Kisah Pemuda Jomblo yang Sangat Mencintai Rasulullah

1332
Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Muslim Obsession – Kisah ini tentang seorang pemuda tampan bernama Tsa’laba bin Abdurrahman yang sangat cinta dan patuh kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dikisahkan, suatu ketika Tsa’laba hendak pulang, di tengah perjalanan ia melewati satu rumah yang sangat sederhana. Kebetulan rumah itu terbuka pintunya dan tanpa sengaja saat melintasi rumah itu Tsa’laba menoleh ke arah pintu rumah yang terbuka.

Bersamaan dengan itu ia tanpa sengaja melihat seorang wanita penghuni rumah yang kebetulan keluar dari kamar mandi.

Karena kejadian itu, Tsa’laba menangis sejadi-jadinya. Ia berlari tanpa arah sampai keluar dari Kota Madinah. Rupanya ia malu atas perbuatan yang baru saja ia lakukan.

Ia berkata, “Mataku ini tak pantas memandang wajah mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tubuh ini tak pantas bersanding dengan tubuh mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,” katanya dengan wajah yang masih menangis.

Begitu besar rasa cintanya kepada Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ia merasa tak tulus dalam cintanya karena telah melangagar apa yang dilarang oleh Sang Kekasih Tercinta.

Tsa’laba malu dan merasa tak pantas lagi bersama Sang Kekasih, meskipun pada hakikatnya perbuatan itu tidak melangagar karena dilakukan tanpa sengaja.

Akhirnya ia pun bersembunyi di antara dua bukit di perbatasan Kota Madinah.

Setelah beberapa hari Rasulullah tak melihat Tsa’laba, beliau pun bertanya kepada para sahabat, ke manakah Tsa’laba? Apakah dia sakit?

Akhirnya Rasulullah mengutus sahabatnya Umar bin Khattab dan seorang yang menemani untuk mencari Tsa’laba.

Berangkatlah Sayyidina Umar pergi mencari Tsa’laba ke tempat yang diisyaratkan oleh Baginda Rasul.

Setelah sampai di tempat tersebut Umar tak menemukan siapapun yang ada, hanya bukit berbatu dan hamparan padang pasir.

Umar terus menyusuri padang yang menghampar. Hingga tak lama mereka berdua menemukan seorang penggembala kambing.

Umar pun mengampiri si Penggembala dan bertanya, “Hai Bapak, apakah Engkau melihat seorang pemuda dengan ciri-ciri ia orangnya periang dan selalu tersenyum?”

Si Bapak ini menjawab, “Kami tak pernah melihat pemuda Seperti yang Anda sebutkan tersebut. Hanya saja ada seorang pemuda yang biasanya ke sini untuk meminta air minum padaku. Wajahnya murung dan sering menangis. Setelah meminta minum, ia akan kembali lari lagi ke atas bukit. Sepertinya bukan dia yang Anda cari, Tuan..”

Di manakah dia, wahai Penggembala? Aku ingin melihatnya,” tanya Sayyidina Umar.

Si Penggembala pun menunjukkan tempat di mana pemuda itu berada.

Dan tak beberapa lama Umar dan sahabatnya itu sampai di tempat yang ditunjuk. Mereka pun bertemu dengan seorang pemuda yang terlihat lusuh dan tengah menangis.

Umar menyapa dan berucap salam Kepadanya. Melihat siapa yang dating, pemuda itu berniat hendak lari namun Umar memberi pengertian kepadanya bahwa Rasulullah mencarinya karena beberapa hari tidak melihatnya.

Sambil sesenggukan pemuda ini bertanya, “Apakah Rasulullah marah kepadaku? Atas apa yang telah aku perbuat, aku sangat malu dan tak pantas orang sepertiku ini berpjumpa dan memandang Rasulullah.”

Usai berkata demikian, pemuda ini jatuh pingsan. Sayyidina Umar kemudian membopong pemuda itu dan membawanya pulang.

Setelah sampai di Kota Madinah, Sayyidina Umar menyampaikan bahwa Tsa’laba bin Abdurrahman telah ditemukan. Ia pun menceritakan perihal yang terjadi dan mengabarkan jika saat ini Tsa’laba berada di rumahnya.

“Apakah perlu aku memanggilnya, Ya Rasulullah..?” tanya Sayyidina Umar.

“Tidak, Umar. Biar aku yang akan mendatanginya,” kata Rasulullah.

Kemudian Rasulullah berangkat ke rumah Tsa’laba diikuti beberapa sahabat.

Sesampainya di sana, ternyata Tsa’laba jatuh Sakit. Rasulullah pun menghampirinya dan meletakkan kepala Tsa’laba dalam pangkuannya. Namun Tsa’laba menolak.

“Jangan, wahai Rasulullah. Tak pantas kepala yang hina ini berada dalam pangkuanmu…”

“Ada pada denganmu, wahai Anak Muda?” tanya Rasulullah. “Ke manakah engkau beberapa hari ini, wahai Ibni Abdurrahman?” sambung Rasulullah.

“Betapa besar rasa cinta ini kepadamu, ya Rasulullah. Namun aku merasa telah melukai perasaan Anda atas apa yang telah aku perbuat,” jawab Tsa’laba.

Ia kemudian menceritakan apa yang dialaminya kepada Baginda Rasul. Mendengar itu, Rasulullah tersenyum dan bangga atas cinta pemuda ini.

Namun, takdir berkata lain. Usai Tsa’laba menceritakan pengalamannya itu, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya. Saat itu ia persis berada di pangkuan Rasulullah.

Rasulullah pun turut serta memandaikannya, mengkafani, dan menjadi imam shalat jenazah. Bahkan Rasulullah pun turun ke liang lahat untuk memasukkan jenazah Tsa’laba.

Sebuah kejadian tak biasa terjadi saat jenazah Tsa’laba dibawa ke kuburan. Saat Rasulullah ikut memikul jenazahnya, Beliau berjalan dengan kaki menjingkat (Jawa–berjinjit).

Kejadian ini membuat para sahabat heran dan bertanya, “Mengapa Rasulullah berjalan seperti itu…”

“Ini semua karena jalanan ini telah sempit dan kakiku tak bisa berjalan seperti biasa, karena banyaknya para Malaikat yang turun ikut mengantarkan jenazah ini..” kata Rasulullah.


**Dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah Al-Anshari, dikutip dari Mukhatashar Kitabit-Tawwabiin yang ditulis oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here