Kiai NU Ini Disebut Ustadz Adi Hidayat Sebagai Manusia Quran

260
Gus Baha.
Gus Baha.

Muslim Obsession – KH. Bahauddin bin Kiai Nursalim atau biasa disapa dengan sebutan Gus Baha, belakangan ini diperbincangan banyak orang.

Bahkah Ustadz kondang Adi Hidayat dalam satu kesempatan pernah mengatakan bahwa Gus Baha sebagai Manusia Quran.

“Di Rembang itu ada manusia Quran yang tidak banyak dikenal orang. Itu kalau bapak-ibu Tanya tentang fikih-fikih dalam Al-Quran, itu beliau luar biasa. Namanya Gus Baha, Gus Baha. Kapan-kalau kalau ada pengajiannya, hadiri pengajiannya. Itu di antara orang yang mengerti Al-Quran,” kata Ustadz Adi Hidayat dalam sebuah tayangan, belum lama ini.

Gus Baha, kiai kelahiran 1970 ini merupakan putra dari Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Al-Quran di Kragan, Narukan, Rembang.

Jika dirunut, Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah Gus Miek (KH Hamim Jazuli).

Cermah-ceramah Gus Baha di Youtube disenangi santri-santri dan milenial muslim. Rekaman beberapa pengajian Gus Baha ramai disimak dan diperbincangkan. Cara ngaji yang selow dan renyah, menjadi ciri khas Gus Baha.

Gus Baha adalah sosok yang sederhana. Dalam setiap kesempatan ceramah, Gus Baha selalau menggunakan kemeja putih dan peci hitam denga agak didorong sedikit ke belakang, sehingga sedikit rambut kepala depannya terlihat.

Gus Baha memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 ia menyewa rumah di Yogya. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya.

Mereka menyewa rumah yang tak jauh dari kediamannya. Ketika ayahnya wafat pada 2005, ia harus kembali ke Kragan, tetapi pengajiannya di Yogyakarta tetap berlangsung sebulan sekali.

Ia juga mengampu pengajian tafsir di Bojonegoro dan mengajar ushul fiqih di Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati.

Dibawah bimbingan ayahnya sendiri, Gus Baha kecil mulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Quran. Pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Quran beserta Qiro’ahnya dengan lisensi yang ketat dari sang ayah.

Ketika remaja, sang ayah menitipkan Gus Baha mondok dan berkhidmah kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan. Di Al-Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam fan-fan ilmu syari’at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir.

Dalam riwayat pendidikan beliau, semenjak kecil hingga mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, Gus Baha hanya mengenyam pendidikan dari dua pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan dan PP. Al Anwar Karangmangu.

Selain di pondok pesantren, Gus Baha juga mengabdi di Lembaga Tafsir Al-Quran Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarta dan diminta mengasuh Pengajian Tafsir Al-Quran di Bojonegoro, Jawa Timur. Di Yogya, Gus Baha mengajar tiap Minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro ia mengjar di Minggu kedua setiap bulannya.

Gus Baha pernah ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagat Tafsir Al-Quran di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar.

Selain Ustadz Adi Hidayat, Prof. Quraisy Shihab juga pernah berkata mengenai Gus Baha.

“Sulit ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail Al-Quran hingga detail-detail fiqh yang tersirat dalam ayat-ayat Al-Quran seperti Pak Baha,” ujar Quraisy Shihab.  (Way)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here