Jokowi: Indonesia Rumah Semua Agama

130
FKUB - Jokowi
Presiden Jokowi berfoto bersama para peserta Silaturahim Peserta Rapat Koordinasi Nasional Forum Kerukunan Umat Beragama di Istana Negara, Jakarta, Selasa (28/11/2018) sore. (Foto: Setkab)

Muslim Obsession – Penegasan Indonesia ramah pada semua pemeluk agama telah didengungkan jauh-jauh hari. Di era pemerintahan saat ini, Presiden Joko Widodo bahkan menyebut Indonesia sebagai rumah bagi semua agama. Jokowi meyakini agama merupakan pendorong demokrasi di Indonesia, bukan penghalang terjalinnya toleransi.

Para pemeluk agama di Indonesia sejak dahulu berperan penting dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Tak heran jika nilai-nilai perdamaian tetap dipegang teguh seluruh umat beragama di negeri ini.

“Nilai mengenai perdamaian sampai saat ini terus dipegang umat Islam Indonesia. Selain Islam, Indonesia adalah rumah bagi umat Kristiani, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kongfucian,” kata Jokowi saat membuka Bali Democracy Forum pada 8 Desember 2016.

Menyinggung Islam, Jokowi menyadari bahwa mayoritas penduduk Indonesia atau sekitar 85 persen merupakan umat muslim. Namun, ia juga meyakini, Islam di Indonesia tetap mengedepankan perdamaian sebab ajaran Islam masuk Indonesia dengan cara damai.

Mantan Wali Kota Surakarta ini menilai, perilaku untuk menjaga perdamaian terlihat jelas di masyarakat. Menurutnya, masyarakat dapat merasakan dan menyadari toleransi dan sinergi terjalin di antara mereka terutama yang berbeda keyakinan.

Ia mencontohkan Pondok Pesantren Bali Bina Insani di Tabanan. Meski mayoritas masyarakat Bali merupakan umat Hindu, namun keberadaan pondok pesantren tersebut dilindungi masyarakat sekitarnya.

“Jadi bagaimana mungkin sebuah pondok pesantren dapat hidup aman dan nyaman di tengah masyarakat yang mayoritas penduduknya penganut agama Hindu? Ini semua telah mendorong sinergi antara agama, toleransi, dan demokrasi di Indonesia,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Contoh lain dikemukakan Jokowi. Ia menyebut Aksi Bela Islam (ABI) 212 pada 2 Desember 2016 sebagai momen yang luar biasa. ABI 212 merupakan aksi lanjutan mengenai dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama. Namun menurutnya, aksi tersebut berbeda dengan dua aksi sebelumnya.

Massa peserta ABI 212 tak lagi berteriak-teriak menyampaikan tuntutannya. Sekitar 7 juta lebih massa itu berdoa dan melantunkan shalawat di halaman Monumen Nasional (Monas). Jokowi pun tak ragu turun langsung menemui dan bergabung dengan peserta aksi untuk berdoa dan bershalawat.

Jokowi mengaku terkesan dengan momen tersebut, sehingga ia pun berterima kasih karena aksi dilakukan dengan super damai. Terlebih lagi, selain dama dan tertib, peserta aksi juga dengan disiplin merapikan dan membersihkan halaman Monas sehingga kembali bersih seperti semula.

Dua hal itu membuat Jokowi meminta peran aktif seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan demokrasi dan toleransi tetap terjalin di tengah kemajemukan. Ia menekankan, hal itu mendukung stabilitas, perdamaian yang akan menyejahterakan rakyat.

Pemerintah tak tinggal diam. Jokowi menuturkan, setiap kebijakan nasional pemerintah akan mendukung situasi kondusif kehidupan berbangsa dan bernegara dengan mendorong sinergi agama, toleransi, dan demokrasi.

“Pendekatan top-down berupa peran aktif pemerintah menjadi kunci, melalui good governance dan supremasi hukum yang sama pentingya dengan penguatan demokrasi dari akar rumput,” tutur Jokowi. **

 

**Artikel ini dalam versi cetak telah dimuat di Majalah Men’s Obsession Edisi Januari 2019 dengan judul “Merajut Damai di Negeri Bhinneka Tunggal Ika”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here