Hadir di KUII VII, Din Syamsuddin Dorong Umat Islam Punya Parpol Islam Tunggal

121

Pangkalpinang, Muslim Obsesssion – Ketua Dewan Pertimban Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin mengingatkan pentingnya umat Islam memiliki agenda strategis keumatan yang merupakan penjelmaan dari strategi kebudayaan atau strategi perjuangan yang lebih luas.

Salah satu yang paling krusial bagi umat Islam, menurut Din, adalah agenda politik karena menentukan keberadaan umat Islam dalam kehidupan nasional.

“Masalah utama yang dihadapi umat Islam saat ini adalah kesenjangan antara angka demografis umat Islam dan perolehan partai-partai (berasaskan Islam dan basis umat Islam) dalam politik elektoral,” ujar Din saat tampil sebagai narasumber di hari ke-2 Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (27/2/2020).

Kenyataan ini, sebut Din, pada tingkat tertentu memengaruhi kekuatan kalangan Islam dalam proses pengambilan strategi kenegaraan, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif.

Menurutnya, faksionalisasi politik Indonesia berbasis aliran, khususnya antara yang disebut golongan Islam dan golongan nasinalis, ikut memengaruhi dinamika politik kekuasaan (power politics) dan politik alokasi nilai (value allocative politics).

Terlebih setelah adanya amandemen konstitusi di awal Era Reformasi memengaruhi iklim politik dan positioning politik Islam formal.

“Pemilihan langsung berdasarkan one person one vote, misalnya, telah mengubah realitas politik khususnya di lembaga legislatif. Hal itu dipengaruhi budaya politik pragmatis dengan politik uang (money politics) yang dikendalikan kaum pemodal dan mulai mendiktekan politik,” tegasnya.

Tiga Opsi Agenda Politik

Dalam kondisi tersebut, jelas Din, maka agenda politik umat Islam perlu mengambil tiga opsi. Pertama, mendorong adanya partai politik Islam tunggal yang secara formal berfungsi sebagai kendaraan politik tokoh-tokoh umat Islam dan sarana artikulasi aspirasi politik umat Islam.

Kedua, mendorong diaspora para aktivis Islam ke dalam berbagai partai politik sebagai sarana dakwah (ad-da’wah bi al-siyasah). Ketiga, mendorong ormas-ormas Islam untuk berfungsi efektif sebagai agen penguatan landasan budaya bangsa, khususnya penguatan literasi politik umat.

“Pelaksanaan agenda strategis kegiatan menuntut kekompakan dan kebersamaan segenap elemen umat Islam. Untuk itu diperlukan kearifan, kebijaksanaan, dan kenegarawanan para tokoh umat Islam,” tegasnya.

Din mengingatkan, tidak ada satu kelompok yang bisa menyelesaikan masalah sendiri, maka tidak boleh ada kelompok yang jalan sendiri.

“Perjuangan umat Islam sangatlah berat, jalan di hadapan terjal dan keras. Perjuangan tidak mengenal titik balik. Artinya, bukan waktunya lagi setiap diri membanggakan diri sendiri,” tandasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here