Jenderal besar TNI Dr. AH Nasution “Sang Penyelamat NKRI”

416
Konfrensi Asia Afrika Bandung 1955. (Dok. Pribadi)

Muslim Obsession – Negara Kesatuan Republik lndonesia yang diproklamasikan oleh Ir. Sukarno dan Drs. M. Hatta pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 masih ada dan berdaulat serta utuh hingga saat ini berkat pejuangan dan pengabdian bangsa Indonesia yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, harta benda, bahkan nyawa yang tidak terhitung jumlahnya. Salah satu Pejuang, saksi, dan pelaku sejarah kelangsungan hidup NKRI adalah Jenderal Besar TNl Dr. A. H. Nasution.

Beliau Iahir di Desa Hutapungkut, Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara; dari ayah bernama Haji Abdul Halim Nasution dan Ibu Sahara Lubis; merupakan putra kedua dari tujuh bersaudara pada tanggal 3 Desember 1918. Pak Nas kecil pada pagi hari sekolah umum di HIS (Holland Islands School) dan sore hari belajar agama Islam di surau.

Setelah lulus HIS melanjutkan ke Sekolah Raja setingkat SMP dan HIK (Holland +lslands Kweek school) Sekolah Guru Menengah Atas di Padang Sumatera Barat selama dua tahun karena ditutup, dilanjutkan ke HIK di Bandung. Pada saat sekolah HIK di Bandung hampir semua pengajarnya orang Belanda kecuali guru menggambar yang orang Indonesia.

Sewaktu di Bandung, Pak Nas juga sekolah AMS (Algemene Middlebare School) setingkat SMA secara ekstranei. Setelah lulus dari HIK, beliau melamar untuk menjadi pegawai di kantor pemerintah Belanda, tidak diterima karena ijasahnya HIK.

Satu-satunya kesempatan yang menerima beliau bekerja adalah menjadi seorang guru, sehingga beliau menjadi guru ditempatkan di Bengkulu. Kemudian, dipindah ke Muara Duo dan Tanjung Raja. Pada saat menjadi guru di Bengkulu tahun 1932. Beliau mempunyai kesempatan untuk menimba ilmu politik dari Bung Karno yang saat itu menjalani tahanan politik oleh Belanda di Bengkulu.

Di latar belakangi oleh jiwa patriot yang diwarisi dari kakek buyutnya Mangampi (seorang Pendekar di Tapanuli teman dari Pahlawan Nasional Sisingamangaraja) dan ceritera kepahlawanan Nabi Muhammad SWA serta pahlawan Islam lain yang diceriterakan oleh ustadz saat ceramah di surau, serta kisah kepahlawanan Napoleon Bonaparte, Jenderal Attartuck, serta pahlawan-pahlawan lain.

Di Eropa yang diceriterakan oleh guru sejarah yang orang Belanda di HIK, mendorong Pak Nas untuk menjadi seorang militer. Pada tahun 1940 sewaktu pemerintah Belanda membuka kesempatan kepada pribumi Indonesia menjadi seorang militer Belanda, dengan bekal ijasah AMS, beliau mendaftar sebagai CORO (Corps Opleiding Reserve Officiren).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here