Intoleransi Agama dan Ras

349

Kalau itu memang masalah hukum Kenapa rakyat dibiarkan bermain hakim? Bukankah dalam sebuah negara yang berdaulat rakyat seharusnya tidak main hakim sendiri?

Saya juga perlu tegaskan bahwa sebagaimana saya menentang bahkan mengutuk intoleransi terhadap Umat Islam, saya juga menentang dan mengutuk dengan penentangan dan kutukan yang sejajar intoleransi Umat islam kepada non Muslims.

Saya akan menentang intoleransi itu dari pihak mana saja dan siapapun pelakunya. Sebab bagi saya intoleransi kepada “sebuah kelompok” adalah intoleransi kepada “semua kelompok”.

Di Amerika, selalu saya sampaikan bahwa Islamophobia dan anti Semitisme (anti Yahudi) adalah bagaikan dua sisi mata uang. “An attack on any is an attack on all” (serangan kepada seseorang adalah serangan kepada semua orang).

Pada akhirnya dalam dunia global saat ini, kita semua hidup dalam sebuah rumah kecil bersama. Semua manusia tanpa kecuali sesungguhnya hidup di bahwa atap yang satu.

Karenanya di hadapan kita hanya ada satu pilihan untuk terwujudnya dunia yang tentram, aman dan damai. Yaitu berani menembus sekat-sekat perbedaan yang ada dan membangun kerjasama atas dasar persaudaraan dan cinta kasih (rahmah).

Dan saya sangat yakin, Islam yang seungguhnya mendorong pemeluknya untuk mengedepankan hubungan positif, kasih sayang dan kerjasama itu. Karena di manapun hadir Islam akan selalu menampilkan diri sebagai “rahmatan lil-alamin”. Semoga!

 

New York, 3 Februari 2020

Catatan: tulisan ini adalah bagian dari presentasi yang akan saya sampaikan di acara Annual Interfaith Harmony di PBB New York, 6 Februari 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here