KEMATIAN

1005
Ilustrasi: Kematian.

Oleh: Abdullah Mahmud

Kematian adalah pintu yang akan pasti dimasuki oleh setiap yang bernyawa. Kematian, misteri yang tidak bisa diungkap oleh manusia. Karena itu menjadi rahasia hanya milik Allah

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ – ١٨٥

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (QS. Ali ‘Imran, 3: 185)

وَجَاۤءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيْدُ – ١٩

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari,” (QS. Qaf [50]: 19).

قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ – ٨

“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,” (QS. Al-Jum’ah [62]: 8).

Nabi ﷺ bersabda:

 « كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرُ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ»

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi,” (HR. Muslim).

Makanya, orang yang mengingkari takdir itu tidak akan masuk surga, kata Nabi ﷺ:

«لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَاقٌّ ، وَلا مُدْمِنُ خَمْرٍ ، وَلا مُكَذِّبُ بِالقَدَرِ »

“Tidak akan masuk surga orang yang durhaka (kepada kedua orang tuanya), pecandu minuman keras dan orang yang mendustakan takdir,” (HR. Ahmad. Shahih).

Setiap manusia pasti melewati 5 masa waktu;

Pertama, waktu yang sudah berlalu.

Kedua, waktu yang sedang dijalani.

Ketiga, waktu esok insyaallah.

Keempat, waktu kematiannya.

Kelima, waktu di akhirat yang tiada batasnya itu.

Hidup kita dibatasi dengan kematian. Manusia punya pilihan untuk hidup sesukanya, mau berbuat baik atau buruk tapi dibatasi dengan kematiannya dan akan mempertanggung jawabkannya di akhirat.

Bisa mencintai seseorang atau keluarganya tapi pasti berpisah.

Bisa menumpuk kekayaan tapi semua dibatasi oleh kematiannya.

Karena itu, bila seseorang meninggal, harta dan keluarga dia tinggalkan hanya amalnya yang menyertainya di kuburan. Balasan itu tergantung dari perbuatannya. Aljaza’ min jinsil amal. Perhatikan kondisi orang saat meninggal dunia.

Kematian orang shalih,

الَّذِيْنَ تَتَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ طَيِّبِيْنَ ۙيَقُوْلُوْنَ سَلٰمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ – ٣٢

“(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), “Salamun ‘alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan,” (QS. An-Nahl [16]: 32).

Kematian orang yang kafir,

وَلَوْ تَرٰٓى اِذْ يَتَوَفَّى الَّذِيْنَ كَفَرُوا الْمَلٰۤىِٕكَةُ يَضْرِبُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَاَدْبَارَهُمْۚ وَذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ – ٥٠

“Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar,” (QS. Al-Anfal [8]: 50).

dan kematian orang muslim yang zalim karena meninggalkan perintah Allah,

اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِيْٓ اَنْفُسِهِمْ قَالُوْا فِيْمَ كُنْتُمْ ۗ قَالُوْا كُنَّا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِى الْاَرْضِۗ قَالُوْٓا اَلَمْ تَكُنْ اَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَا ۗ فَاُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ ۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًاۙ – ٩٧

“Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali,” (QS. An-Nisaa [4]: 97).

Karenanya, orang yang sadar akan kematiannya, maka dia akan melakukan 3 hal:

Pertama, menyegerakan bertaubat.

Kedua, mensyukuri karunia Allah yang dia peroleh dengan menggunakannya untuk taat kepada Allah.

Ketiga, semangat dalam beribadah kepada Allah, begitu kata Imam Ad-Daqqaq.

Dalam suasana wabah COVID-19 yang menimpa ummat manusia dewasa ini tidak terkecuali kita di Indonesia, bergelimpangan orang yang wafat terkena virus corona itu. Seharusnya kita bersiap diri menghadapi segala kemungkinan termasuk kematian. Yang penting bagaimana kita bisa memperoleh husnul khatimah.

Menurut hadits-hadits Nabi ﷺ yang shahih ada 18 model orang yang bisa memperoleh husnul khatimah. Di antaranya mati mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’, mati dalam amal shalih dan mati kena wabah penyakit tha-’un (semacam sekarang virus corona) dll.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here