Kisah Arsitek Asal Belanda: Mualaf dan Merancang Masjid Cipaganti

335
Masjid Raya Cipaganti di tahun 1934 dengan latar belakang gunung Tangkuban Perahu (Foto: lecturer)

Merancang Masjid

Schoemaker berani mengatakan arsitektur di kalangan umat Islam tengah merosot setelah melihat bentuk-bentuk masjid di Hindia Belanda. Menurutnya masjid-masjid di Indonesia tidak ada yang menarik yang mengandung nilai budaya.

“Demikianlan di seluruh tanah Jawa ini, boleh dikatakan tidak ada satu pun masjid yang menarik perhatian dan membangunkan semangat. Tidak ada satu pun yang mempunyai arti sebagai buah arsitektur, baik tentang bangunnya ataupun tentang buatan bagian-bagiannya yang terkecil,” demikian Schoemaker memberikan penilaian.

Lima tahun sebelum kritik Schoemaker muncul di buku Cultuur Islam, dia telah merancang sebuah masjid berdasarkan gagasannya tentang arsitektur Islam. Masjid ini terletak di Nijlandweg (sekarang Jalan Cipaganti), Bandung.

Masjid ini menampilkan pengaruh Arab, Eropa, dan tradisional Hindia Belanda. Pengaruh Arab tersua dalam lengkung tapal kuda di pintu masuk dan hiasannya, yaitu keramik masjid dengan teks huruf Arab.

Pengaruh Eropa muncul dalam denah simetris berbentuk salib Yunani. Gaya ini biasa Schoemaker pakai dalam bangunan rancangannya seperti Gereja Bethel dan Jaarbeurs. Bentuk atap masjid menyerupai atap gereja Bethel dengan bertumpu pada konstruksi baja modern. Konstruksinya sangat mirip dengan pendopo Jawa.

Inilah masjid pertama dan terakhir rancangan Schoemaker. Dia tak pernah lagi mewujudkan gagasannya tentang bagaimana seharusnya arsitektur Islam. Dia lebih banyak merancang bangunan swasta untuk fungsi profan sampai akhirnya Schoemaker wafat di Bandung pada 22 Mei 1949. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here