Jika Al-Quran Adalah Wahyu Allah, Mengapa Masih Ada Hadits Qudsi? Apa Perbedaanya?

632

Jakarta, Muslim Obsession – Mukjizat Nabi Muhammad yang paling sempurna adalah Al-Quran. Nabi menyebutkan bahwa Al-Quran adalah firman Tuhan yang harus disampaikan, sebagai tugas kerasulan. Maka Al-Quran sampai akhir zaman akan tetap dijaga keaslianya oleh Allah SWT.

Selain Al-Quran yang merupakan kalam Allah, diketahui bahwa Nabi pun selain menyebutkan ayat Al-Quran, juga menyatakan beberapa hal yang disandarkan pada Allah. Dalam ilmu hadits, hadits-hadits yang dituturkan Nabi dan disandarkan pada Allah ini disebut hadits Qudsi.

Maka kemudian muncul pertanyaan, jika Al-Quran adalah wahyu Allah, mengapa masih ada hadits Qudsi yang merupakan perkataan Allah? Bukankah Nabi adalah penutur wahyu Allah, dan setiap yang dikatakan beliau adalah wahyu? Apa yang membedakan antara keduanya.

Secara sekilas, tentu saja hadits Qudsi bisa ditemukan dalam kitab-kitab hadits beserta periwayatnya, sedangkan Al-Quran sudah terpaten dalam mushaf, serta secara mutawatir, telah dihafalkan turun temurun.

Namun jika muncul pertanyaan kritis seperti di atas, mengenai hal ini, Syekh Muhammad bin Alawi Al Maliki, salah satu ulama kenamaan Mekkah, menjelaskan dalam kitabnya al-Qawaidul Asasiyyah fi ‘Ilmi Musthalahil Hadits.

Setidak-tidaknya, mengutip penjelasan Syekh Muhammad Al Maliki, ada beberapa hal yang patut dicermati tentang perbedaan Al-Qur’an dan Hadits Qudsi:

1. Al-Quran selalu terjaga

Al-Quran adalah mukjizat yang terjaga sepanjang masa dari segala pengubahan, serta lafal dan seluruh isinya sampai taraf hurufnya, tersampaikan secara mutawatir.

2. Al-Quran tidak boleh diriwayatkan maknanya saja

Ia harus dihafalkan sebagaimana adanya. Berbeda dengan hadits Qudsi, yang bisa sampai kepada semua orang dalam hadits yang diriwayatkan secara makna saja. Pun ia masih bisa dikritik secara sanad dan matan sebagaimana hadits-hadits lainnya.

3. Al-Quran tidak boleh dipegang saat berhadats

Dalam mazhab Syafi’i, Mushaf Al-Quran tidak boleh dipegang dalam keadaan berhadats kecil, serta tidak boleh dibaca saat berhadats besar. Sedangkan pada hadits Qudsi, secara hukum, ia boleh dibaca dalam kondisi berhadats.

4. Hadits Qudsi tidak dibaca saaat shalat

Hadits Qudsi tentu tidak dibaca saat shalat, berbeda dengan ayat Al-Quran.

5. Membaca Al-Quran ibadah

Bagi siapa saja yang membacanya adalah ibadah, dan setiap huruf diganjar sepuluh kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits.

6. Al-Quran langsung dari Allah

Al-Quran adalah sebutan yang memang berasal dari Allah, beserta nama-nama Al-Quran yang lainnya.

7. Susunan Al-Quran sudah ditentukan

Al-Quran tersusun dalam susunan ayat dan surat yang telah ditentukan.

8. Diwahyukan secara utuh kepada Nabi

Lafal dan makna Al-Quran sudah diwahyukan secara utuh kepada Nabi Muhammad, sedangkan lafal hadits Qudsi bisa hanya diriwayatkan oleh para periwayat secara makna.

Demikianlah perbedaan mendasar antara Al-Quran dan Hadits Qudsi. Jika ditelaah lebih lanjut, tentu masih banyak perbedaan yang bisa didapat. Namun paling tidak bisa memahami bahwa meski sama-sama perkataaan Allah, namun Al-Quran dan Hadits Qudsi adalah dua hal yang berbeda. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here