Indonesia Ajak Pemimpin Dunia Wujudkan Perdamaian Melalui Peran Agama

393
The 6th Congress of Leaders of the World and Traditional Religions, di Istana Perdamaian, Astana. (Foto: Kemlu RI)

Kazakhstan, Muslim Obsession – Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dr. AM Fachir menyatakan bahwa pemimpin dunia memiliki tanggung jawab yang krusial untuk mengembalikan peran agama sebagai panduan mewujudkan perdamaian di dunia.

Hal itu ia tegaskan dalam pernyataan yang disampaikan dalam The 6th Congress of Leaders of the World and Traditional Religions, di Istana Perdamaian, Astana yang berlangsung 10-11 Oktober 2018.

Wamenlu menegaskan bahwa sudah semestinya agama menjadi sumber inspirasi bagi pemimpin dunia untuk menciptakan hubungan antar manusia yang berlandaskan harmoni dan toleransi.

“Aksi-aksi kekerasan dan ekstremisme pada hakikatnya bukan bersumber dari ajaran mulia agama. Bahkan tindakan tersebut bertentangan dengan misi utama agama,” kata Fachir, melalui siaran pers Kemlu RI, Kamis (11/10/2018).

Mengambil contoh Indonesia, Wamenlu menyampaikan meskipun bukan negara yang berlandaskan agama, Indonesia berhasil mengejawantahkan nilai-nilai adiluhung yang dikandung dalam ajaran agama.

“Dengan berbagai agama yang ada, kekayaan bahasa, serta keragaman suku bangsa, masyarakat Indonesia saling menghormati perbedaan dan hidup dalam situasi yang damai.”

Dalam kesempatan tersebut, Wamenlu memberikan tips yang telah dilakukan Indonesia kepada para peserta kongres.

“Pemerintah Indonesia secara aktif melibatkan berbagai pihak terkait, di dalam dan luar negeri, untuk menyebarkan pesan perdamaian,” katanya.

Sejauh ini, lanjut Fachir pemerintah terus mendorong dan memfasilitasi kelompok civil society berbasis agama untuk mengadakan dialog lintas agama.

Pada Mei 2018 lalu, Indonesia telah mengundang 138 Ulama dunia untuk berpartisipasi merumuskan konsep moderat dalam beragama dan menghasilkan Bogor Message.

Selain itu, Indonesia juga mengadakan trilateral conference ulama Afghanistan dan Pakistan sebagai bentuk kontribusi Indonesia mewujudkan perdamaian di kawasan tersebut.

Pada level bilateral, Indonesia telah membangun jaringan dialog dengan lebih dari 30 negara. Bahkan, inisiatif dialog lintas agama tersebut dikembangkan pada level regional, seperti dalam kerangka ASEM, MIKTA, dan APEC.

Kongres yang berlangsung selama dua hari tersebut menghasilkan dokumen deklarasi yang berisi komitmen bersama untuk mewujudkan perdamaian dan mendorong kerja sama konkrit untuk menyebarkan nilai-nilai mulia agama.

Kongres ini merupakan inisiatif Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev dan berlangsung pertama kali pada tahun 2003.

Dalam pertemuan keenam kali ini, beberapa pemimpin negara dan pemuka agama hadir dalam kegiatan tiga tahunan tersebut, seperti Presiden Serbia Aleksandar Vucic dan Grand Sheikh Azhar Sheikh Ahmad Thayeb. (Vina)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here