Gus Baha: Ada Empat Hal yang Lebih Baik dari Surga, Apa Saja Itu?

232
Gus Baha. (Foto: narasi)

Jakarta, Muslim Obsession – Surga adalah gambaran sebuah keindahan dari nikmat yang diberikan Allah SWT kepada hamba yang shalih. Karena begitu nikmatnya surga, maka semua umata Islam ingin mendapatkan kenikmatan untuk masuk dalam surganya Allah.

Meski surga itu indah dan begitu nikmat, namun kata KH Bahauddin Nur Salim atau Gus Baha, surga bukan tempat yang paling baik. Ada hal yang lebih baik dari surga itu sendiri. Penjelasan ini kata Gus Baha ada dalam kitab Nashoihul Ibad Maqolah. Lalu apa yang lebih indah dari surga?

“Pertama, keabadian di surga lebih baik dari surga itu sendiri. Artinya, panjangnya durasi seseorang di surga itu lebih nikmat daripada wujud surga itu sendiri. Jika seseorang hanya sehari di surga, itu akan amat tersiksa,” kata Gus Baha dalam kajian “Jangan Mengeluh, Nanti Rezekimu Tambah Seret” di kanal Youtube Santri Gayeng.

Kedua, pelayanan malaikat terhadap penghuni surga. Dengan mendapatkan pelayanan malaikat ini menunjukkan seberapa tinggi derajat seseorang di surga. Ketiga, bersanding dengan para nabi di surga.

Bagi penduduk surga, itu lebih baik daripada surga itu sendiri. Allah berfirman dalam surat an-Nisa ayat 69:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا –

Wa may yuṭi’illāha war-rasụla fa ulā`ika ma’allażīna an’amallāhu ‘alaihim minan-nabiyyīna waṣ-ṣiddīqīna wasy-syuhadā`i waṣ-ṣāliḥīn, wa ḥasuna ulā`ika rafīqā.

“Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

“Saat seseorang berada di kampung para nabi, kampung orang-orang yang diridhai Allah, berarti kita termasuk kelompok orang yang diridhai Allah,” ujar dia.

Terakhir, yang paling penting adalah ridha Allah. Semua nikmat yang paling besar di dunia dan akhirat adalah ridha Allah. Seseorang bisa diridhai Allah asalkan dia ridha terhadap Allah.

Allah berfirman dalam surat Al-Mujadilah ayat 22:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ يُوَاۤدُّوْنَ مَنْ حَاۤدَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَوْ كَانُوْٓا اٰبَاۤءَهُمْ اَوْ اَبْنَاۤءَهُمْ اَوْ اِخْوَانَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ كَتَبَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْاِيْمَانَ وَاَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِّنْهُ ۗوَيُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُۗ اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ

Lā tajidu qaumay yu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhiri yuwāddụna man ḥāddallāha wa rasụlahụ walau kānū ābā`ahum au abnā`ahum au ikhwānahum au ‘asyīratahum, ulā`ika kataba fī qulụbihimul-īmāna wa ayyadahum birụḥim min-h, wa yudkhiluhum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, raḍiyallāhu ‘an-hum wa raḍụ ‘an-h, ulā`ika ḥizbullāh, alā inna ḥizballāhi humul-mufliḥụn.

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu, dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.”
(Albar)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here