Kisah Gus Qoyyum Tentang Ciri Harta yang Tidak Bersih

351
KH. Abdul Qoyyum Manshur atau Gus Qoyyum. (foto: ahad.co.id)

Muslim Obsession – KH. Abdul Qoyyum Manshur atau Gus Qoyyum menceritakan sebuah kisah yang tertulis dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali.

Pengasuh pondok pesantren An-Nur Lasem, Rembang, Jawa Tengah ini menceritakannya pada sebuah kesempatan berceramah.

Dahulu ada orang pamit kepada Syaikh Bisyr Al-Hafi untuk melaksanakan ibadah haji. Syaikh Bisyr Al-Hafi ini merupakan ulama sufi yang terkenal senang berjalan tanpa mengenakan sandal, makanya dijuluki Al-Hafi yang bermakna telanjang kaki.

“Syaikh, saya ke sini untuk pamit hendak berangkat melaksanakan ibadah haji,” ujar orang tadi.

Mendengar itu, Syaikh Bisyr bertanya kepadanya, “Anda berangkat haji itu sudah menyiapkan dana seberapa banyak?”

“Dua ribu Dirham,” jawabnya.

“Kamu mau tidak saya tunjukkan sebuah amal dua ribu Dirham tapi tidak perlu repot ke Makkah?” ujar Syaikh Bisyr. “Bahkan pahalanya melebihi pahala ibadah haji sunnah,” jelasnya.

Haji sunnah di sini menurut Gus Qayyum adalah pelaksanaan ibadah haji yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Bukan ibadah haji yang dilakukan pertama kali.

“Amal itu adalah memberikan dana untuk berangkat ibadah haji tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti diberikan kepada orang fakir, orang terlilit hutang yang tidak bisa bayar, orang yang memiliki anak banyak, dan orang yang merawat anak-anak yatim,” kata Syaikh Bisyr.

“Kamu berikan hartamu itu ke orang-orang ini lebih baik daripada berangkat haji kedua, ketiga, dan seterusnya”.

Lalu apa jawaban orang tersebut?

“Syaikh, saya lebih baik tetap berangkat haji saja,” kata dia. Setelah itu dia pulang dari hadapan Syaikh Bisyr.

Selepas orang itu pergi, Syaikh Bisyr berujar, “Inilah tandanya kalau uang tidak bersih”.

Gus Qoyyum menjelaskan, uang yang tidak bersih berdampak pada syahwat untuk kepentingan egoistik. Jika seseorang beribadah, ia akan beribadah yang egoistik, hanya berdasarkan kepentingan pribadi.

“Jadi kepuasan ibadah itu berlaku hanya untuk kepentingan pelakunya, yang bisa menyenangkan dirinya sendiri. Tidak bisa ibadah yang bisa menyenangkan hati orang lain,” jelasnya.

Gus Qpyyum berpesan, setiap orang beriman seharusnya memiliki takwa yang sejati (haqqo tuqotih). Ketika seseorang beribadah, maka ibadahnya itu pun harus dapat menyenangkan orang lain.

Gus Qoyyum mencontohkan, jika seseorang tidak berpuasa Asyura, ia bisa beribadah dengan memberikan makanan dan minuman untuk buka mereka yang berpuasa Asyura.

“Nah, ini kan menyenangkan orang lain..” tandasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here