Hijab, Perempuan, dan Pembebasan: Tanggapan untuk Sukmawati

607

Konsepsi Hijab

Hijab dalam Islam merupakan konsep tentang batas kebolehan perempuan dalam “public sphere”. Menurut Islam, wanita harus melindungi bagian sensualnya dari pandangan umum. Meski penafsiran tentang wilayah sensualitas ini bervariasi, namun mainstream ajaran Islam meyakini wajah dan telapak tangan boleh terbuka.

Konsep ini menempatkan wanita Islam terbebaskan dari pemangsa kapitalis, yang mendorong wanita justru mengekspouse wilayah sensuilnya. Selain itu konsep hijab juga menekankan kesederhanaan dan kecantikan hakikat (inner beauty). Bukan kecantikan biologis (saja), bukan tubuh maupun warna kulit, apalagi wilayah sensuilnya.Konsep ini menempatkan wanita Islam terbebaskan dari pemangsa kapitalis, yang mendorong wanita justru mengekspouse wilayah sensuilnya itu.

Dalam semua tesis tentang perempuan dan ekploitasi kapitalisme, perempuan disebutkan memang dijadikan komoditas. Persepsi perempuan cantik diciptakan industri kecantikan (kosmetik), fashion dan bahkan industri pornografi dan sex.

Cantik itu adalah putih (caucasian/white), langsing, wajah tirus tanpa jerawat, rambut lurus berkilau, dlsb. Persepsi ini dimanfaatkan kapitalisme untuk menjebak perempuan dalam ketergantungan, di mana perempuan2 dijadikan pasar produk kecantikan.

Bagi kapitalis, kecantikan perempuan, termasuk lengan, betis dlsb, tidak boleh ditutupi. Keindahan harus di share ke semua mata yang bisa melihat (termasuk jaman now via Instagram). Bahkan, penonjolan sensualitas merupakan alat penting industri kecantikan dalam mengiklankan produk. Meskipun antara produk (mobil misalnya) tidak berhubungan dengan sensualitas wanita dalam pameran produk mobil, misalnya.

Serangan serangan kaum feminis dari gelombang pertama, kedua, ketiga dan feminisme gelombang ke empat mengecam dominasi laki laki, hak2 reproduksi, hak hak sosial dan politik perempuan, dlsb, serta terakhir gerakan anti “sexual harrasment” tepat terjadi dalam bingkai perspektif kapitalis soal perempuan. Penggunaan hijab, misalnya, sedikitnya menjauhi “sexual harrasment”. Dalam Islam, hak hak wanita mendapatkan kesamaan drajat sebanding lelaki, khususnya dalam “theoritical framework” kemulian disisi Tuhan mereka. Hal ini tentu membutuhkan kajian pada tema yang lain. Namun, sesuatu yang pasti, Islam menjauhkan perempuan dari komodifikasi.

Menjauhkan perempuan sebagai komoditas adalah sebuah pembebasan. Liberation. Hijab adalah Liberation.

Kesalahan Sukmawati

Bagaimana kebaya dan konde dapat kompatible dengan “perempuan produk kapitalis ini?”
Mengapa Sukma yakin pada “ibu konde” dan kidung alami itu dan disampikannya dalam pentas kaum kapitalis, menarik untuk melihatnya. Kalau membaca pikiran seorang feminis Belgia, Denise Comanne dalam “How Patriarchy and Capitalism Combine to Aggravate the Oppression of Women”, ternyata menurut Comanne, ekploitasi terhadap perempuan dilakukan kapitalisme juga dengan menunggangi sistem patrikat. Dan sekali lagi kita tahu, simbol “ibu konde” yang ditawarkan Sukma adalah simbol dalam era dan sistem patriakat.

Berbeda dengan ayahnya, Bung Karno, yang melukiskan pemikiran gagasannya semasa muda dalam “Islamisme, Nasionalisme dan Marxisme” dan semasa tuanya dalam “Nasionalis, Agama dan Komunis”, sang ayah selalu menegaskan bahwa Islamisme dan Nasionalisme adalah kawan sejati melawan kapitalis. Sementara sang anak, Sukmawati, membenci Islam tanpa pijakan yang jelas.

Jadi, Sukmawati telah salah dalam dua hal, pertama, dalam urusan ibu berkonde, salah dalam memusuhi Islam sebagai versus tradisionalisme. Islam sebagai musuh budaya. Kedua, salah dalam bersekutu dengan kapitalisme atau setidaknya memanfaatkan panggung kapitalis (fashion show) untuk melawan Islam.

Kita, ketiga, tetap boleh mencurigai bahwa Sukmawati sedang mendeligitimasi kehadiran Cagub/Cawagub Jatim/Jateng yang berhijab.

Entahlah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here