Jelang Tahun Baru, Ini Pesan MUI kepada Tokoh Politik

449

Jakarta, Muslim Obsession – MUI mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menyambut Tahun Baru 2019 dengan semangat kesederhanaan, menjauhkan diri dari sikap boros, berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang untuk kepentingan yang tidak banyak manfaatnya (mubadzir).

“Mari kita jadikan Tahun Baru 2019 sebagai tahun kepedulian sosial untuk menggalang solidaritas nasional dalam rangka meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah khususnya di Lombok Nusa Tenggara Barat, Palu dan Donggala Sulawesi Tengah serta di Banten,” Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhud Sa’adi melalui keterangan tertulis, Senin (31/12/2018).

Hal tersebut imbuhnya, ialah sebagai bentuk refleksi dari nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang dan kepedulian antarsesama

“Di pergantian tahun nanti, hendaknya kita memperbanyak bersyukur kepada Allah Swt. yang telah memberikan karunia berupa umur panjang, kesehatan dan kemurahan rezeki,” imbuhnya.

Untuk hal tersebut dia berpesan hendaknya kita memperbanyak berdoa, berzikir dan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Swt, khususnya berdoa untuk keselamatan bangsa dan negara dari berbagai musibah dan ancaman bencana yang akhir-akhir ini sering menimpa bangsa Indonesia.

Sehingga bangsa dan negara Indonesia menjadi negara yang aman dan
diselamatkan dari berbagai macam ujian, fitnah, dan cobaan.

Memasuki tahun politik sekarang ini, MUI mengajak semua pihak khususnya para pemimpin bangsa, tokoh agama dan elit politik hendaknya bisa menahan diri dalam mengekspresikan politiknya termasuk dalam menyampaikan pernyataan pendapat agar tidak menimbulkan suasana semakin panas, tegang dan penuh dengan kecurigaan.

Perbedaan pilihan hendaknya disikapi dengan dewasa, tidak harus diwarnai dengan saling menjelekkan, memfitnah, menyebarkan hoax dan ujaran kebencian.

“Karena hal tersebut selain tidak memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat juga dapat menimbulkan gesekan dan retaknya bangunan kebangsaan kita,” terang dia.

Zainut juga berpesan agar menjadikan perbedaan aspirasi politik sebagai rahmat untuk saling menghormati dan memuliakan agar persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) tetap terpelihara.

“Marilah kita membangun budaya berpolitik yang santun, berakhlakul karimah, penuh dengan nilai keadaban dan kesopanan. Dan marilah kita menjauhi budaya politik yang penuh dengan kecurigaan ( suudz-dzon ), pertentangan (ta’arudl), permusuhan (tanazu’) dan persaingan (tabaghut) yang tidak sehat dengan menghalalkan segala cara,” pungkasnya. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here