Ingatlah Dunia yang Fana

118

Oleh: Drs. H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Secara tidak sengaja, saya melihat berita artis jam 7 pagi. Sungguh banyak namanya berbalut Islam, tapi tingkah lakunya bagai orang non-Islam, penuh glamoria, seolah-olah dunia segalanya.

Lebih parah lagi, ketika saya melihat tayangan demi tayangan, kegiatan artis dan keluarganya itu disorot dari pagi hingga malam, namun tak satupun di tampilkan kehidupan religiusnya. Bahkan anak-anaknya diajarkan cara-cara Tik-Tok, seolah-olah jika tidak ada Tik-Tok dunia hambar.

Saya coba ingin melihat kehidupan di saat waktu Maghribnya. Oh, mereka diner-nya di hotel pada jam 6 sore, waktu azan Maghrib. Sungguh suatu tatanan baru dalam kehidupan muslim dengan mengabaikan shalat?

Agak kecewa hati saya melihat seorang muslim, tidak bangga dengan kemuslimannya di waktu kaya raya.

Saya pun melupakan tayangan tidak berbobot itu. Saya baca satu kitab yang sudah lusuh milik saya, dan saya baca lembar per lembar halamannya. Tiba-tiba di halaman 82 kitab Tanbihul Ghafilin yang dikarang oleh Imam Abu Laist As-Samarqondi Al-Hanafi pada tahun 1066 ketika kekhalifahan Abbasiyah masih berdiri dan kekhalifahan Andalusia masih tegak.

Di halaman 82 itu saya kutip pernyataan seorang ulama bernama Syekh Yahya bin Muadz Ar-Razzi rahimahullah:

قال يحيى بن معاذ الرازي رحمه الله: ترك الدنيا شديد، وترك الجنّة أشد منه، وإنّ مهر الجنّة ترك الدنيا – تنبيه الغافلين ١/٨٢

“Meninggalkan dunia itu sesuatu yang berat, sedangkan meninggalkan surga lebih besar urusannya dari pada meninggalkan dunia. Karena maharnya surga itu adalah meninggalkan dunia” – Tanbihul Ghafilin 1/82

Adem hati membaca perkataan ulama di zaman Pertengahan Islam tersebut.

Keterangan dari perkataan ulama terdahulu ini diperkuat dengan QS. Al-Kahfi: 45 berikut ini:

وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ ٱلرِّيَٰحُ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ مُّقْتَدِرً

”Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”.

Juga pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Sayidina Abdullah bin Umar bin Khaththab (Ibnu Umar):

وعن ابن عمر رضي اللَّه عنهما قَالَ: أَخَذ رسولُ اللَّه ﷺ بِمَنْكِبِي فقال: كُنْ في الدُّنْيا كأَنَّكَ غريبٌ، أَوْ عَابِرُ سبيلٍ

“Pada suatu waktu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundak Abdullah bin Umar, lalu Beliau berpesan, ”Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang sekadar melewati jalan (musafir).”

Wallahu a’lam bish Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here