadi malam.”

“Siapa yang menyingkap kepadamu mengenai rahasiaku, dan siapa yang menceritakannnya kepadamu?”

“Dialah yang telah meng-Islamkan-ku setelah engkau di-Islamkan olehnya, sebagaimana ia mengenalkan Allah dan menyeru kepada-Nya, maka beliaulah yang memberi syafaat di hari esok pada siapapun yang bershalawat serta salam kepadanya.”

Demikian, semoga kita dapat memperingati Maulid Nabi ﷺ dengan keikhlasan dan penuh cinta, karena kelak kita akan dipertemukan dengan orang yang kita cintai. Aamiin.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here