Halalkah Jual Beli dengan Sistem Kredit? Ini Penjelasan Buya Yahya

172
Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon.

Jakarta, Muslim Obsession – Di era saat ini, banyak sekali transaksi jual beli yang menggunakan sistem kredit, mulai dari membeli rumah, hingga peralatan rumah tangga.

Lantas bagaimana pandangan Islam mengenai hal tersebut dan juga bagaimana hukum jual beli dengan menggunakan kredit?

Buya Yahya menjelaskan, sistem kredit dalam arti menjual barang kepada pembeli dengan pembayaran yang dicicil dalam jangka waktu tertentu, ada tiga macam pembagiannya.

Pertama, kredit yang haram karena transaksi tersebut memang tidak boleh dengan kredit. Yaitu jual beli yang berupa emas dengan emas, perak dengan perak, emas dengan perak, uang dengan emas, uang dengan perak, dan uang dengan uang.

“Sebab untuk macam-macam jual beli tersebut ada hukumnya tersendiri, di antaranya tidak boleh dengan kredit,” kata Buya Yahya, seperti dikutip dari buyayahya.org, Selasa (12/11/2019).

Kedua, kredit yang diperkenankan, yaitu kredit yang diperbolehkan dalam Islam selagi bukan jual beli yang tersebut di atas.

“Misal seorang penjual motor, menjual motornya dengan harga 7 juta dengan pembayaran yang dicicil 1 juta setiap bulan dengan 7 kali cicilan selama 7 bulan. Maka jual beli kredit semacam ini diperbolehkan,” jelas pendiri Pondok Pesantren Al-Bahjah, Cirebon ini.

Ketiga adalah kredit yang haram karena sesuatu yang lain. Buya Yahya menjelaskan, bagian ini sangat perlu diperhatikan karena sering dilupakan, yaitu berkenaan dengan kredit yang terjadi di zaman ini.

Transaksi yang terjadi antara pembeli dengan pihak showroom, mobil dan bank konvensional. Ada hal yang sering dilupakan oleh sebagian orang dalam transaksi ini.

“Jual beli kredit hukum asalnya adalah boleh, akan tetapi jika permasalahannya adalah menjerumuskan seseorang untuk berurusan dengan sesuatu yang telarang maka hukumnya pun menjadi terlarang,” terang Buya.

Buya memberikan contoh, sebagian showroom mobil memberikan kredit mobil dengan cara sebagai berikut, misal: Ada pihak pembeli menginginkan mobil sedan. Jika dibayar kontan harganya 140 juta.

Karena pembeli tidak punya uang yang cukup, maka ia pun memilih kredit dengan harga 170 juta dibayar dengan cara mencicil selama 4 tahun. Disaat transaksi dengan cara pembayaran kontan maka pihak showroom tidak bermasalah, sebab ia menerima uang tunai.

Akan tetapi jika yang dipilih pembeli adalah transaksi kredit maka saat ini sebagian showroom menjadi bermasalah. Sebab showroom tidak ada persediaan uang untuk melayani pelanggan kredit yang kadang jumlahnya sampai puluhan.

Maka satu-satunya jalan yang dilakukan showroom (dan inilah yang terjadi di kebanyakan showroom) yaitu dengan cara meminjam uang ke bank konvensional untuk menggandeng bank konvensional tersebut mengambil mobil bagi pembeli.

Lantas kemudian pihak showroom menjadikan surat mobil yang sudah dibeli (atau yang lainnya) sebagai jaminan pinjaman di bank tersebut. Sehingga pembeli harus membayar cicilan mobil seharga 140 juta tersebut dan di tambah bunga bank serta untung untuk showroom sebanyak 30 juta, maka pada saat itu secara tidak langsung pembeli telah membantu showroom dan bank dalam transaksi riba ini.

“Maka jelas pembelian kredit yang semacam ini adalah haram. Inilah hal yang sering dilupakan oleh sebagian orang, karena terkecoh dengan asal hukum kredit yang diperbolehkan, kemudian lupa akan sisi haram dalam transaksi ini. Semoga kita menjadi orang-orang yang takut akan hal-hal yang haram dan dimurkai Allah SWT,” pungkasnya. (Way)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here