Hukum Shalat Jenazah di Atas Undakan Kuburan

59
Ilustrasi: Shalat Jenazah di Makam.

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Sebuah rombongan terlambat menshalatkan jenazah. Ketika rombongan tersebut tiba di makam, bolehkah jika melakukan Shalat Jenazah di atas undukan makam?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya menukil penjelasan dari beberapa ulama madzhab Imam Syafi’i.

1. Syekh Zakariyya Al-Anshari

Syekh Zakariyya Al-Anshari dalam kitab Asnal Mathalib, juz I, halaman 322 menjelaskan:

و تجوز على قبر غير النبي صلى الله عليه وسلم بعد الدفن سواء أدفن قبلها أم بعدها

“Boleh menshalati kuburnya selain nabi setelah dikebumikan baik mayat dimakamkan sebelum dishalati maupun sesudahnya.”

BACA JUGA: Penjelasan Ulama tentang Hadits Terputusnya Amal Orang yang Meninggal

2. Syekh Zainuddin Al-Malibari

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in, juz II, halaman 133 menegaskan:

 ـ (و) تصح على حاضر ( مدفون ) ولو بعد بلائه (غير نبي) فلا تصح على قبر نبي لخبر الشيخين) من أهل فرضها وقت موته) فلا تصح من كافر وحائض يومئذ كمن بلغ أو أفاق بعد الموت ولو قبل الغسل كما اقتضاه كلام الشيخين

“Sah menshalati mayat hadir yang dimakamkan, meski setelah hancur. Selain mayat nabi, maka tidak menshalati kubur nabi karena hadits Al-Bukhari dan Muslim. Dari orang yang diwajibkan menshalati saat kematian mayat. Maka tidak sah dari non-Muslim dan perempuan haidh saat kematian mayat, sebagaimana tidak sah dilakukan orang yang baligh atau sembuh dari gila setelah kematian mayat, meski balighnya atau sembuhnya sebelum mayat dimandikan sebagaimana yang ditunjukkan oleh statemen Al-Imam An-Nawawi dan Ar-Rafi’i”.

BACA JUGA: Hukum Menambahkan Lafazh “Sayyidina” dalam Shalat

3. Syekh Abu Bakr bin Syatha

Syekh Abu Bakr bin Syatha menjelaskan statemen dalam kitab fathul Muin:

 قوله (من أهل فرضها وقت موته) أي تصح الصلاة على الميت الغائب وعلى الحاضر المدفون إن كان من يريد الصلاة من أهل أداء فرضها وقت الموت بأن يكون حينئذ مسلما مكلفا طاهرا لأنه يؤدي فرضا خوطب به اه تحفة

“Ucapan Syekh Zainuddin, “Dari orang yang diwajibkan menshalati saat kematian mayat”, maksudnya adalah sah menshalati mayat ghaib dan mayat hadir yang telah dimakamkan, bila orang yang hendak menshalati adalah orang yang diwajibkan menshalati pada waktu kematian mayat. Dengan sekira saat kematian mayat, ia dalam keadaan Muslim, mukallaf dan suci (dari haidh dan nifas), karena ia telah menjalankan kewajiban yang dituntut kepadanya”.

(Lihat Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anatut Thalibin, juz II, halaman 133).

Wallahu a’lamu bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here