Hamzah dan Pelantikan SBY-JK

445

Oleh: H. Emron Pangkapi

Alhamdulillah, hari ini Presiden dan Wakil Presiden terpilih Ir. H Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin, resmi dilantik untuk mengembankan tugas masa bakti 2019-2024. Dan insya Allah, Wapres Jusuf Kalla mengakhiri tugasnya untuk priode yang kedua kalinya dalam husnul khatimah.

Maka dengan demikian, mulai sore ini seluruh fasilitas dan protokoler Wapres beralih dari JK ke KH. Ma’ruf Amin.

Saya jadi teringat pengalamam 15 tahun yang lalu. Persis tanggalnya, pada 20 Oktober, upacara pelantikan Presiden dan Wapres terpilih SBY-JK menggantikan Megawati-Hamzah Haz. Suasana pelantikan SBY-JK juga agak tegang, imbas pilpres pertama secara langsung di Republik ini.

Pagi itu 20 Oktober 2004, saya baru kembali lagi ke Jakarta setelah melepaskan jabatan Ketua DPRD Babel. Karena ingin “dekat” dengan suasana pelantikan, saya menuju markas PPP di Jl. Diponegoro Jakarta. Biasanya setiap event politik, tokoh-tokoh partai selalu berada di sini mengikuti setiap perkembangan.

Namun ketika di tengah perjalanan, saya mendengar siaran Radio Elsinta yang menginformasikan bahwa Presiden Megawati tidak menghadiri upacara pelantikan SBY-JK.

Menurut Elsinta, Megawati sedang mengadakan pertemuan dengan jajaran fungsionaris PDIP di kawasan Kebagusan Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Wah, pikir saya, ini berita besar: PDIP “memboikot” upacara pelantikan Presiden.

Dalam pilpres sebelumnya, di putaran kedua SBY-JK “menumbangkan” pasangan Megawati-Hasyim Muzadi (incumbent) yang diunggulkan.

Adapun dalam pilpres putaran pertama Hamzah Haz berpasangan dengan Agum Gumelar. Di putaran kedua pendukung Hamzah-Agum yang diusung PPP diarahkan ke Mega-Hasyim.

Wah…kalau Ibu Mega tidak hadir ke gedung MPR, jangan-jangan Wapres Hamzah Haz juga tidak hadir, begitu pikir saya.

Maka saya langsung berbalik arah untuk mencaritahu di mana posisi Pak Hamzah. Saya kemudian menuju kediaman pribadi beliau di Jl. Tegalan Matraman Jakarta Timur.

Ternyata benar, sejumlah mobil patroli dan petugas pengawal, berada di situ. Artinya Wapres Hamzah Haz ada di rumah. Ajudan Wapres dari unsur polisi Kombes Puji Hartanto, langsung merangkul saya agar segera menemani Pak Hamzah yang sedang berada di dalam.

Sebagai Wakil Sekjend DPP PPP (masa itu), saya dengan mudah melintasi X-Ray dan mencari Pak Hamzah ke dalam rumah. Saya menemukan Pak Hamzah seorang diri di ruangan keluarga sambil menyaksikan siaran langsung televisi dalam acara liputan pelantikan Presiden.

Saya ingat betul Pak Hamzah mengenakan baju gamis putih, berkopiah putih dan memegang tasbih. Matanya tidak berkedip menyaksikan detik per detik “siaran langsung” TV dari gedung MPR.

Saya mengucap salam dan langsung mengambil posisi duduk di sebelahnya. Suasana hening. Hening sekali.

Saya juga teringat ketika Pak Hamzah terpilih sebagai wapres dalam voting perhitungan suara.

Saya juga mendampingi Pak Hamzah Haz yang terus berdzikir di tempat shalat ruangan kerja Wakil Ketua DPR Tosari Widjaya. Para tokoh partai sedang berada di ruangan sidang mengikuti proses pemungutan suara.

Hanya beberapa tokoh yang tidak menjadi anggota DPR bersama Pak Hamzah di lantai 4 gedung DPR, termasuk saya dan Haji Fuad (Ketua DPW) dari Kaltim.

Kami mengikuti sorak sorai perhitungan suara dari ruangan Pak Tosari Widjaya.

“Lha..bapak ndak hadir,” kata saya memecah keheningan.

“Ibu (Megawati) tidak bersedia hadir. Fatsunnya, wapres juga tidak hadir,” jawab Pak Hamzah membuka percakapan.

Lalu pak Hamzah menceritakan keputusannya untuk juga tidak hadir, karena merasa wapres adalah satu paket.
Adapun untuk seluruh anggota Fraksi PPP, beliau sudah instruksikan agar hadir di upacara pelantikan SBY-JK di gedung MPR.

Maka, pagi itu sepi. Hampir semua fungsionaris PPP di gedung MPR, sehingga tidak ada yang mendampingi beliau saat mengakhiri masa jabatan wakil presiden, kecuali saya sendiri.

Berdua dengan Pak Hamzah, kami mengikuti tahap demi tahap setiap prosesi upacara pelantikan melalui televisi yang berlangsung hampir dua jam.

Sampai kemudian kami dikejutkan dengan kedatangan Komandan Regu Pengawal Wapres yang dengan sigap sempurna dan suara keras memberikan laporan. “Lapor…. tugas pengamanan Wakil Presiden dinyatakan selesai..bla…bla….bla……”

Pak Hamzah langsung memotong, “Sudah… sudah…sudah…” Laporan upacara militer itupun terhenti sekenanya.

Pak Hamzah tidak lagi membalas hormat dengan sikap sempurna, tapi hanya pegang-pegang bahu komandan regu kawal Paswalpres. Dan komandan itu pun setengah berlari kecil keluar rumah.

Tak lama kemudian, agaknya untuk penghormatan terakhir, saya dengar sirene voorijder paswal meraung-raung di Jl. Tegalan, lalu suaranya pelan-pelan menghilang. Menjelang zhuhur saya pamit kepada pak Ketua Umum PPP itu.

Sungguh saya terkejut semua perlengkapan pengawalan di halaman kediaman beliau seperti pos jaga, gerbang X-Ray, alat-alat deteksi, deretan mobil patroli, yang tadi pagi berbaris-baris, telah bersih.

Tinggal Kombes Puji Hartanto–satu-satunya– yang masih menyelesaikan tugas, itu pun sudah melepaskan baju dinas polisinya berganti kemeja putih.

Sungguh saya terenyuh. Begitu kontras suasana pagi ketika saya datang dan suasana siang ketika saya mau meninggalkan rumah Pak Hamzah Haz.

Hampir semua atribut dan fasilitas protokoler wapres “lenyap” dalam sekejap, sehingga saya merasakan seperti ada “sesuatu” yang tercerabut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here