Gus Baha: Negara Bisa Keteteran Sama Orang-Orang Ini

197
Gus Baha. (Foto: Santri Gayeng)

Jakarta, Muslim Obsession – Ceramah Salah satu ulama Nahdlatul Ulama (NU) asal Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha selalu menarik untuk didengarkan. Banyak ilmu dan pelajaran yang bisa didapat dari setiap apa yang diomongkan oleh Kiai yang tengah digandrungi masyarakat ini.

Misalnya Gus Baha cerita tentang bagaimana dia salut dengan para TKI yang bekerja di luar negeri, di negara-negara yang Islam menjadi agama minoritas di sana, seperti Korea, Taiwan, Jepang, Jerman, Amerika dan sebagainya. Ia melihat para TKI ini, meski bisa dibilang keilmuan Islamnya minim, tapi kontribusi terhadap Islam begitu besar.

Mereka para TKI dan mahasiswa di beberapa negara tersebut nyatanya bisa membangun komunitas masjid. Sementara, jika mereka tinggal di kampung halamannya mungkin hanya menjadi orang-orang yang sering komplain.

“Jadi kalau di daerah yang Islamnya sudah sehat agak-agak komplain, krannya buntu saja sudah geger. Tapi ketika dia di daerah yang tidak ada masjid, berikhtiar untuk bikin masjid,” ujar Gus Baha dalam acara Musahabah dan Munajat Kebangsaan yang digelar Universitas Ivet Semarang secara virtual belum lama ini.

Jadi, menurut Gus Baha, kemapanan yang terlalu lama itu terkadang hanya melahirkan orang yang ingin komplain. Sedangkan yang tidak mapan sama sekali malah menjadikan orang itu heroik. Misalnya, ketika negara ini sudah sehat mungkin orang malah menuntut negara.

Padahal, kata dia, pada zaman sebelum berbentuk negara, semua orang justru ingin memberikan hartanya bahkan nyawanya untuk memerdekan Indonesia. Karena itu, Gus Baha berpesan agar ketika sudah mapan usahakan selalu ada keinginan untuk memberi.

“Semuanya kita termasuk setelah mapan itu usahakan hubungan itu hubungan heroik, sehingga inginnya memberi,” ucap ulama berusia 50 tahun ini.

Rasulullah SAW juga mengingatkan kepada umatnya untuk berusaha selalu memberi. Nabi SAW bersabda:


اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”

Gus Baha menambahkan, sekarang juga banyak problem di beberapa negara. Menurut Gus Baha, hal itu karena semua rakyatnya ingin mendapatkan sesuatu dari negaranya, bukan berusaha memberikan sesuatu kepada negaranya.

Menurut Gus Baha, negera direpotkan dengan orang-orang yang punya jiwa tamak, inginnya selalu meminta jatah dari negara. Tidak punya mental sebagai seorang pemberi.

“Kalau semua orang yang pintar, yang bodoh, setengah pintar, hubungannya dengan negara ingin mendapat, maka negara bisa keteteran. Tapi kalau hubungannya ingin memberi, insya Allah semuanya akan selamat,” kata Gus Baha.

“Intinya agama ini menitikberatkan supaya hubungan kita dengan orang lain atau dengan negara itu kalau bisa hubungamnya itu ingin memberi, bukan ingin mendapatkan,” imbuh Rais Syuriah PBNU ini. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here