Gus Baha: Indonesia Milik Bersama, Bukan Cuma PDI-P

295
Gus Baha.
Gus Baha.

Jakarta, Muslim Obsession – Bukan hanya alim dan pintar menguasai kitab-kitab klasik KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) juga punya wawasan kebangsaan yang luas. Termasuk bagaimana kontribusi para tokoh Islam yang turut andil dalam membawa Indonesia ke pintu kemerdekaan.

Gus Baha berharap masyarakat agar memahami kemerdekaan negeri ini secara proporsional. Perjuangan negeri ini kata dia, sudah dimulai sejak tahun 1908. Indonesia bukan dimulai dari Soekarno. Jauh sebelum itu Islam sudah hadir untuk berjuang.

“Orang yang pro Megawati itu, begitu mendewa-dewakan Soekarno, seakan-akan Indonesia itu dimulai dari Bung Karno. Sampai ada paham Soekarnoisme, Indonesia ini seakan-akan dimulai dari Soekarno. Memang deklarator kemerdekaan Indonesai itu, Soekarno,” jelas Gus Baha dalam video ceramahnya di media sosial seperti dikutip Muslim Obsession, Rabu (9/9/2020).

“Tapi, umat Islam, Partai Islam, itu tidak kecil hati. Karena yang namanya embrio Indonesia, itu sudah dari tahun 1908, sebelum ada partai nasionalis. Yang berani melawan kolonialisme Belanda (saat itu) adalah partai-partai Islam,” terangnya.

Sehingga, tegas Gus Baha, kebangkitan Indonesia itu dimulai sejak 1908, karena saat itu yang pertama mencetus ide melawan Belanda, adalah kiai-kiai Islam. Di mana saat itu mereka bikin Sarikat Dagang Islam, lama-lama menjadi Sarikat Islam (SI), lama-lama menjadi Partai Islam.

“Dimulai dari angkatan HOS Tjokroaminoto atau nama aslinya Raden Mas Hadji Oemar Said Tjokroaminoto (16 Augustus 1882 – 17 Desember 1934 red.). Jadi tidak bisa Indonesia itu meningalkan Partai Islam, Di Solo dan di Jogya. Sebelum ada Indonesia sudah ada negara bernama Demak Bintoro, ada juga Demak Ngayogjokarto, itu semua negeri Islam.”

Sehingga, terang Gus Baha, secara kesejarahan tidak kalah sama tua-nya Soekarnoisme atau partai PNI. “Kita-kita ini kayak dininabobokan soal Indonesia itu dimulai dari Soekarno, sehingga kalau tidak cocok sama Pak Karno, itu kayak-kayak kita anti Indonesia.”

“Kita tidak mungkin tidak menghormati Soekarno, beliau sebagai pahlawan besar, kita hormati. Tetapi, kebesaran Pak Karno demi bangsa Indonesia jangan kemudian direduksi disederhanakan hanya melewati partai. Itu namanya pengkerdilan. Pak Karno bikin negara ini ya untuk semua bangsa, bukan untuk PDIP saja, bukan untuk partai-partai marhaenis saja, dan juga bukan untuk partai-partai Soekarnoisme saja,” terangnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here