Ini Alasan Sarapan Jemaah Haji Belum Bisa Diganti Nasi

70
Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama, Sri Ilham Lubis (Foto: Mudanews)

Jakarta, Muslim Obsession -Kementerian Agama (Kemenag) mengaku menu sarapan untuk jemaah haji Indonesia tahun ini belum bisa digantikan dengan nasi, hal itu dikarenakan kendala dari sisi waktu dan biaya menjadi alasannya, sehingga menu sarapan jemaah masih berupa roti.

Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama, Sri Ilham Lubis menyebut terbatasnya waktu menjadi kendala perusahaan katering di Saudi untuk menyiapkan sarapan.

“Karena untuk menyiapkan makan siang saja, perusahaan katering sudah membuatnya sejak tengah malam. Sehingga untuk menyiapkan sarapan dengan nasi dalam jumlah yang besar, petugas dapur bisa tidak istirahat dan harus berkutat selama 24 jam,” ujarnya, Kamis (12/7/2018).

Adapun dari sisi biaya, lanjut dia, jika satu jemaah 13 riyal dikali 206 ribu jemaah jumlahnya besar. Dari sisi kesiapan perusahaan itu sendiri di Saudi, semua dipertimbangkan. “Tapi ke depannya insya Allah kita akan kaji dan pelajari,” katanya.

Dia menambahkan, petugas nantinya akan membagikan roti untuk sarapan jemaah pada malam hari bersamaan dengan distribusi makan malam. Hal tersebut sudah disosialisasikan kepada jemaah, bahwa roti adalah menu sarapan dan jemaah tidak akan mendapatkan jatah makan lagi saat waktu pagi. Sementara untuk makan siang, petugas akan mendistribusikan sekitar pukul 10-11 pagi.

“Jemaah diberikan makan sebanyak 40 kali di Makkah dan Madinah. Karena itu, jemaah tidak perlu membawa lagi makanan seperti beras ataupun alat memasak seperti alat penanak nasi ke tanah suci,” ungkapnya.

Selain itu, dia menjelaskan, memasak di dalam kamar hotel berisiko dan tidak diperkenankan karena hotel yang ditempati jemaah merupakan hotel dengan standar bintang tiga. Selain itu, jemaah bisa membeli makanan yang banyak dijual di restoran-restoran di Saudi. Jemaah juga sudah mendapatkan perlengkapan kesehatan dan obat-obatan saat di embarkasi. Di sini, jemaah tinggal membawa obat-obatan pribadi yang disiapkan sendiri.

Adapun terkait transportasi, Sri menambahkan bahwa jemaah haji Indonesia belum mendapatkan kesempatan untuk menggunakan kereta Haramain di tanah suci pada musim haji tahun ini. Dia mengaku belum mengetahui dan tidak ada informasi terkait hal itu dari pemerintah Saudi.

Di sisi lain, rombongan jemaah haji di bawah Kementerian Agama RI akan dikoordinir dengan transportasi bus yang telah disediakan selama di tanah suci. Namun, untuk rombongan haji khusus, ia mengatakan itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab penyelenggara ibadah haji khusus.

“Masing-masing sudah ada paket layanan yang dibuat untuk jemaahnya sesuai dengan biaya yang ditetapkan penyelenggara. Sehingga, pemerintah dalam hal ini Kemenag tidak mengatur jemaah haji khusus,” tutupnya. (Bal)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here