Gus Baha Pernah Menolak Jadi Syuriah PBNU. Tapi Akhirnya Mau, Apa Alasannya?

182
Gus Baha. (Foto: Ponpes Almunawwir)

Jakarta, Muslim Obsession – Nama Pengasuh Pesantren LP3IA Narukan Rembang KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha masuk menjadi salah satu ulama atau tokoh yang digadang-gadang menjadi calon ketua umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU).

Namun banyak yang memprediksi, Gus Baha tidak akan mengambil kesempatan itu. Ia sendiri dalam suatu pengajian mengungkapkan bahwa dirinya pernah menolak tawaran sebagai Syuriyah (Badan Musyawarah) PBNU.

Akan tetapi, Gus Baha berubah sikap ketika KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) turun tangan untuk mengajak Gus Baha.

Berikut ungkapan dari Gus Baha seperti dikutip dari Iqra Id:

Beberapa kali saya ditawari menjadi pengurus PBNU. Saya berkali-kali bilang tidak mau.

Hanya saja, PBNU tidak kurang akal dengan cara menggunakan ‘tangan’ Mbah Moen supaya agak maksa saya.

Karena saya dari dulu tidak punya rencana jadi orang besar. Jadi orang biasa saja kayak jenengan (Anda). Mau ngopi santai, mau melarat (miskin) pantas, mau keliru juga pantas karena bukan kiai. Jadi enaklah…

Jadi kiai kan ndak enak. Kalau tidak makan ya lesu, tapi kalau keliru disalahkan orang banyak. Sampean kalau salah kan dimaklumi. Jadi masyarakat awam itu enak.

Terus jadi kiai itu ruginya begini. Misal, saya orang ‘alim ‘allamah, lalu ada pengumuman, “Gus Baha masuk surga”. Nanti pengumuman kedua itu mengecewakan, “….dan para penggemarnya”. Hehehe

Karena memang aturan begitu, para wali dan orang alim itu dapat masuk surga. Tapi, untuk para penggemarnya kan tidak ada syaratnya, siapa saja bisa. Hehehe

Makanya, banyak orang mencari jalan pintas, “Nggak mau alim sendiri ah, jadi penggemar Gus Baha saja.” Hehehe..

Itu sebenarnya orang oportunis!! Hehe

Terus akhirnya saya dipanggil beliau (Mbah Moen). Beliau menyuruh saya untuk menjadi salah satu jajaran Syuriyah PBNU.

Yang unik dari wasiat beliau itu bukan masalah jajaran Syuriyah NU. Kata beliau, “Indonesia harus kamu jaga. Bila perlu nanti di Lembaga Dakwah NU itu melibatkan orang macam-macam, dari partai macam-macam”.

“Yang bisa menjaga Indonesia itu nasionalis dan religius. Jangan sampai Indonesia punya dosa paten pinaten (saling membunuh). Caranya bagaimana? Harus rukun kaum religius-nasionalis!”

Kalau sudah saling membunuh itu seperti Mesir dan Syiria.

Jadi, Fikih Mbah Moen itu jangan dilihat misalnya seorang kiai bertemu tokoh A, tapi lihatlah ini suatu ikhtiar Indonesia supaya damai.

Saya termasuk santri yang akhirnya mencari argumentasi tersebut.

Singkat cerita, saya mencari di khazanah-khazanah dan menemukan Rasulullah pernah berdamai dengan Suhail bin ‘Amr, seorang tokoh kafir Quraisy yang bisa mengendalikan orang Quraisy. Sekali dia komando “perang”, maka akan perang. Itu kalau terjadi perang, pasti banyak terjadi korban.

Dan semua perjanjian itu merugikan Nabi, tapi beliau menerima saja, asal tidak saling bunuh, chaos (kacau), saling collapse (runtuh).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here